RM.id Rakyat Merdeka - Ignasius Jonan mengajak publik memulai pengabdian dari hal sederhana. Dimulai dari tempat kita berada, gunakan yang kita punya dan berbuat yang kita bisa.
Pesan itu disampaikan Jonan dalam Jakarta Eucharistic Revival (JER) 2026 di Plenary Hall Jakarta International Convention Center, Senayan, Jakarta, Sabtu (28/2/2026).
JER 2026 digelar Keuskupan Agung Jakarta bersama Komunitas Heaven Mikael. Kegiatan ini memadukan teologi, teknologi, dan seni untuk memperdalam iman serta menjawab tantangan zaman. Ribuan umat Katolik hadir dan berinteraksi dengan para imam, biarawan-biarawati, serta tokoh awam Keuskupan Agung Jakarta.
Acara dihadiri Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, serta Ketua Panitia JER 2026 Henny Santoso. Sekitar 6.000 peserta yang sebagian besar Gen Z memadati lokasi kegiatan.
Baca juga : Praktik Dugaan Rasuah Di Bea Cukai Terstruktur
Salah satu tokoh yang tampil dalam acara itu adalah Mantan Menteri ESDM Ignasius Jonan. Selama sekitar 40 menit, Ketua Panitia Penyambutan Paus Fransiskus 2024 itu berbicara dalam tema Terlibat dan Mengabdi dalam Gereja dan Negara.
Jonan mengaku awalnya enggan hadir saat diundang panitia. Ia merasa kurang pas kalau berbicara iman dan spiritualitas. Apalagi di depan para imam dan kardinal. “Sejujurnya, saya lebih berharap duduk di belakang saja sebagai peserta,” katanya.
Bicara soal pengabdian, Jonan lalu mengutip pesan Uskup Agung Indonesia pertama Albertus Soegijapranata tentang menjadi “100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia”. Ia menilai prinsip tersebut selalu hidup dalam dirinya sebagai warga negara.
Terkait kontribusi bagi bangsa, Jonan menegaskan hal itu tidak perlu menunggu jabatan. Setiap orang dapat berkarya sesuai kapasitasnya. Mantan Menteri Perhubungan itu kemudian mengutip pernyataan petenis legendaris Amerika Serikat Arthur Ashe.
Baca juga : Pulau Bungin Disiapkan Jadi Kampung Sentra Lobster
“Start where you are. Use what you have. Do what you can. Dimulai dari tempat kita berada, gunakan yang kita punya dan berbuat yang kita bisa,” ujarnya.
Jonan mengingatkan, pengabdian jangan diawali keluhan. Ia menekankan agar tidak memulai langkah dengan menyalahkan keadaan atau negara.
“Kalau kita mulai dari keluhan, tidak akan pernah berjalan,” katanya.
Baginya, berkarya juga tidak perlu menunggu pengakuan. Ia memegang prinsip melakukan yang terbaik dalam kondisi apa pun. “Always do your best, no matter what. Always do your best, no matter the size of your audience.” ucapnya.
Baca juga : Asal Tidak Ambil Untung Seenaknya, Kader Golkar Tidak Dilarang Kelola SPPG
Jonan mengaku tidak terlalu memikirkan penilaian orang. Ada atau tidak ada tepuk tangan, pekerjaan tetap harus dilakukan maksimal. “Kalau yang melihat hanya seekor kucing, tetap lakukan yang terbaik,” ujarnya.
Ia juga menyinggung pengalamannya memimpin PT Kereta Api Indonesia hingga 2014. Sistem yang dibangun, menurutnya, tetap berjalan meski dirinya sudah tidak menjabat. “Sampai hari ini kereta tetap berjalan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Jonan turut berbagi pengalaman saat terlibat dalam kepanitiaan kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada 2024. Ia mengaku banyak tokoh non-Katolik menanyakan kunci keberhasilan penyambutan tersebut.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.