BREAKING NEWS
 

Bicara QRIS Dan DEFA Di WEF Davos

Menkomdigi: Integrasi Digital Dongkrak Daya Saing ASEAN

Reporter : FAJAR EL PRADIANTO
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Kamis, 22 Januari 2026 07:00 WIB
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid saat berbicara dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Selasa (20/1/2026). Foto: Komdigi

RM.id  Rakyat Merdeka - Integrasi digital menjadi kunci untuk mendongkrak daya saing ASEAN di tengah kompetisi global. Hal itu ditegaskan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid saat berbicara dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Selasa (20/1/2026).

Meutya menjelaskan, integrasi bukan cuma soal teknologi tapi kunci kemandirian ekonomi. Saat ini Indonesia terus memacu penggunaan sistem pembayaran lintas negara melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan kesepakatan ekonomi digital demi ekosistem yang terhubung.

“QRIS telah terhubung dengan sejumlah mitra di kawasan, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand,” ujar Meutya dalam siaran persnya, Rabu (21/1/2026).

Meutya menyampaikan, ASEAN kini berada pada posisi sangat penting untuk membangun kekuatan ekonomi digital yang berdaulat secara utuh. Kerangka kerja digital yang ada sekarang menjadi dasar kuat bagi para pelaku usaha untuk mendapatkan kepastian regulasi.

Baca juga : RUU Propaganda Asing Tidak Bungkam Kritik

“ASEAN memiliki Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang menjadi sinyal bahwa ASEAN akan membangun integrasi digital,” tuturnya.

Mantan Ketua Komisi I DPR itu menyebutkan, Indonesia sangat siap bekerja sama dengan semua negara anggota untuk mempercepat transformasi digital. Dia percaya, kolaborasi ini bakal membawa kesejahteraan bagi seluruh masyarakat di kawasan karena sistem yang semakin aman dan inklusif.

“Kami percaya ASEAN mampu bersaing secara global dan menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh negara anggota,” tegas Meutya.

Politisi Golkar itu mengingatkan, perkembangan teknologi dunia tidak akan berguna kalau manfaatnya tidak bisa dirasakan semua orang.

Baca juga : Uang 2,6 Miliar Diikat Karet, Disimpan Di Dalam Karung

Dia mewaspadai risiko kesenjangan sosial yang makin lebar kalau kebijakan pengembangan keterampilan digital bagi warga tidak berjalan inklusif.

“Jika negara gagal menyiapkan warganya secara merata, transformasi teknologi justru akan meninggalkan banyak orang,” ucapnya.

Dalam sesi diskusi tenaga kerja WEF 2026, Meutya menilai, tantangan ke depan bukan soal hilangnya pekerjaan, melainkan celah antara kemampuan tenaga kerja dan kebutuhan ekonomi. Karena itu, Kemenkomdigi ikut mendorong peningkatan keterampilan berskala besar agar peluang kerja baru pada 2030 tidak terlewat begitu saja.

Adsense

“Inklusi bukan tambahan, tetapi syarat utama agar transformasi digital menghasilkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat,” katanya.

Baca juga : OSO Ajak Kader Kolaborasi Demi Pembangunan Daerah

Dia menambahkan, Pemerintah sangat memprioritaskan kebijakan yang adaptif supaya kemajuan teknologi mampu memperkuat mobilitas sosial masyarakat. Dia ingin memastikan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia tetap berjalan beriringan dengan kemampuan berpikir kritis dan kolaborasi.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense