BREAKING NEWS
 

Kemenhut Perkuat Deteksi Dini Karhutla, 73 Hotspot Terdeteksi di Kalsel

Reporter : AHMAD LATHIF ROSYIDI
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Minggu, 16 Agustus 2026 11:28 WIB
Foto: Kemenhut.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat sistem deteksi dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan setelah pemantauan Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SIPONGI) mendeteksi 73 titik panas atau hotspot pada 12 Agustus 2026.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 14 titik terdeteksi berada di areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH). Kemenhut meminta para pemegang PBPH segera melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi aktual dan mencegah potensi kebakaran meluas.

Temuan ini menjadi perhatian Kemenhut karena musim kemarau dapat meningkatkan risiko karhutla. Pemerintah pun mendorong penguatan koordinasi dengan pemegang PBPH sebagai bagian dari upaya pencegahan dan respons cepat.

Penguatan sistem deteksi dini dan respons cepat tersebut sejalan dengan arah kebijakan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dalam memperkuat perlindungan hutan berbasis data dan kolaborasi multipihak.

Pencegahan karhutla, menurut Kemenhut, tidak hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar, tetapi dimulai dari kemampuan mendeteksi potensi ancaman sedini mungkin.

Baca juga : Titik Api TNBTS Padam, Petugas Lanjutkan Pendinginan dan Penyisiran

Sebagai pelaksana teknis di daerah, Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah XI Banjarbaru secara berkala memantau hotspot pada areal PBPH.

Informasi hasil pemantauan kemudian disampaikan kepada pemegang PBPH untuk segera diverifikasi di lapangan dan ditindaklanjuti apabila ditemukan indikasi kebakaran.

Berdasarkan pemantauan SIPONGI Kemenhut menggunakan satelit NASA-NOAA20 pada 12 Agustus 2026, sebanyak 73 titik hotspot teridentifikasi di Provinsi Kalimantan Selatan dengan tingkat kepercayaan (confidence) kategori medium.

Adsense

Dari total tersebut, 14 titik berada di areal PBPH. Rinciannya, enam titik berada di areal PT Inhutani I Unit Pelaihari, enam titik di areal PT Dwima Intiga, satu titik di areal PT Hutan Rindang Banua, dan satu titik di areal PT Prima Multibuana.

Seluruh informasi tersebut telah diteruskan kepada masing-masing pemegang PBPH untuk segera dilakukan pengecekan dan verifikasi kondisi aktual di lapangan.

Baca juga : Anak Gajah Yuna Mati Mendadak, Kemenhut Duga Terpapar Virus EEHV

Dalam proses tersebut, BPHL Wilayah XI Banjarbaru juga mendorong koordinasi antarpengelola kawasan yang memiliki keterkaitan secara spasial.

Kepala BPHL Wilayah XI Banjarbaru Wahyu Nurhidayat mengatakan, informasi hotspot merupakan instrumen penting dalam sistem peringatan dini karena memungkinkan potensi kebakaran ditangani sebelum berkembang menjadi lebih luas.

"Setiap titik panas yang teridentifikasi di dalam areal kerja PBPH perlu segera diverifikasi di lapangan. Informasi hotspot merupakan bagian dari sistem peringatan dini agar potensi kebakaran dapat diketahui dan ditangani sejak tahap awal," ujar Wahyu.

Namun, Wahyu menegaskan keberadaan hotspot tidak secara otomatis menunjukkan telah terjadi kebakaran. Hotspot merupakan indikator adanya anomali suhu yang tetap membutuhkan pemeriksaan langsung di lapangan.

"Prinsipnya, jangan menunggu api membesar. Ketika terdapat informasi hotspot di dalam atau di sekitar areal kerja, segera lakukan pengecekan. Jika ditemukan indikasi kebakaran, lakukan penanganan awal dan berkoordinasi dengan pihak terkait sesuai ketentuan," tegasnya.

Baca juga : Dibantu Warga, Kemenhut Berhasil Tangkap Harimau Sumatera Dekat Sekolah di Agam

Karena itu, setiap informasi hotspot harus segera ditindaklanjuti melalui pengecekan lapangan. Langkah tersebut diperlukan untuk membedakan anomali suhu dengan kejadian kebakaran sekaligus mempercepat respons apabila memang ditemukan api.

BPHL Wilayah XI Banjarbaru juga terus mendorong seluruh pemegang PBPH meningkatkan kesiapsiagaan melalui penguatan patroli, kesiapan personel, sarana dan prasarana pengendalian karhutla, serta percepatan respons terhadap setiap informasi hotspot maupun laporan indikasi kebakaran.

Pendekatan tersebut menempatkan pemantauan satelit sebagai bagian awal dari rangkaian pencegahan karhutla. Informasi yang diperoleh selanjutnya diteruskan kepada pengelola kawasan, diverifikasi di lapangan, dan diikuti tindakan apabila ditemukan indikasi kebakaran.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense