Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dari Launching Buku Komunikasi Publik Panas Bumi
Begini Cara Anak Muda Mengkomunikasikan Geothermal
Rabu, 21 Mei 2025 08:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Anak-anak muda punya cara dan gaya sendiri mempopulerkan energi panas bumi atau geothermal. Di hari Kebangkitan Nasional, mereka meluncurkan sebuah buku yang sangat menarik dan strategis, bagi percepatan pengembangan energi geothermal nasional.
Buku Komunikasi Publik Panas Bumi, adalah hasil kolaborasi Society of Renewable Energy (SRE) dengan Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, dan diterbitkan oleh Rakyat Merdeka Books (RMBooks). Sejumlah pemain besar energi panas bumi ikut mendukung, seperti PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) dan PT Geo Dipa Energi.
Saat ini, SRE adalah komunitas terbesar anak muda yang peduli pada energi bersih di Indonesia. Melalui buku ini, mereka ingin isu geothermal lebih gampang dicerna masyarakat dan awam. Sehingga diharapkan pengembangannya secara nasional bisa lebih cepat. Dan memenuhi target net zero emission.
Peluncuran buku digelar di The Darmawangsa Jakarta, Jakarta, Selasa (20/5/2025). Dihadiri oleh Dirjen EBTKE Eniya Listiana Dewi, Direktur Panas Bumi Gigih Udi Atmo, Direktur Utama PGE Julfi Hadi, dan Direktur Utama Geo Dipa Yudistian Yunis. Dalam satu panggung, mereka bicara pentingnya komunikasi publik, agar mempercepat transisi energi bersih di Indonesia.
Baca juga : Bonnie Triyana: Mereka Menolak Istilah Sejarah Resmi
Para akademisi dan pelaku industri juga hadir. Selain itu, ada sekitar 100 mahasiswa yang antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka, antara lain dari UI, Universitas Pertamina, Institut PLN dan sejumlah kampus lainnya sekitar Jabodetabek.
Dalam sambutannya, Dirjen EBTKE Eniya Listiana Dewi menyampaikan apresiasi atas kolaborasi dan dukungan banyak pihak. Menurut dia, buku ini bukan sekadar bacaan biasa. Namun, senjata penting untuk memperkuat strategi komunikasi publik demi pengembangan energi panas bumi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. “Ini bukan cuma produk literasi. Tapi panduan penting untuk menghadapi tantangan sosial yang kerap muncul di lapangan,” tegas Eniya.
Dengan nada serius tapi tetap santai, Eniya menceritakan pengalamannya berkiprah di dunia panas bumi. Ia mengaku pernah harus menghentikan proyek gara-gara konflik sosial. Bahkan, demonstrasi di depan kantor EBTKE pun pernah dirasakannya langsung. Menurutnya, hal ini terjadi karena banyak orang tak paham tentang pentingnya pengembangan geothermal. “Isu sosial dalam pengembangan panas bumi itu nyata, bukan sekadar teori. Karena itu, komunikasi publik harus diperkuat. Supaya masyarakat ngerti, mau, dan nggak langsung menolak proyek-proyek energi bersih,” cetusnya.
Menurut Eniya, kalau pendekatannya salah, niat baik bisa disalahpahami. “Padahal, panas bumi ini sumber energi masa depan. Tapi kalau nggak dikomunikasikan dengan cara yang benar, ya bisa-bisa proyeknya jalan di tempat,” ujarnya.
Baca juga : La Tinro La Tunrung: Kalau Ada Yang Salah, Diperbaiki Dan Diluruskan
Lebih lanjut, Eniya membeberkan fakta membanggakan. Saat ini, Indonesia duduk di peringkat kedua dunia dalam hal potensi panas bumi, dengan cadangan tembus 24 GW. Pemerintah menargetkan tambahan kapasitas 1,1 GW dari proyek-proyek yang sedang dan akan dikembangkan. Meski begitu, di satu sisi Eniya juga menyoroti ketimpangan listrik di Indonesia Timur. Di daerah seperti Sulawesi, listrik masih bergantung pada pembangkit diesel yang mahal dan nggak ramah lingkungan. “Panas bumi bisa jadi solusi strategis dan ekonomis di sana,” tandasnya.
Menurut Eniya, nggak semua negara punya harta karun seperti panas bumi. “Ini kekayaan strategis Indonesia. Sayang kalau cuma jadi wacana tanpa pengelolaan dan sosialisasi yang serius,” tegasnya.
Ia juga angkat topi buat semangat anak muda yang terlibat dalam penyusunan buku ini. Kata dia, edukasi soal energi bersih harus makin digencarkan, terutama ke pelajar dan mahasiswa. Namun, caranya harus kekinian. Misalnya lewat animasi, media sosial, sampai kampanye digital. “Semangat generasi muda ini aset utama bangsa. Buku ini semoga bisa jadi jembatan pengetahuan antara pakar dan publik. Dan yang lebih penting, jadi pemantik kolaborasi lintas sektor yang makin masif,” paparnya.
Mengakhiri sambutannya, Eniya mengajak seluruh pihak untuk terus menggaungkan pemanfaatan panas bumi sebagai energi masa depan Indonesia. “Mari kita bersama-sama menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dunia dalam energi bersih dan berkelanjutan,” tutupnya.
Baca juga : OSO: Pemuda Harus Punya Jiwa Petarung
Di panggung yang sama, CEO Rakyat Merdeka Group Kiki Iswara ikut angkat suara. Ia menegaskan pentingnya komunikasi publik yang efektif dalam mengawal pengembangan energi panas bumi di Tanah Air. Menurut dia, komunikasi yang baik akan membuat masyarakat lebih mudah menerima kehadiran energi panas bumi. “Jangan sampai gara-gara informasi nggak sampai atau nggak teramplifikasi dengan baik, masyarakat jadi salah paham,” ujar Kiki.
Ia mengingatkan, Indonesia memang punya potensi panas bumi terbesar kedua di dunia, hanya kalah dari Amerika Serikat. Namun sayangnya, potensi itu sering mentok di lapangan, bukan karena teknologi, tapi karena publik belum ngerti sepenuhnya soal panas bumi.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya