Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sri Mulyani: Dunia Dibayangi Ketidakpastian
Efisiensi Anggaran Lanjut Tahun Depan
Rabu, 21 Mei 2025 08:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan Sri Mulyani resmi menyampaikan kerangka kebijakan ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM PPKF) tahun 2026 ke DPR. Dalam kerangka kebijakan itu, Sri Mulyani menyinggung kondisi dunia yang dibayangi ketidakpastian. Makanya, ekonom jebolan Universitas Indonesia itu membuka opsi, efisiensi anggaran bakal berlanjut tahun depan.
Pernyataan itu disampaikan Sri Mulyani dalam pidatonya di Rapat Paripurna DPR ke-18 Masa Persidangan III, Senayan, Jakarta, Selasa (20/5/2025). Dokumen KEM PPKF yang dibacakan Sri Mulyani, nantinya akan menjadi bahan pembahasan awal penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026.
Menurut Sri Mulyani, KEM PPKF telah disusun dengan mempertimbangkan berbagai dinamika global saat ini. Pemerintah, kata dia, akan memonitor berbagai langkah-langkah efisiensi dalam penyusunan RAPBN 2026, dengan mengevaluasi realisasi tahun ini.
Perempuan berusia 62 tahun ini menyinggung kondisi dunia yang dibayangi ketidakpastian. “Hal ini terjadi akibat persaingan dan perang ekonomi, perang dagang, perang keuangan dan bahkan perang militer antar negara,” kata Sri Mulyani.
Baca juga : 1.000 Kampung Merah Putih, Agar Nelayan Naik Kelas
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menyebut, perang dagang yang eskalatif dan ketidakpastian arah kebijakan ekonomi dunia ke depan telah memperburuk situasi perekonomian dunia yang sudah rapuh sejak awal tahun. Jika dibandingkan dengan data di triwulan yang sama tahun lalu, beberapa negara sudah mulai mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi di triwulan I tahun ini.
Dia mengambil contoh Korea Selatan (Korsel) yang terkontraksi 0,1 persen secara tahunan. Ini pertama kalinya Negeri Gingseng mengalami pelemahan sejak pandemi Covid-19 tahun 2020. Singapura, yang menjadi hub perdagangan dan investasi global, ekonominya juga anjlok dari 5 persen menjadi 3,8 persen secara tahunan.
Selain itu, lanjut dia, semangat kerja sama antar negara telah berubah menjadi persaingan di semua lini. Hampir semua negara mulai menerapkan kebijakan proteksionis dan mendahulukan kepentingan negaranya. Akibatnya, kerjasama bilateral dan multilateral yang telah dibangun runtuh seketika.
Kondisi ini, lanjut Sri Mulyani, tentu mengganggu rantai pasok global yang selama ini menjadi fondasi sistem ekonomi. Ketidakpastian ini juga membuat kegiatan ekspor impor lesu, serta mendorong aliran modal keluar (capital outflow).
Baca juga : Begini Cara Anak Muda Mengkomunikasikan Geothermal
“Dampaknya, tentu mengancam stabilitas nilai tukar, meningkatkan tekanan inflasi dan menyebabkan suku bunga global tetap tinggi,” kata perempuan kelahiran Lampung itu.
Bendahara Negara juga menyinggung terkait kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan Presiden AS Donald Trump. Kebijakan Trump itu mengingatkan Sri Mulyani pada kondisi 125 tahun lalu. Dalam kondisi ini, peran Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang diciptakan sebagai tempat negosiasi dispute/persengketaan dagang antar negara secara de facto disebut tidak berjalan.
“Jarum sejarah dunia seakan berputar balik mundur satu abad ke belakang di AS, atau bahkan mundur ke abad 16-18 sewaktu kebijakan merkantilisme mendominasi dunia,” sindir Sri Mul.
Bendahara Negara juga melaporkan bahwa APBN mencetak surplus senilai Rp 4,3 triliun atau 0,02 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) per April 2025. Pendapatan negara mencapai Rp 810,5 triliun atau 27 persen dari target, bertambah hampir Rp300 triliun dari realisasi pada Maret 2025.
Baca juga : Bonnie Triyana: Mereka Menolak Istilah Sejarah Resmi
“Penerimaan terus menunjukkan penguatan, menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi mengalami penguatan meski menghadapi guncangan,” tegas mantan Menteri Perekonomian di era Presiden SBY itu.
Untuk tahun depan, Sri Mulyani membuka opsi untuk kembali melakukan efisiensi. Saat ini, Pemerintah masih melakukan evaluasi terhadap efisiensi anggaran di semua kementerian/lembaga.
“Ini kan masih sekitar 2 bulan lagi ya, jadi kinerja dari Kementerian/Lembaga dan langkah-langkah efisiensi mereka tentu akan masuk di dalam pertimbangan untuk penyusunan pagu dari anggaran APBN,” kata Sri Mulyani usai rapat paripurna.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya