BREAKING NEWS
 

Kabar dari Tanah Suci

Mengenal Bukit Pemanah, Saksi Bisu Perang Uhud

Reporter : NANA MAULANA
Editor : UJANG SUNDA
Minggu, 11 Mei 2025 15:03 WIB
Jabal Rumat atau Bukit Pemanah. (Foto: Nana Maulana/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Salah satu destinasi wisata religi yang kerap dikunjungi jemaah haji adalah Jabal Rumat atau Bukit Pemanah. Ini adalah suatu bukit kecil di sekitar Jabal Uhud. Lokasinya sebelah selatan Masjid Syahid Al-Shuhada atau Masjid Uhud dan Pemakaman Syuhada Uhud.

Jabal Rumat memang tidak sepopuler Jabal Uhud, tetapi secara sejarah Islam, bukit ini menjadi saksi bisu terjadinya Perang Uhud. Peperangan antara kaum Muslimin yang dipimpin Nabi Muhammad SAW, melawan tentara Kafir Quraisy. Kala itu, Khalid bin Walid yang belum memeluk Islam menjadi panglima perang pasukan Kafir Quraisy.

Pada pertempuran tersebut, umat Islam mengalami kekalahan, lantaran tidak disiplin menaati perintah Rasulullah SAW. Awalnya, Rasulullah menempatkan pasukan pemanah berada di Bukit Pemanah. Dengan lokasi tinggi dan bebatuan cocok menjadi lokasi bersembunyi dan lalu mengusir musuh dengan cara dipanah.

Saat perang berkecamuk, pasukan umat Islam dari Bukti Rumat menembakkan panah ke arah pasukan Kafir Quraisy. Serangan itu membuat pasukan Quraisy mundur dan meninggalkan harta rampasan.

Sebelum perang, Rasulullah SAW berpesan kepada pasukan pemanah yang berjumlah 50 orang itu, agar mereka tidak menuruni bukit. “Apa pun yang terjadi di bawah, kalah atau menang, janganlah kalian turun dan meninggalkan Jabal Rumat,” demikian pesan Rasulullah.

Baca juga : Bus Shalawat Inklusif Antar-Jemput Jemaah Haji Hotel-Masjidil Haram

Sayangnya, saat pasukan Quraisy mundur dan meninggalkan ghanimah atau harta rampasan dengan jumlah banyak, pasukan pemanah ini lupa instruksi Rasulullah. Mereka turun dari bukit dan berebut harta rampasan.

Tidak disangka, pemimpin pasukan Quraisy yang terkenal memiliki strategi perang tidak mundur sungguhan. Mereka memutari Jabal Uhud sepanjang tujuh kilometer lalu kembali dan menyerang kaum Muslimin dari belakang. 

Pasukan Muslimin, yang sudah tidak berada di posisinya, kewalahan hingga akhirnya mundur. Beberapa sahabat mencoba bertahan melawan gempuran Kafir Quraisy. Namun, mereka kalah jumlah dan posisi yang tidak menguntungkan.

Adsense

Akibatnya, banyak pasukan Muslimin yang wafat. Salah satunya, paman Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muthalib, yang dikenal dengan Asadullah atau singa Allah. Hamzah tak mampu menahan gempuran. Hamzah wafat akibat diserang dari belakang oleh budak Hindun. Hamzah gugur dan menjadi syuhada. Sedikitnya 70 kaum Muslim wafat dalam peperangan ini dan mereka dimakamkan di Maqbarah Uhud (kuburan Uhud).

Jabal Rumat memiliki panjang keliling sekitar 1 kilometer dengan ketinggian saat ini sekitar 10-20 meter dari dasar, karena adanya penurunan bebatuan. 

Baca juga : Demi Kenyamanan Jemaah Haji, PPIH Siapkan Bus Antarkota Spek Khusus

Pada Minggu (11/5/2025), banyak jemaah haji yang berkunjung. Tidak hanya jemaah haji Indonesia, dari negara lain juga banyak. Meskipun matahari terik, mereka menaiki bukit tersebut dan banyak pula yang memanfaatkannya untuk berswafoto.

Sebeleh utara Bukit Pemanah, terdapat Pemakaman Syuhada Uhud. Di sana para syuhada perang Uhud dimakamkan. Banyak jemaah haji yang berziarah. Mereka memanjatkan doa dan bertahlil. Ada yang berjamaah, ada juga yang sendirian.

Pembimbing Ibadah dari Kloter 14 Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS-14) Ani Rosidah, yang sedang mendampingi kloternya menjelaskan, kedatangan jemaah haji ke area Pemakaman Syuhada Uhud untuk berziarah. Selain itu, kunjungan ke Bukit Pemanah bisa mengingat perjuangan para syuhada Islam.

"Kita datang untuk mendoakan para syuhada Uhud. Selain itu, kita mengambil ikhtibar (pelajaran) dari peristiwa ini," kata Ani, saat ditemui tim Media Center Haji (MCH), di sekitar area Pemakaman Syuhada Uhud, Minggu (11/5/2025).

Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kementerian Agama Kabupaten Cianjur mengatakan, salah satu pelajaran dari yang terjadi di Bukit Pemanah ini adalah harus mengikuti perintah Rasulullah SAW. "Seandainya saat itu perintah Rasulullah diikuti, tidak turun ke bawah, mungkin umat Islam tidak kalah. Tapi itu sudah berlalu," kata Ani.

Baca juga : KKHI Bagikan Masker ke Jemaah Haji, Cegah Penyakit Menular

Dia menuturkan, biasanya jemaah haji berkunjung di area ini sekitar 30 menit. Namun, melihat situasi dan kondisi. "Kadang masih ada yang ziarah, ada yang foto-foto. Tapi sekitar 30 menit, karena ada beberapa kunjungan," tutur Ani.

Ani mengimbau kepada jemaah haji untuk tidak mengambil pasir dari Bukit Pemanah ini. Dia khawatir jemaah haji menganggap itu bagian dari ibadah.

"Saya menganjurkan tidak melakukan hal-hal seperti itu. Karena itu nantinya bisa mengandung syirik (menyekutukan Allah SWT). Kita sudah sampaikan itu saat manasik," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense