BREAKING NEWS
 

Pupuk Berbenah, Petani Tenang, Pangan Terjaga

Reporter & Editor :
MUHAMMAD RUSMADI
Selasa, 30 Desember 2025 11:11 WIB
Khairani (kedua kiri bertopi merah), saat di acara Temu Lapangan ‘Farm Field Day’, di Sungai Raya, Kandangan, Kalimantan Selatan. [Foto: Dok]

RM.id  Rakyat Merdeka - Khairani tak pernah menganggap sawah sebagai jalan pulang sementara. Sejak 1999 —tahun ia menanggalkan toga IAIN Antasari Banjarmasin, Kalimantan Selatan— laki-laki 51 tahun itu justru memilih lumpur dan musim tanam sebagai masa depan. Ketika banyak sarjana seusianya hijrah ke kota, Khairani kembali ke Kandangan, 135 kilometer dari Banjarmasin, dan menetap sebagai petani seperti ayahnya.

Di Desa Sungai Raya Selatan, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, ia menggarap 1,8 hektare lahan. Padi menjadi tanaman utama, diselingi cabai, tomat, timun, kacang panjang, buncis, hingga jagung. Dua setengah dekade berlalu, satu hal yang tak pernah berubah dalam hidup Khairani adalah ketergantungan petani pada pupuk.

Baca juga : Kecelakaan Beruntun di Tol Jepang: 2 Tewas, 26 Terluka, 20 Kendaraan Terbakar

Namun, satu hal pula yang kini benar-benar berubah. “Sekarang, berapa pun permintaan pupuk petani, selalu dipenuhi,” ujar Khairani kepada jurnalis Rakyat Merdeka, Muhammad Rusmadi. Nada suaranya ringan, seperti orang yang baru saja melepaskan beban lama. “Dulu paling banter cuma 50 persen dari kebutuhan pupuk dipenuhi.Sekarang beda sekali.”

Perubahan itu bukan semata perasaan. Ia lahir dari transformasi panjang industri pupuk nasional—sebuah kerja senyap yang jarang terlihat di ladang, tapi dampaknya terasa hingga ke petak sawah. Distribusi pupuk yang dulu berbelit, rawan langka, dan tak jarang menimbulkan kecemasan di musim tanam, kini bergerak menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan akuntabel.

Baca juga : Wakapolri Berangkatkan 1.500 Personel Untuk Penanganan Bencana Sumatera

Khairani tak lagi harus mondar-mandir mencari pupuk. Prosesnya sederhana: kebutuhan disampaikan melalui penyuluh pertanian, ditandatangani ketua kelompok tani dan kepala desa. Data petani sudah tercatat. “Pokoknya, keperluan kita disediakan, sesuai permintaan,” katanya.

Adsense

Bahkan di penghujung tahun —masa yang dulu kerap identik dengan kelangkaan— stok pupuk tetap tersedia. Ia tinggal mengambil di kios resmi di kecamatan. Persyaratannya ketat: petani harus datang sendiri atau membawa surat kuasa, menunjukkan KTP, dan berfoto. Bagi Khairani, ketertiban itu justru memberi rasa aman. Distribusi menjadi tepat sasaran, pupuk tak lagi bocor ke mana-mana.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense