RM.id Rakyat Merdeka - ep Ahmad Sayuti (53 Tahun), jemaah haji asal Ciparay, Kabupaten Bandung, sedang sangat bahagia. Dia berangkat ke Tanah Suci bersama istri, Neng Nurjannah, serta dua putrinya: Nasywa Raudhatul Azka (21 tahun) dan Alya Laily Afifah (19 tahun).
Aep dan keluarga tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 7 Embarkasi Kertajati (KJT-7). Saat ini, mereka sedang berada di Madinah untuk memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi, ziarah ke makam Rasulullah, serta berdoa di Raudhah. Selama di Tanah Suci, mereka selalu bersama-sama.
Menurut Aep, melaksanakan rukun Islam kelima ini bukan sekadar perjalanan ibadah saja. Melainkan, mimpi yang sudah lama didambakan. Jauh sebelum ini, Aep memang memiliki target bisa berangkat haji dengan keluarganya.
"Semua orang menginginkan ini. Siapa yang tidak mau berangkat haji bersama keluarga," ucapnya.
Aep sebenarnya bukan dari kalangan kaya raya. Namun, dia bertekad bisa menghajikan anak-anaknya di usia muda. "Karena ibadah haji itu ibadah fisik, lebih baik dilakukan saat masih muda dan kuat,” imbuhnya.
Sebenarnya, di 2022, Aep sudah mendapatkan porsi untuk berangkat bersama istrinya. Sayangnya, waktu itu pandemi Covid-19 melanda. Aep pun batal berangkat.
Baca juga : Efisiensi Anggaran Lanjut Tahun Depan
Ternyata, hal ini justru membawa hikmah tersendiri bagi Aep dan keluarga. Setelah peristiwa itu, Aep menyusun strategi agar anak-anaknya bisa ikut di tahun yang sama dengannya. Di 2024, dia sempat gagal karena masalah usia administrasi, usia Alya Laily Afifah belum memenuhi syarat.
Akhirnya, tahun ini, Aep dan keluarga bisa berangkat bersama. Aep pun sangat senang. “Itu karunia dari Allah SWT yang tak bisa saya ukur. Rasanya luar biasa bisa berhaji berempat,” ungkapnya, dengan mata berkaca-kaca.
Sebenarnya, tambah Aep, kondisi ekonomi keluarganya pascapandemi cukup memprihatinkan. Namun, dia tidak menyerahkan untuk bisa berangkat haji bersama-sama.
“Saya tidak punya deposito besar, tapi Allah beri jalan. Saya usaha kecil-kecilan, tapi cukup. Bisa berangkat tanpa jual apa pun,” ucapnya.
Aep sebenarnya masih punya dua anak lagi. Namun, mereka masih kecil. Bahkan, yang satu masih kelas 4 SD.
"Kalau ada rezeki, saya ingin terus dampingi mereka ke sini. Biar mereka belajar langsung. Karena haji ini juga proses pendidikan ruhani dan kedewasaan,” ucapnya.
Baca juga : 1.000 Kampung Merah Putih, Agar Nelayan Naik Kelas
Alya juga amat bahagia. Menurutnya, berangkat haji bersama orang tua adalah pengalaman terabit yang tak terlupakan. “Ini hal langka, bisa ke sini bareng-bareng, ibadah sama orang tua,” ucapnya. Namun, dia juga sedikit sedih, karena kedua adiknya tidak bisa ikut berangkat.
Dalam pelaksanaan ibadah, Alya banyak belajar dan dibimbing langsung oleh orang tuanya sebelum berangkat. Termasuk menghafal doa-doa, tata cara tawaf, dan makna ibadah yang dijalankan.
“Orang tua saya selalu ingatkan, kalau ke sini itu bukan jalan-jalan, tapi harus serius untuk ibadah,” ucapnya.
Saat pulang ke Tanah Air nanti, Alya berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi panutan untuk adik-adiknya. “Saya ingin jadi wanita yang lebih salehah dan bisa membanggakan umi dan jadi contoh yang baik,” ungkapnya.
Lansia Adik-Kakak Haji Bersama
Kisah berangkat haji bareng keluarga juga dialami kakak-adik yang sudah lanjut usia (lansia) asal Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Mereka adalah Nenek Patmi Kasjiman (73 tahun) dan Nenek Painah Kasmijan (70 tahun).
Nenek Patmi sudah mendaftar haji sejak 2013. Sementara Nenek Painah mendaftar pada 2017. Nenek Painah lalu mengajukan diri sebagai pendamping Nenek Patmi. Keduanya pun bisa berangkat bersama tahun ini.
Baca juga : Begini Cara Anak Muda Mengkomunikasikan Geothermal
"Dia (Painah) kepengen ikut. Ditanyakan boleh (mengajukan diri sebagai pendamping)," ujar Nenek Patmi, menerangkan.
"Katanya kalau sebapak kandung, mama kandung, boleh. Lagi pun aku sudah puluhan tahun," timpal Nenek Painah.
Keduanya bahagia diberi kesempatan berhaji meski di usia senja. Mereka juga bersyukur masih diberi kesehatan dan keselamatan oleh Allah SWT untuk bisa menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
Untuk menjaga kesehatan. keduanya rajin berjalan kaki saat beraktivitas ke mana-mana, termasuk Salat Subuh ke masjid dekat rumah mereka. "Rumahnya kan berdampingan," ujar Painah.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.