RM.id Rakyat Merdeka - Rentetan bencana yang melanda sejumlah wilayah di tanah air berdampak ke segala sektor, termasuk ekonomi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui, ada gangguan terhadap pertumbuhan ekonomi, tapi tidak signifikan.
"Pertumbuhan ekonomi harusnya sih ada gangguan dikit, tapi nggak akan sampai memperlambat ekonomi secara signifikan," ungkap Purbaya saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2026).
Setidaknya, empat bencana besar terjadi dalam sebulan terakhir. Mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah. Kemudian fenomena pemanasan suhu El Nino yang menyebabkan kekeringan ekstrem. Disusul gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Terakhir, erupsi Gunung Anak Krakatau yang berdampak terhadap aktivitas penerbangan. Delapan bandara sempat ditutup.
Bahkan di Bandara Soekarno-Hatta, tercatat 209 penerbangan yang terdiri dari 160 penerbangan domestik, 39 internasional, dan 10 penerbangan kargo dibatalkan.
Baca juga : Soal Penyitaan Aset, Kejagung Minta Hakim Tolak Praperadilan Eks Waka BGN
Purbaya memastikan anggaran penanganan bencana tersedia. Pemerintah telah menyiapkannya melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Bahkan, jika nantinya diperlukan tambahan anggaran, pemerintah siap menggelontorkannya.
"Dana pasti pertama kali masuk BNPB. Nanti kalau kebutuhan dana tambahan baru kita kasih. Mudah-mudahan nggak besar dampaknya," ulas Purbaya.
Meski perekonomian diuji dengan berbagai bencana, Purbaya menegaskan kondisi anggaran dan fundamental ekonomi nasional masih berada dalam batas aman.
Pemerintah juga meyakini target pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Baca juga : Herman Khaeron: Terlalu Jauh Dan Overestimate Itu
"Kita akan genjot di kuartal III ke kuartal IV ini," katanya.
Pandangan berbeda disampaikan ekonom senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin. Menurutnya, masih terlalu dini menyimpulkan rentetan bencana hanya berdampak kecil ke ekonomi. Apalagi bencana baru dan sedang berlangsung.
"Saya rasa, Menkeu Purbaya terlalu dini menyimpulkan bahwa pengaruh bencana terhadap ekonomi tidak signifikan," ulas Wijayanto saat dihubungi, Senin (7/9/2026).
Ia menilai bencana juga berpotensi mengerek harga pangan karena produksi pertanian terganggu. Karena itu, pemerintah harus menjaga inflasi pangan agar tidak melonjak. Sebab, kenaikan harga pangan berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat. Terlebih, kontribusi konsumsi masyarakat terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai sekitar 60 persen.
Wijayanto juga masih meragukan respons pemerintah dalam menangani berbagai bencana. Ia mencontohkan banjir besar di Sumatera yang menurutnya hingga kini belum tertangani secara maksimal. Begitu pula dampak gempa di NTT dan karhutla di sejumlah daerah.
Baca juga : Ahmad Doli Kurnia: AHY Beri Sinyal Siap Jadi Pesaing Di Pilpres
Menurutnya, respons terhadap El Nino juga tidak kalah penting. Ia menilai pemerintah daerah (pemda) belum memiliki anggaran yang memadai untuk menghadapi dampak kekeringan dan karhutla. Karena itu, pemerintah pusat perlu memperkuat dukungan fiskal kepada daerah.
"Pemerintah perlu memberikan stimulus melalui TKD agar daerah bisa bergerak. Perlu dipikirkan secara serius agar daerah di-empower, khususnya daerah yang kekeringan dan terdampak karhutla," usul Wijayanto. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.