Sejarah Islam mencatat, umat Islam pernah akrab dengan filsafat. Melalui Bait al-Hikmah yang didirikan Khalifah Abbasiyah, al-Ma’mun, di Bagdhad (abad ke-9 M.) karya pemikiran filsafat Yunani, seperti Sokrates, Plato, Aristoteles dan lainnya diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab. Setelah didialogkan dengan ajaran dasar Islam yang terdapat di dalam Al-Qur’an, yakni keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia, serta isyarat-isyarat dan perintah Al-Qur’an tentang riset bayani, burhani, ijbari, dan irfani, filsafat Yunani mengalami metamorfosis dan lahirlah filsafat Islam yang karakternya berbeda dengan filsafat Yunani yang hanya mengandalkan kekuatan rasio.
Filsafat Islam memadukan kekuatan rasio dengan pancaindera dan hati nurani. Melalui cara ini filsafat menjadi akrab dengan berbagai disiplin ilmu keislaman. Hampir semua disiplin ilmu keislaman, seperti tafsir, hadis, teologi, fiqh, ushul fiqih, qawaid fiqhiyah, tasawuf hingga ilmu tata bahasa, seperti nahu, sharaf, balaghah, bayan, badi’ dan ma’ani menggunakan jasa filsafat.
Melalui upaya mereka itu, umat Islam mampu memproduksi berbagai macam cabang ilmu pengetahuan, seperti fisika, kimia, biologi, kedokteran, farmakologi, astronomi, dan lain sebagainya. Melalui jembatan filsafat, umat Islam mampu menerjemahkan isyarat-isyarat Al-Qur’an tentang penggunaan pancaindera, akal, hati nurani dan segenap potensi batiniyah lainnya yang melahirkan semua cabang ilmu yang pernah ada di dunia (ilmu agama, ilmu alam, ilmu sosial, ilmu humaniora, ilmu murni dan ilmu terapan.) Ilmu-ilmu ini kemudian dipraktekkan dalam kehidupan dan mendorong lahirnya kebudayaan dan peradaban yang membawa kesejahteraan hidup manusia.
Namun, keadaan tersebut segera meredup, umat Islam mulai tertinggal dalam bidang ilmu, kebudayaan dan peradaban, yang berdampak pada kemunduran dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan lainnya ketika mereka meninggalkan filsafah. Muhammad Abduh, tokoh pembaru Islam dari Mesir, dan Fazlur Rahman tokoh pembaru Islam dari Pakistan menyimpulkan bahwa penyebab utamanya adalah karena umat meninggalkan spirit Al-Qur’an. Yakni mengembangkan ilmu, kebudayaan dan peradaban berdasarkan iman, takwa, akhlak mulia, penggunaan akal secara maksimal serta pengembangan ilmu, kebudayaan dan peradaban.
Baca juga : Wamen Fajar Tekankan Revitalisasi UKS Untuk Pendidikan Holistik
Selain itu, para ahli sejarah juga mengemukakan tentang sebab-sebab mengapa umat meninggalkan atau menjauhi filsafat dalam aktivitas intelektualnya. Antara lain karena filsafat dianggap telah terlalu jauh memasuki persoalan yang bukan seharusnya ia lakukan. Persoalan-persoalan yang merupakan hak prerogatif Tuhan, seperti soal al-ruh (Q.S. al-Isra’, 17:85), soal kebangkitan dari alam kubur/baats (Q.S. al-Hajj, 22:5), soal hari kiamat (Q.S. al-Nisa, 4:87), soal qada dan qadar/taqdir Allah (Q.S. al-Furqan, 25:2), hingga soal kemukjizatan Al-Qur’an (Q.S.al-Isra’, 17:9). Sikap filsafat yang terlalu jauh mencampuri hak proregatif Tuhan ini dinilai dapat menggoyahkan keimanan umat.
Kini, saatnya umat harus bangkit kembali sebagai pelopor ilmu, kebudayaan dan peradaban dunia yang dimulai dengan mendekatkan dan mengakrabkan filsafat dengan kehidupan ummat dengan disertai beberapa perubahan paradigma sebagai berikut:
- Bahwa berpikir filosofis di masa sekarang harus didasarkan pada ajaran Al-Qur’an dan Hadis, dan tidak lagi mengandalkan sumber filsafat Yunani dan filsafat Barat semata-mata. Dengan cara demikian, filsafat tidak lagi ditakuti ummat.
- Agar akrab dengan kehidupan umat (Islam), falsafah juga harus mengadopsi cara berpikir Al-Qur’an yang progressif, akomodatif, positive thinking, futuristik, produktif dan mandiri.
- Jika falsafah ingin akrab dengan kehidupan manusia di masa sekarang dan yang akan datang, maka harus menghilangkan sikap eksklusifismenya. Falsafah harus terbuka dan akrab dengan berbagai masalah yang dihadapi ummat manusia.
- Dari segi ruang lingkupnya, falsafah hendaknya tidak hanya membahas tentang hakikat segala sesuatu yang bersifat substansial saja, seperti tentang alam, etika, ilmu dan sebagainya yang tidak ada hubunganya secara langsung dengan kehidupan keseharian manusia; melainkan juga masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk masalah-masalah yang terjadi di era global dan millenial saat ini.
- Dari segi metodenya, falsafah selain menggunakan metode spekulatif, yakni berpikir mendalam, radikal, sistematik, dan universal, hendaknya juga menggunakan metode berpikir induktif yang bertolak dari hal-hal yang bersifat partikular menuju yang general, atau dari hal-hal yang bersifat species menuju yang genus.
- Di masa sekarang, filsafat juga harus mengikuti perkembangan mutakhir tentang perkembangan psikologi yang terkait dengan berbagai temuan baru tentang kecerdasan manusia. Jika di masa lalu, filsafat hanya membahas tentang kecerdasan akal (IQ) saja, maka sekarang sudah ada temuan tentang kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dari Daniel Goleman.
- Falsafat di masa sekarang harus dapat menolong masyarakat dalam menghadapi proses perubahan yang terjadi demikian cepat sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
- Agar falsafat bisa diterima ummat dan disiplin ilmu lainnya, ia harus dapat merubah sifatnya yang jemawa (tinggi hati).
Dengan mempertimbangkan berbagai pemikiran tersebut, kini tiba saatnya kita tidak lagi meninggalkan atau memusuhi filsafat. Dalam menghadapi berbagai problema kehidupan di era global dan milinial yang makin kompleks, luas dan canggih ini, berpikir filosofis harus digunakan secara memadai bahkan maksimal. Berpikir filosofis juga perlu dilakukan dalam membangun kembali kemajuan Islam dalam bidang ilmu, kebudayaan dan peradaban.
Daftar Pustaka
Al-Jurjawiy, Ali Ahmad, Hikmah al-Tasyri wa Falsafatuhu, (Beirut: Dar al-Fikr, tp. th.)
Baca juga : Naik KRL Dari Manggarai Ke Tanah Abang, Presiden Dekat Dengan Rakyat
Azra, Azyumardi, Esei-esei Intelektual Muslim & Pendidikan Islam, (Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 1998), cet. I.
Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, (Bandung:Mizan, 1991), cet. II.
Murtiningsih, Siti, “Jembatan Ilmu-ilmu,” dalam Kompas, Jum’at, 25 Maret, 2022.
Nasution, Harun, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta:Bulan Bintang, 1978), cet. II.
Baca juga : Indonesia Kembali Pimpin Jaringan Produsen Vaksin Dunia
Palmer, Joy A. (ed.), 50 Pemikir Pendidikan, (terj.) Farid Assifa, dari judul asli Fifty Modern Thinkers on Education, (Yogyakarta:Jendela, 2003), cet. I.
Satria, Arif, “Revolusi Pola Pikir”, dalam Kompas, Rabu, 16 Agustus, 2023.
Shihab, M. Quraish, Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung:Mizan, 1996), cet. III.
Al-Syaibany, Omar Mohammad al-Toumy, Falsafah Pendidikan Islam, (terj.) Hasan Langgulung dari judul Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Jakarta:Bulan Bintang, 1979), cet. I.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.