Dark/Light Mode

Gencatan Senjata Selama 10 Hari

Lebanon Bernapas Sejenak, Israel Siaga Di Perbatasan

Sabtu, 18 April 2026 06:30 WIB
Ratusan kendaraan yang membawa warga Lebanon kembali ke kediamannya, mengular di jalan usai kabar gencatan senjata dimulai, Jumat (17/4/2026) dini hari. Foto: Reuters/Aziz Taher
Ratusan kendaraan yang membawa warga Lebanon kembali ke kediamannya, mengular di jalan usai kabar gencatan senjata dimulai, Jumat (17/4/2026) dini hari. Foto: Reuters/Aziz Taher

RM.id  Rakyat Merdeka - Gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel resmi dimulai pada Jumat dini hari (17/4/2026). Bunyi letusan senjata api, kembang api dan klakson kendaraan berpadu di Beirut, menyambut pengumuman gencatan senjata, Kamis malam (16/4/2026).

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan kelompok Hizbullah sepakat menghentikan serangan militer selama 10 hari, terhitung mulai 17 April 2026.

Namun, gencatan senjata ini dinilai rapuh. Tentara Lebanon menyatakan bahwa Israel telah melakukan pelanggaran setelah kesepakatan tersebut mulai berlaku.

Baca juga : Jangan Ada Toleransi Terhadap Premanisme

Tentara Israel dilaporkan melakukan penembakan sporadis terhadap sejumlah desa di Lebanon selatan pada Jumat pagi (17/4/2026). Pemerintah Israel menyebut aksi tersebut sebagai bentuk pembelaan diri dari serangan pasukan Hizbullah.

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menegaskan, pihaknya tidak akan menarik pasukan dari Lebanon dan akan tetap mempertahankan zona yang telah mereka kuasai.

Dikutip dari Anadolu, Jumat (17/4/2026), Netanyahu menyatakan, kehadiran militer Israel akan mencakup wilayah strategis. Mulai dari Laut Mediterania hingga perbatasan Suriah.

Baca juga : Davina Karamoy, Gandeng Tangan Ardhito Pramono

“Kami tetap berada di Lebanon. Ini sabuk keamanan yang membentang dari laut, berlanjut ke Gunung Dov dan jalur menuju Gunung Hermon, hingga ke perbatasan Suriah,” ujarnya.

Pernyataan ini disampaikan setelah Netanyahu menolak dua syarat gencatan senjata yang diajukan Hizbullah. Yakni penarikan penuh pasukan Israel ke perbatasan internasional serta prinsip “ketenangan dibalas ketenangan”.

Profesor Studi Eurasia Pusat di Indiana University Bloomington Jamsheed Choksy mengatakan, kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon sangat tentatif dan rapuh.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.