RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) menyoroti rendahnya kepemilikan jaminan hari tua di kalangan lanjut usia (lansia) di Indonesia.
Kondisi ini dikhawatirkan akan memperbesar jumlah sandwich generation, yaitu kelompok usia produktif yang menanggung beban ekonomi dua generasi sekaligus—anak dan orang tua.
Sekretaris BKKBN, Budi Setiyono, mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) dan BPJS Ketenagakerjaan yang menyebutkan, hanya 5 persen lansia memiliki perlindungan sosial di masa tua. “Artinya, 95 persen lansia bergantung pada anak untuk memenuhi kebutuhan hidup,” ujarnya di Samarinda, Minggu (10/8/2025).
Baca juga : Ada Yang Dukung, Ada Yang Minta Kaji Dahulu
Menurutnya, ketergantungan ini memperberat beban generasi produktif. “Anak tidak boleh lagi dianggap sebagai investasi atau jaminan hari tua orang tua. Pandangan lama ini harus kita luruskan. Kalau dibiarkan, produktivitas generasi muda akan terganggu,” katanya.
Dijelaskan, dalam siklus hidup, seseorang umumnya melewati tiga fase: belum produktif (0–14 tahun), produktif (15–60 tahun), dan pascaproduktif (di atas 60 tahun). Idealnya, pada fase produktif, seseorang fokus memenuhi kebutuhannya sendiri. Namun, banyak yang harus menanggung beban ganda, bahkan ada yang merangkap tiga, termasuk untuk kakek-nenek atau kerabat lain.
“Dari bawah ditanggung, dari atas juga ditanggung. Kalau ini terus terjadi, kita kehilangan potensi generasi produktif,” terangnya.
Baca juga : Sambut 2029, NasDem Rangkul Generasi Muda
BKKBN mendorong negara hadir memperkuat perlindungan sosial bagi lansia, sehingga tidak seluruhnya bergantung pada anak. Kebijakan ini menjadi bagian dari visi Indonesia Emas 2045. Saat ini, BKKBN tengah menyiapkan program bimbingan teknis dan menghidupkan kembali Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IPKB) untuk memperluas edukasi hingga tingkat akar rumput.
Budi juga mengajak media berperan aktif membangun pemahaman publik. “Dengan kolaborasi semua pihak, kita bisa membangun perspektif bersama demi masa depan yang lebih sejahtera dan setara,” tukasnya.
Sementara itu, Dosen Departemen Sosiologi Universitas Airlangga, Nur Syamsiyah menilai, fenomena sandwich generation lahir dari budaya berbakti pada orang tua yang kuat di Indonesia dan Asia. Kondisi ini kian nyata seiring meningkatnya angka harapan hidup dan kesenjangan sosial.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.