RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto memastikan Pemerintah akan terus melanjutkan negosiasi tarif impor dengan Amerika Serikat (AS). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis, Indonesia bisa mendapatkan tarif nol persen untuk komoditas tertentu.
Kepastian itu disampaikan Prabowo setelah menghadiri pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Selandia Baru, Christopher Luxon, di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC di Gyeongju, Korea Selatan, Jumat (31/10/2025).
“Negosiasi masih terus berjalan,” ujar Prabowo singkat.
Dalam kesempatan itu, Prabowo menyambut baik pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dinilainya membawa ketenangan bagi ekonomi global, setelah sebelumnya kedua negara sempat terlibat perang dagang.
Senada disampaikan Airlangga. Ia mengatakan, Pemerintah akan kembali menegosiasikan tarif impor dengan Presiden AS Donald Trump usai pertemuan APEC.
“Setelah APEC Meeting, kita akan memulai negosiasi kembali pada November ini,” kata Airlangga.
Baca juga : Purbaya Cek Serapan Anggaran, Bukan Mau Ganggu Kebijakan
Langkah ini diambil menyusul keputusan AS yang menurunkan tarif dagang untuk Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Vietnam menjadi 0 persen. Sebelumnya, keempat negara ASEAN tersebut dikenai tarif resiprokal sebesar 19–20 persen.
“Sebagian besar pembahasan sudah selesai, hanya tinggal proses legal drafting,” jelas Airlangga.
Ia menambahkan, Indonesia menargetkan pembebasan tarif impor untuk komoditas tertentu, khususnya yang tidak diproduksi di AS seperti kelapa sawit, kakao, dan karet.
“Untuk komoditas-komoditas itu, kita minta diberikan tarif nol persen,” ungkapnya.
Selain sektor pertanian, pembahasan juga mencakup logam tanah jarang dan mineral kritis. Pembahasan akan dilakukan secara terpisah.
“Terkait rantai pasok global, yang kami sebut dalam joint statement sebagai industrial communities,” ujar Airlangga.
Baca juga : Airlangga Lapor ke Prabowo: Daya Tahan Ekonomi Kuat
Menurutnya, negosiasi dengan AS tidak hanya berfokus pada penurunan bea masuk, tetapi juga penghapusan hambatan non-tarif yang selama ini mengganggu kelancaran ekspor Indonesia.
“Yang 19 persen itu sudah final, tinggal mencari komoditas yang dikecualikan, tapi yang lebih banyak justru hambatan non-tarif,” katanya.
Didukung Dunia Usaha
Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira menilai, target Pemerintah menekan tarif bea masuk menjadi nol persen merupakan langkah realistis dan strategis.
“Ini peluang besar bagi pelaku usaha nasional, terutama sektor UMKM dan industri padat karya,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, Jumat (31/10/2025).
Menurutnya, kebijakan tersebut akan memperkuat posisi ekspor nasional dan membuka peluang pasar baru. “Tarif yang lebih kompetitif akan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Amerika,” tambahnya.
Baca juga : Banyak Penugasan Dari Presiden; Dulu Luhut, Kini Zulhas
HIPMI juga mengingatkan agar Pemerintah tetap menjaga keseimbangan dalam setiap kesepakatan perdagangan agar tidak merugikan industri domestik. Negosiasi harus memastikan penghapusan tarif tidak disertai syarat yang merugikan.
Sebelumnya, Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Vietnam mendapat pembebasan tarif impor dari AS untuk sejumlah komoditas ekspor. Kebijakan itu diumumkan Presiden Donald Trump di sela KTT ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur, Minggu (26/10/2025).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.