BREAKING NEWS
 

Dari Pulau Terdepan, Wamen Fajar Ajak Siswa “Angkat Pena” Isi Kemerdekaan

Reporter & Editor :
BAMBANG TRISMAWAN
Kamis, 13 Agustus 2026 19:14 WIB
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq di atas perahu untuk menyapa siswa saat mengunjungi Pulau Belakang Padang, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (12/8/2026). Dok. Kemendikdasmen

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengajak peserta didik di wilayah terdepan Indonesia mengisi kemerdekaan dengan belajar dan menguasai ilmu pengetahuan.

Pesan tersebut disampaikan Fajar saat mengunjungi Pulau Belakang Padang, Kota Batam, Kepulauan Riau, Rabu (12/8/2026). Untuk menuju pulau tersebut, Fajar menumpang kapal kecil atau boat pancung dari Pelabuhan Pancung/Pengumpan Sekupang, Batam.

Pulau Belakang Padang merupakan salah satu wilayah terdepan Indonesia yang berhadapan langsung dengan Singapura. Dalam kunjungannya, Fajar melihat langsung aktivitas pendidikan sekaligus menyapa peserta didik di wilayah tersebut.

Fajar mengawali kegiatan dengan mengikuti Senam Anak Indonesia Hebat bersama anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kegiatan itu diikuti sejumlah satuan PAUD di Pulau Belakang Padang dan menjadi bagian dari sosialisasi tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat.

“Kami dari Kemendikdasmen melihat kegiatan anak-anak PAUD. Namanya Senam Anak Indonesia Hebat dalam rangka menyosialisasikan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat,” ujar Fajar.

Setelah senam, Fajar melepas lomba gerak jalan yang diikuti peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan, termasuk SD dan SMP. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan bulan kemerdekaan.

Menurut Fajar, kegiatan tersebut bukan sekadar perlombaan. Lebih penting, kegiatan bersama dapat menumbuhkan semangat kebersamaan dan persatuan di kalangan peserta didik.

“Bukan soal lombanya. Menang kalah itu biasa, tetapi soal kebersamaannya dan semangat membangunnya,” katanya.

Pulau Terdepan, Pendidikan Jadi Kunci

Fajar mengatakan, posisi Pulau Belakang Padang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan Singapura. Kondisi tersebut membuat penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan menjadi semakin penting.

Baca juga : Wamen Fajar: PAUD Bukan Lagi Suplemen, Tapi Fondasi Pendidikan Nasional

“Pulau Belakang Padang ini adalah teras depannya Indonesia karena berhadapan langsung dengan negara Singapura,” ujarnya.

Karena itu, Fajar mengajak para siswa memaknai kemerdekaan dengan cara belajar sungguh-sungguh dan menguasai ilmu pengetahuan.

Ia membandingkan perjuangan generasi terdahulu dengan perjuangan generasi saat ini dalam mengisi kemerdekaan.

“Kalau dulu pahlawan menggunakan bambu runcing untuk mengusir penjajah, hari ini adik-adik untuk membuktikan kemerdekaan adalah dengan mengangkat pena. Artinya, kita sungguh-sungguh belajar dan menguasai ilmu pengetahuan,” tutur Fajar.

Dialog dengan Siswa Pendidikan Jarak Jauh

Setelah dari Pulau Belakang Padang, Fajar melanjutkan kunjungan ke SMA Negeri 20 Kota Batam. Sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah mitra penyelenggara Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di Provinsi Kepulauan Riau.

Dalam kunjungan tersebut, Fajar berdialog dengan sejumlah siswa PJJ, di antaranya Nuroya dan Syafira. Keduanya menceritakan pengalaman mengikuti pembelajaran jarak jauh yang dinilai lebih fleksibel dan dapat menyesuaikan kondisi serta waktu siswa.

Syafira mengatakan, pembelajaran PJJ membuatnya dapat kembali melanjutkan pendidikan setelah sebelumnya berhenti sekolah karena kondisi ekonomi dan harus membantu keluarga.

Adsense

“Rasanya seru banget. Apalagi belajarnya asyik, fleksibel, dan gurunya baik. Penjelasannya jelas dan diberikan secara detail,” kata Syafira.

Menurut dia, jadwal pembelajaran juga disesuaikan dengan kondisi siswa. Jika tidak dapat mengikuti pembelajaran, siswa dapat berkomunikasi dengan guru untuk mendapatkan materi.

Baca juga : Sinergi Polri, TNI dan BIN Diyakini Lancarkan Perayaan HUT ke-81 RI

“Kita tidak belajar setiap hari, tetapi sesuai waktu kita. Kalau tidak bisa masuk, kita bisa izin dan bertanya materi kepada guru lewat WhatsApp,” ujarnya.

Syafira mengungkapkan dirinya mengikuti PJJ karena kondisi ekonomi keluarga. Orangtuanya berjualan es cendol sehingga ia harus membantu keluarga.

“Saya mengikuti PJJ karena faktor ekonomi dan harus membantu keluarga. Orangtua berjualan es cendol,” ungkapnya.

AI Bukan Pengganti Guru

Dalam kunjungan yang sama, Fajar juga berdialog dengan jurnalis pelajar SMA Negeri 20 Kota Batam, Alya dan Firli. Salah satu topik yang dibahas adalah penggunaan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dalam pembelajaran.

Fajar mengatakan, perkembangan AI merupakan bagian dari kemajuan teknologi yang tidak dapat dihindari. Namun, teknologi tersebut harus digunakan secara bijak dan ditempatkan sebagai alat bantu pembelajaran.

“AI menjadi perangkat teknologi yang susah dihindari. Yang paling penting adalah menempatkan AI sebagai alat bantu, bukan menggantikan peran manusia atau guru. Kalau kita bisa bijak menggunakan AI, kita bisa cepat mendapatkan ilmu pengetahuan,” jelasnya.

Menurut Fajar, penggunaan AI juga harus diimbangi kemampuan berpikir kritis. Peserta didik perlu memeriksa kembali informasi yang diperoleh dari AI karena tidak seluruh informasi yang dihasilkan teknologi tersebut dapat dipastikan benar.

“Meski AI penting, kita harus punya kemampuan berpikir kritis. Karena ada juga informasi AI yang seakan-akan itu benar, namun sebenarnya tidak,” katanya.

Selain berpikir kritis, Fajar menilai peserta didik perlu memiliki kepekaan nurani. Kemampuan tersebut, menurut dia, menjadi pembeda penting antara manusia dan teknologi AI.

Baca juga : Semarak Lomba Kemerdekaan di Terminal Kampung Rambutan

“Yang kedua, kita punya sensitivitas atau kepekaan nurani. AI tidak memiliki hal itu,” ujarnya.

STEAM Didorong Sejak Dini

Fajar juga menekankan pentingnya penguatan sains, teknologi, engineering, arts, dan mathematics (STEAM) sejak usia dini.

Menurutnya, penguasaan STEAM diperlukan untuk membangun kemampuan masyarakat dalam berpikir berbasis data dan pengetahuan. Hal tersebut menjadi salah satu fokus pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

“Bapak Presiden mendorong agar STEAM menjadi prioritas. Salah satu kelemahan kita adalah berpikir berbasis data dan ilmiah,” kata Fajar.

Karena itu, pemerintah mendorong pengenalan dan penguatan STEAM sejak usia dini sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang mampu menghadapi perkembangan zaman.

“Itulah cara kita berupaya membangun masyarakat berdasarkan pengetahuan,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense