RM.id Rakyat Merdeka - Dirjen Vokasi dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Tatang Muttaqin mengatakan, program revitalisasi sekolah menengah kejuruan (SMK) mulai memberi dampak positif terhadap kualitas pembelajaran. Menurut Tatang, program tersebut juga ikut menggerakkan ekonomi masyarakat dan menyerap tenaga kerja di daerah.
Tatang menjelaskan, revitalisasi tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik sekolah. Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem pendidikan vokasi agar lebih adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja.
“Revitalisasi pendidikan vokasi tidak hanya berbicara soal pembangunan fisik. Yang paling penting adalah bagaimana membangun ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan lulusan adaptif dan multitasking,” ujar Tatang dalam bincang media di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Hadir dalam acara itu Kepala Perpustakaan Nasional Prof. Aminudin Aziz, Kepala SMKN 5 Kabupaten Tangerang Sutarwijaya, dan Kepala SMKN 5 Manokwari Khairuddin.
Tatang menjelaskan, salah satu fokus revitalisasi pada tahun 2025 adalah pembangunan ruang praktik yang memadai. Sebab, pembelajaran di SMK harus berbasis praktik dan project-based learning.
Baca juga : DKI Revitalisasi Trotoar & Jalan Di Rasuna Said
“Yang dipelajari siswa tidak berhenti di teori, tetapi menjadi produk nyata yang bisa dievaluasi dan terus diperbaiki,” cetus lulusan S3 Sosiologi University of Groningen, Belanda itu.
Dia mengungkapkan, sebelumnya sekitar 60 persen SMK mengalami kekurangan ruang praktik. Kini kondisinya mulai membaik meski dilakukan bertahap. Saat ini jumlah SMK di Indonesia mendekati 9.000 sekolah. Di sejumlah daerah, satu SMK negeri bahkan memiliki 2.000 hingga 3.000 siswa.
“Kegiatan belajar akhirnya harus dibagi sampai sore hari karena keterbatasan ruang kelas dan ruang praktik. Ini tentu memengaruhi efektivitas pembelajaran,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah terus membangun dan merevitalisasi fasilitas praktik di SMK, SLB, dan sekolah vokasi lainnya.
Menurut Tatang, dampak revitalisasi mulai terasa di lingkungan sekolah. Banyak siswa dan guru merasa lebih nyaman dalam proses belajar mengajar.
Baca juga : Menperin Bantah Isu Deindustrialisasi: Industri Serap 20 Juta Tenaga Kerja
“Hasilnya cukup baik. Banyak sekolah merasa lebih nyaman dan lebih optimal untuk proses belajar,” katanya.
Selain meningkatkan mutu pembelajaran, revitalisasi sekolah juga berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja di daerah. Sebab, pembangunan dilakukan melalui pola swakelola dan melibatkan masyarakat sekitar.
“Untuk satu sekolah saja, tenaga kerja yang terlibat bisa 22 sampai 34 orang. Jadi efek ekonominya langsung bergerak di daerah,” ucap Tatang.
Dia mengatakan, material pembangunan juga dibeli dari wilayah sekitar sekolah sehingga perputaran ekonomi lokal ikut meningkat.
Pemerintah, lanjut Tatang, memprioritaskan revitalisasi sekolah di daerah tertinggal, terluar, dan terdampak bencana. Sebab, masih banyak sekolah yang mengalami kerusakan berat dan membutuhkan penanganan cepat.
Baca juga : Dirjen Tatang: Revitalisasi Bikin Sekolah Lebih Nyaman, Ekonomi Daerah Ikut Naik
“Kami berharap ke depan tidak ada lagi sekolah rusak berat yang viral di media sosial. Jangan sampai ada sekolah yang kondisinya tidak layak untuk belajar,” tegasnya.
Tatang menambahkan, tantangan revitalisasi saat ini antara lain akses menuju daerah terpencil, persoalan administrasi lahan, dan dampak pascapandemi Covid-19.
Meski begitu, pemerintah terus mempercepat program revitalisasi dan menargetkan sebagian besar proyek tahun ini selesai pada Juli mendatang.
“Kami juga sedang mengajukan tambahan dukungan anggaran agar revitalisasi sekolah bisa menjangkau lebih banyak daerah,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.