Dark/Light Mode

Barantin-FAO Bikin Benteng Biosekuriti Lawan Penyakit Hewan Lintas Batas

Kamis, 9 Juli 2026 09:08 WIB
Peluncuran program FAO Technical Cooperation Programme (TCP/INS/4101) – Strengthening Animal Quarantine Risk Management through Integrated Assessment and Response Toward Agri-Threats yang diawali dengan Inception Workshop di Jakarta, Selasa (7/7/2026). Foto: Barantin
Peluncuran program FAO Technical Cooperation Programme (TCP/INS/4101) – Strengthening Animal Quarantine Risk Management through Integrated Assessment and Response Toward Agri-Threats yang diawali dengan Inception Workshop di Jakarta, Selasa (7/7/2026). Foto: Barantin

RM.id  Rakyat Merdeka - Ancaman penyakit hewan lintas batas yang semakin mengintai ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan perdagangan internasional mendorong Badan Karantina Indonesia (Barantin) bergerak memperkuat benteng biosekuriti nasional.

Menggandeng Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), Barantin meluncurkan program penguatan manajemen risiko karantina hewan berbasis sains dan teknologi untuk mencegah masuknya penyakit berbahaya ke Indonesia.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui peluncuran program FAO Technical Cooperation Programme (TCP/INS/4101) – Strengthening Animal Quarantine Risk Management through Integrated Assessment and Response Toward Agri-Threats yang diawali dengan Inception Workshop di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Program senilai 200.000 dola AS dari FAO itu menjadi fondasi penguatan sistem biosekuriti nasional agar lebih tangguh menghadapi ancaman penyakit hewan lintas negara.

Baca juga : Persatuan Indonesia Hadirkan Ruang Belajar Dan Pelatihan Gratis untuk Anak Muda

Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, menegaskan sistem karantina Indonesia tidak lagi cukup hanya mengandalkan pemeriksaan di pintu masuk dan keluar negara.

Pesatnya arus perdagangan global serta meningkatnya mobilitas manusia, hewan, dan komoditas menuntut sistem pengawasan yang lebih modern, cepat, dan berbasis analisis risiko.

"Barantin tidak ingin menjadi bottleneck di perbatasan. Namun, percepatan arus barang juga tidak boleh mengorbankan keamanan hayati Indonesia. Karena itu, kami terus membangun sistem karantina yang modern, berbasis risiko, berbasis data, dan selaras dengan standar internasional agar mampu melindungi ketahanan pangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Karding.

Ia mengingatkan ancaman Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK), penyakit hewan lintas batas, penyakit zoonosis, hingga spesies asing invasif dapat memicu kerugian ekonomi besar, menurunkan produktivitas peternakan, menghambat ekspor, bahkan mengancam kesehatan masyarakat.

Baca juga : Jangan Tunggu Rusak Parah, Baru Bertindak

Menurut Karding, perlindungan kesehatan hewan menjadi kepentingan strategis mengingat sekitar 23 juta rumah tangga Indonesia menggantungkan mata pencahariannya pada sektor peternakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023.

Melalui program tersebut, Barantin dan FAO akan memperkuat kapasitas nasional melalui tiga langkah utama, yakni meningkatkan kemampuan petugas karantina dalam analisis risiko sesuai standar internasional, membangun sistem digital terintegrasi untuk pemetaan HPHK, surveilans, analisis risiko dan Early Warning System (EWS), serta memperluas komunikasi risiko kepada masyarakat agar upaya pencegahan penyakit dapat dilakukan secara kolektif.

Kepala Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menegaskan ancaman penyakit hewan lintas batas hanya dapat dihadapi melalui kolaborasi lintas sektor dengan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan.

"Sistem karantina hewan merupakan garda terdepan dalam melindungi negara dari ancaman penyakit lintas batas. FAO berkomitmen mendukung Barantin memperkuat kapasitas analisis risiko berbasis teknologi digital agar Indonesia semakin siap menghadapi berbagai ancaman, sekaligus menjaga keamanan perdagangan, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan ekosistem," kata Aryal.

Baca juga : Bank Mandiri Taspen Bikin Masa Pensiun Koeswanto Tenang dan Tetap Produktif

Lokakarya perdana program dihadiri perwakilan kementerian dan lembaga, akademisi, organisasi profesi, serta berbagai pemangku kepentingan sebagai langkah awal memperkuat sinergi nasional dalam membangun sistem karantina hewan yang terintegrasi.

Barantin menilai penguatan biosekuriti bukan sekadar upaya mencegah masuknya penyakit hewan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk meningkatkan kepercayaan negara tujuan ekspor terhadap komoditas Indonesia sekaligus memperkuat daya saing nasional.

Kolaborasi Barantin dan FAO diharapkan melahirkan sistem perkarantinaan berkelas dunia yang adaptif, berbasis risiko, dan mampu menjaga ketahanan pangan, melindungi kesehatan masyarakat, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.