Dark/Light Mode

Mempersiapkan Kiblat Baru Peradaban Dunia Islam (7)

Antara Universalitas Islam dan Kearifan Lokal

Minggu, 20 Juli 2025 06:04 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - SH Nasser dalam Ideal and Realities of Islam melukiskan dengan indah sinkronisasi antara nilai-nilai Islam yang bersifat universal dan budaya dan peradaban lokal. Satu sama lain tidak saling mengorbankan tetapi saling mengisi dan sangat menguntungkan untuk dunia kemanusiaan.

Menurutnya, antara keduanya tidak perlu diperhadap-hadapkan karena nilai-nilai universal Islam bersifat terbuka, dalam arti fleksibel dan dapat mengakomodir berbagai nilai-nilai lokal. Bukti keterbukaan itu, Islam dapat diterima dari Timbektu, ujung barat Afrika sampai Merauke, ujung Timur Indonesia.

Peradaban Islam adalah peradaban kemanusiaan. Disebut apa saja peradaban itu asal sejalan dengan nilai-nilai universal, atau yang biasa juga disebut ajaran dasar Islam, dapat diterima sebagai peradaban Islam.

Baca juga : Antara Kontinuitas dan Orisinalitas

Mungkin memang pada awalnya ada suatu masa penyesuaian tetapi masa itu tidak perlu terlalu lama karena esensi nilai-nilai Islam sejalan dengan asas kemanusiaan.

Tidak heran jika Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dapat menyebar ke berbagai penjuru dunia. Menurut Thomas Carlile, tidak ada seorang tokoh selain Nabi Muhammad yang mampu mengembangkan ajaran sehingga dianut hampir separuh belahan dunia.

Misi peradaban Nabi Muhammad SAW bukan memulai dari nol atau membangun sesuatu dari awal, tetapi bagaimana melestarikan yang sudah baik, mengembangkan yang masih sederhana, dan mengkreasikan sesuatu yang belum ada. Ini dipertegas dalam hadis Nabi: Innama bu’itstu li utammi makarim al-akhlaq (Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia).

Baca juga : Peradaban Islam: Iqra’ bi Ism Rabbik (Bagian 3)

Tamma berarti menyempurnakan yang sudah ada. Dan akhlaq ialah sebuah kreasi yang positif, apakah itu berupa benda atau non benda. Dengan demikian, nilai-nilai lokal tidak perlu terancam dengan kehadiran Islam.

Kearifan lokal sesungguhnya juga adalah kearifan Islam. Dalam Islam, tidak mempertentangkan antara kearifan lokal dan nilai-nilai universal, yang penting untuk mengabdi kepada kepentingan kemanusiaan.

Ketegangan konseptual terjadi mana kala nilai-nilai universal difahami secara kaku di satu sisi, sementara di sisi lain berhadapan dengan fanatisme buta penganut nilai-nilai lokal.

Baca juga : Peradaban Islam: Iqra’ bi Ism Rabbik (Bagian 2)

Pemandangan seperti ini sering terjadi tetapi biasanya dapat diselesaikan dengan kearifan tokoh penganjur kedua belah pihak. Titik temu atau jalan tengah biasanya diambil melalui persepakatan adat-istiadat setempat.

Dalam Islam, hal ini dimungkinkan karena penerapan nilai-nilai Islam tidak serta-merta harus dilakukan sekaligus. Tuhan Yang Maha Kuasa pun memberi waktu 23 tahun untuk turunnya keseluruhan ayat Al-Qur’an. Penerapan nilai-nilai Islam dikenal prinsip tadarruj, yaitu penerapan nilai-nilai secara berangsur, tahap demi tahap. Selain itu juga dikenal dengan sedikit demi sedikit (taqlil al-taklif) hingga pada saatnya menjelma menjadi nilai-nilai yang utuh.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.