BREAKING NEWS
 

Cegah Risiko Sebelum Masuk Indonesia

Barantin Transformasi Karantina Ikan Dengan Sistem Pre-Border

Reporter : HAIKAL AMIRULLAH
Editor : FAQIH MUBAROK
Rabu, 2 September 2026 07:39 WIB
Courtesy Bilateral Meeting antara Badan Karantina Indonesia dengan Negara Uruguai, tgl 21 Juli 2025 di Jakarta. Foto: Barantin

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Karantina Indonesia (Barantin) melakukan transformasi sistem perkarantinaan ikan dengan menerapkan tindakan karantina pre-border, yaitu pengendalian risiko sejak komoditas masih berada di negara asal sebelum dikirim ke Indonesia.

Langkah ini menjadi bagian dari inovasi SAFE FISH (Safe Fish, Secure Food): Pre-Border Quarantine Transformation for Indonesia's Food Security yang dirancang untuk memperkuat biosekuriti nasional sekaligus mempercepat dan mengefisienkan proses penanganan impor ikan dan produk perikanan.

Baca juga : IBSW Dukung Sinergi BPJPH dan Barantin Perkuat Pengawasan Produk Halal Impor

Inovasi SAFE FISH mengubah pola pengawasan dari pemeriksaan di pintu masuk menjadi pengendalian risiko sejak negara asal.

“Kita tidak lagi hanya menunggu komoditas tiba di pintu masuk untuk kemudian diperiksa. Risiko harus kita kelola sejak dari negara asal,” ujar Direktur Manajemen Risiko Karantina Ikan Barantin, Sugeng Sudiarto dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).

Baca juga : BPJPH-Barantin Sinergikan Tugas Dan Fungsi Perkuat Pengawasan Komoditas

Menurut Sugeng, pendekatan tersebut diperlukan karena lalu lintas impor ikan dan produk perikanan ke Indonesia cukup tinggi. Sepanjang 2025 tercatat 9.385 kali kegiatan impor ikan dan produk ikan.

Tingginya frekuensi impor tersebut membutuhkan sistem karantina yang mampu bekerja lebih cepat dan tepat. Di sisi lain, pemeriksaan yang sepenuhnya dilakukan di pintu masuk menghadapi keterbatasan sarana dan teknologi, terutama untuk mendeteksi hama dan penyakit ikan yang tidak terlihat secara fisik.

Baca juga : FKS Multi Agro: MBM yang Dimusnahkan Pemerintah Bukan Produk Milik Perusahaan

“Kalau seluruh pengendalian risiko baru dilakukan ketika komoditas sudah tiba di Indonesia, potensi penumpukan pemeriksaan dan inefisiensi waktu maupun biaya logistik akan semakin besar,” jelas Sugeng.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense