RM.id Rakyat Merdeka - Direktur Kelembagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Prof. Dr. Mukhamad Najib STP, MM menyoroti rendahnya minat belajar anak-anak Indonesia untuk mempelajari kelompok ilmu sains, teknologi, engineering (rekayasa), dan matematika (STEM).
Mengacu data World Bank tahun 2020, jumlah lulusan STEM di Indonesia hanya 18,47 persen. Tertinggal dibanding China (40 persen), Malaysia (37,19 persen), Rusia (37 persen), Jerman (36 persen), Singapura (34,3 persen), India (30 persen), Thailand (27,31 persen), dan Vietnam (23,38 persen).
Proporsi program studi STEM hanya 31 persen. Sementara non STEM mencapai 69 persen. Dengan perbandingan mahasiswa STEM 2,8 juta orang, non STEM 6,1 juta orang.
"Kita banyak melahirkan ilmuwan politik dan sosial. Kalau debat energi, kayaknya akan menang, karena kemampuan berdebatnya tinggi. Tapi yang betul-betul belajar di engineering, science, dan teknologi makin hari makin berkurang. Ini menjadi tantangan," kata Najib dalam acara Kick Off Pertamina Goes to Campus 2025 di Grha Pertamina, Jakarta, Kamis (10/7/2025).
Baca juga : Perang Lawan Israel Makin Sengit, Warga Iran Eksodus Mengungsi Ke Turki
Untuk menumbuhsuburkan peminat kelompok ilmu STEM, Najib berharap dunia industri dapat memperbanyak program internship (magang), seperti yang dilakukan Pertamina.
"Saya gembira melihat Pertamina membuka banyak internship. Semoga, ini bisa menjadi motivasi bagi anak-anak, bahwa kalau dia belajar STEM, salurannya ada. Dia bisa memperkuat kompetensinya dengan ikut internship," tutur Najib.
Najib menjelaskan, tingginya angka lulusan STEM dapat mempercepat upaya suatu negara untuk menjadi negara maju.
Dia pun mencontohkan tingginya angka lulusan STEM di kelompok negara maju seperti OECD (Organization for Economic Cooperation and Development). Saat ini, OECD terdiri dari 38 negara, antara lain Amerika Serikat, Australia, Inggris, Prancis, dan Kanada.
Baca juga : Irma Suryani Minta Pelaksanaan UKMPPD di Kemendikti Ristek Dievaluasi
Saat ini, Indonesia sedang dalam proses aksesi (penerimaan anggota) OECD.
"Di negara-negara berpenghasilan tinggi seperti OECD, lulusan STEM-nya berkisar antara 30-40 persen," ujar Najib.
"Ini inline ya, kalau kita mau jadi negara maju, kita harus mengembangkan inovasi. Inovasi membutuhkan sumber daya kreatif dari mereka yang mau belajar STEM. Tapi kalau kita lihat kenyataannya, jumlah orang yang mau belajar STEM di Indonesia terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu," urainya.
Najib melihat turunnya minat belajar STEM itu, antara lain dari makin sedikitnya kelas di level SMA yang membuka program studi IPA.
Baca juga : WNA Marak Beli Properti Pakai Kripto, Pemerintah Diminta Cek Investasi Di Bali
"Kalau dulu, pada saat saya SMA, anak-anak berbondong-bondong ingin belajar A1 (Fisika) dan A2 (Biologi). Yang mau belajar sosial hanya sedikit. Jadi kalau ada sembilan kelas, di tempat saya, lima kelasnya itu A1. Tiga kelasnya A2. A3 (Sosial) hanya satu kelas. Minat siswa belajar IPA makin turun," papar Najib.
"Ini tantangan yang harus kita selesaikan. Karena kita membutuhkan talenta unggul di bidang STEM untuk menguatkan inovasi, serta riset dan development-nya. Kami di Kementerian terus berupaya membangkitkan kembali gairah anak-anak untuk belajar STEM," pungkas lulusan IPB kelahiran 23 Juni 1976.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.