RM.id Rakyat Merdeka - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menandatangani Nota Kesepahaman dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam ajang BRIN Goes to Industry 5 di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Kerja sama ini difokuskan pada penguatan riset, eksplorasi, dan adopsi teknologi perkeretaapian, termasuk pengembangan Automatic Train Protection (ATP).
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, transformasi industri Indonesia membutuhkan sinergi yang semakin erat antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan dunia usaha.
Menurutnya, penguatan riset dan inovasi menjadi faktor penting dalam mendukung industrialisasi, meningkatkan daya saing nasional, mempercepat hilirisasi, serta menghasilkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Pemerintah juga berperan membangun ekosistem yang mendukung pengembangan teknologi dan struktur industri nasional.
Memasuki era Industry 5.0, lanjut Yuliot, pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) harus berjalan beriringan dengan penguatan sumber daya manusia dan perhatian terhadap aspek sosial.
Kolaborasi riset dan industri diharapkan mampu mempercepat transformasi ekonomi sekaligus menjawab tantangan di sektor energi, keberlanjutan, dan industri nasional.
Nota Kesepahaman dari pihak KAI ditandatangani Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa.
Penandatanganan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kerja sama BRIN dengan sejumlah pelaku industri guna mempercepat pemanfaatan hasil riset dalam kegiatan operasional dan pengembangan teknologi.
Baca juga : Bahlil Targetkan Uji Coba Tabung CNG 3 Kg Rampung Agustus 2026
Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Dr. R. Hendrian, M.Sc., menjelaskan, BRIN Goes to Industry 5 dirancang untuk memperkuat kolaborasi antara lembaga riset dan industri.
Kegiatan tersebut meliputi diskusi teknis, business matching, pameran hasil riset, serta pertemuan langsung antara peneliti dan pelaku usaha dengan melibatkan sekitar 135 industri.
Sementara itu, Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria menekankan pentingnya memastikan hasil riset dapat dimanfaatkan industri sehingga menghasilkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Menurutnya, kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan dunia usaha diharapkan mampu melahirkan inovasi yang aplikatif, meningkatkan produktivitas, membuka peluang usaha, serta mendukung pengurangan emisi dan pengelolaan lingkungan.
Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, mengatakan pengembangan ATP memerlukan tahapan kajian, pengujian, dan evaluasi yang terukur karena harus disesuaikan dengan karakteristik operasional perkeretaapian di Indonesia.
"Keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap proses adopsi teknologi di KAI. Kolaborasi bersama BRIN memberi ruang bagi kami untuk menguji berbagai alternatif teknologi berbasis riset sehingga keputusan implementasinya memiliki landasan teknis, operasional, dan keselamatan yang kuat," ujar I Gede.
ATP merupakan sistem proteksi perjalanan kereta api yang memiliki tiga fungsi utama, yakni mencegah kereta melewati sinyal berhenti (Signal Passed at Danger/SPAD), mengawasi kecepatan perjalanan, serta menyampaikan informasi operasional kepada masinis.
Sistem ini mengintegrasikan perangkat pada prasarana dengan perangkat onboard di lokomotif maupun kereta berpenggerak.
Pengembangan teknologi tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 52 Tahun 2014 tentang kewajiban implementasi Sistem Kendali Kereta Otomatis.
Baca juga : Siapkan Roadmap, Pemerintah Targetkan Persoalan Sampah Selesai 2028
Dalam skema tersebut, pengelola prasarana menentukan sistem yang dipasang pada jalur, sedangkan operator sarana memasang perangkat onboard yang kompatibel.
KAI dan BRIN akan menggunakan pendekatan Proof of Product sebagai tahap validasi sebelum menentukan teknologi ATP yang akan diadopsi.
Pendekatan ini bertujuan menguji fungsi, integrasi, dan kinerja teknologi dalam kondisi operasional yang merepresentasikan layanan KAI, sekaligus mengidentifikasi kesenjangan, memetakan risiko, serta menyusun kebutuhan penyesuaian dan mitigasi.
Validasi tersebut dinilai penting karena lingkungan operasional KAI memiliki tingkat kompleksitas tinggi, mulai dari keberagaman lalu lintas kereta, karakteristik sarana, pola operasi, kompleksitas prasarana, kebutuhan interoperabilitas, hingga penggunaan teknologi dari berbagai penyedia.
Selain itu, proses kajian juga mempertimbangkan kesiapan data, regulasi, sumber daya manusia, dan sistem pemeliharaan.
"Proof of Product memungkinkan teknologi dinilai dalam situasi operasional yang relevan. KAI dapat memahami sejak awal fungsi, antarmuka, kebutuhan integrasi, potensi risiko, serta kemampuan pemeliharaannya sebelum teknologi tersebut diterapkan dalam skala yang lebih luas," kata I Gede.
Roadmap pengembangan ATP disusun dalam tiga tahap. Tahap pertama dimulai pada Triwulan III 2026 melalui pembentukan ATP Working Group yang melibatkan KAI, Direktorat Jenderal Perkeretaapian, dan BRIN.
Tim ini akan menyusun konsep adopsi ATP, kebutuhan fungsional, roadmap implementasi, kerangka kerja konsultan, kajian keberagaman sarana dan prasarana, analisis kesenjangan, serta rekomendasi teknologi.
Bersamaan dengan itu, BRIN akan melakukan kajian terhadap kondisi operasional lokal, termasuk aspek standardisasi, cuaca, sambaran petir, dan keberlanjutan pemeliharaan jangka panjang.
Baca juga : Dukung MBG, Polri Target Bangun 1.500 SPPG Pada 2026
Tahap kedua dijadwalkan berlangsung pada Triwulan IV 2026 dengan fokus pada perencanaan Proof of Product, penyusunan kriteria desain, kebutuhan teknis, operasional, dan keselamatan, serta pelaksanaan market sounding kepada penyedia teknologi.
Selanjutnya, tahap ketiga akan berlangsung mulai Triwulan IV 2026 hingga paling lambat Triwulan II 2027.
Tahap ini mencakup validasi teknologi melalui uji lapangan, evaluasi, serta safety assessment terhadap aspek operasional maupun produk ATP pada sarana dan prasarana.
Kajian yang disiapkan meliputi teknologi ATP berbasis perangkat onboard, balise atau transponder di jalur, serta integrasi dengan sistem persinyalan.
KAI juga mengeksplorasi alternatif teknologi berbasis satelit dan komunikasi nirkabel yang masih memerlukan kajian regulasi serta kesiapan jaringan komunikasi khusus perkeretaapian.
Selain pengembangan ATP, ruang lingkup kerja sama mencakup riset dan eksplorasi teknologi, kajian kesiapan integrasi ATP pada sarana, penyusunan dokumen teknis, pembaruan kerja sama KAI-BRIN, serta penyusunan rekomendasi implementasi bersama regulator, lembaga riset, konsultan, produsen sarana, dan penyedia teknologi.
"Bagi KAI, keberhasilan kolaborasi ini akan diukur dari kemampuan riset menghasilkan keputusan teknologi yang tepat, dapat diintegrasikan dengan sistem perkeretaapian nasional, memenuhi persyaratan keselamatan, dan dapat dikelola secara berkelanjutan," ujar I Gede.
Ia menambahkan, tujuan akhir kolaborasi tersebut adalah membangun ekosistem inovasi perkeretaapian Indonesia yang semakin mandiri, adaptif, serta mampu mendukung keselamatan dan keandalan perjalanan dalam jangka panjang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.