RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan, peradaban Nusantara sudah sangat maju dan menjadi pusat globalisasi sejak ribuan tahun lalu.
Dia menyebutkan bukti-bukti arkeologis dan sejarah yang menunjukkan kemajuan teknologi, seni, dan perdagangan jauh sebelum era Majapahit dan Sriwijaya.
“Majapahit itu sudah modern. Sriwijaya itu sudah modern. Bahkan sebelum itu, kita sudah memproduksi manik-manik kaca sejak abad ke-6 dan mengekspornya ke Cina, Korea, hingga Dinasti Wei,” ujar Fadli dalam forum memperingati 80 tahun kemerdekaan Indonesia bersama Great Institute, bertajuk "Polemik Kebudayaan Manusia Indonesia: Dunia Baru dan Kebudayaan Baru" di Jakarta, Kamis (14/8/2025).
Menurutnya, panel-panel di Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 menunjukkan lebih dari 200 adegan bermusik, dengan 48 jenis alat musik. Sebagian di antaranya juga ditemukan di Afrika, Asia, dan Eropa.
“Artinya, kita ini pusat globalisasi sejak dulu,” ucapnya.
Baca juga : Dahlia Poland, Sudah 2 Bulan Pisah Ranjang
Fadli menolak narasi bahwa Indonesia hanya bangsa terjajah selama 350 tahun. Dia mencontohkan, Aceh hanya dijajah beberapa tahun, dan ada wilayah yang tidak pernah dikuasai Belanda.
“Kita perlu menulis sejarah dari perspektif Indonesia. Bukan sekadar catatan penjajahan, tapi juga perlawanan,” katanya.
Dia kemudian memaparkan bahwa Perang Jawa dan perlawanan Pangeran Diponegoro dua abad lalu menjadi bukti kuat semangat perlawanan.
Saat itu, Belanda melakukan liberalisasi ekonomi, mengundang investor Eropa, dan mengeksploitasi komoditas seperti gula dan rempah.
Dalam bidang teknologi dan seni, Fadli menyebut Indonesia pada era Perunggu (300–400 SM hingga 200 M) sudah menghasilkan karya kreatif yang lebih maju dibanding periode Dong Son di Vietnam. Karya keris dan seni tempa di era Singasari, Majapahit, dan Sriwijaya dinilainya setara seni kontemporer.
Baca juga : Menegakkan Kejujuran Akademik
Dia juga menyinggung temuan lukisan gua prasejarah di berbagai daerah Indonesia. Di Maros, Sulawesi, lukisan berusia 51.200 tahun di Leang Bulu’ Sipong dianggap sebagai yang tertua di dunia, mengalahkan Eropa yang tertua sekitar 30.000 tahun.
“Yang menarik, di gua Muna ada lukisan perahu, menunjukkan nenek moyang kita sudah membuat kapal lebih dari 50.000 tahun lalu,” ujarnya.
Menurut Fadli, bukti ini menunjukkan bahwa leluhur Nusantara sudah melakukan migrasi dan perdagangan lintas samudra hingga Pasifik dan Afrika. Dia menegaskan, sejarah awal peradaban Indonesia jauh lebih panjang dari yang selama ini diajarkan.
Fadli juga mengungkapkan rencana Kementerian Kebudayaan menulis sejarah nasional dari perspektif Indonesia. Sebanyak 112 sejarawan dilibatkan dalam penulisan yang kini masuk tahap penyuntingan.
Setelah 26 tahun tidak ada penulisan sejarah resmi, dia ingin periode-periode penting seperti 1945–1949, Majapahit, Sriwijaya, Pajajaran, hingga awal peradaban ditulis komprehensif.
Baca juga : KPK Dorong Pemisahan Fungsi Penyelenggaraan dan Keuangan Haji
Di bidang diplomasi budaya, Kementerian Kebudayaan juga mendorong repatriasi artefak bersejarah dari luar negeri. “Belanda sudah berkomitmen, jika riset menunjukkan benda itu milik kita, akan dikembalikan,” jelasnya.
Fadli menutup dengan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto yang memisahkan Kementerian Kebudayaan dari kementerian lain agar fokus pada pemajuan budaya.
Dia menegaskan, kebudayaan bukan hanya seni, tetapi mencakup bahasa, sastra, manuskrip, tradisi lisan, permainan tradisional, pangan lokal, hingga warisan sejarah.
“Kita ini peradaban tua, kaya, dan sudah menjadi melting pot sejak ribuan tahun lalu. Kita harus percaya diri dan menulis narasi kita sendiri,” tegas Fadli.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.