RM.id Rakyat Merdeka - Pandangan publik terhadap R.A. Kartini selama ini banyak terbentuk dari kumpulan surat Habis Gelap Terbitlah Terang. Namun, pementasan “Tembang Alit” di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada Minggu (19/4/2026) menghadirkan sudut pandang yang lebih luas tentang sosoknya.
Dalam pertunjukan tersebut, Kartini tidak hanya digambarkan sebagai penulis, tetapi juga sebagai impresario yang berperan aktif memperkenalkan seni ukir Jepara ke dunia internasional.
Pendekatan ini membuka perspektif baru mengenai kontribusinya di bidang seni dan budaya.
Sutradara Wawan Sofwan mengolah ratusan surat Kartini menjadi satu alur cerita yang utuh dan berkesinambungan.
Baca juga : Jagara Dorong Advokasi YLBHI Lebih Merata dan Transparan
Kisah yang disajikan menggambarkan perjalanan hidup Kartini secara menyeluruh, mulai dari masa pingitan, jejaring intelektual, hingga perjuangannya dalam pendidikan dan seni.
“Tantangan terbesarnya adalah merajut surat-surat itu menjadi satu cerita yang memiliki hubungan sebab-akibat,” ujar Wawan Sofwan.
Pementasan ini juga diperkuat oleh kehadiran tokoh-tokoh perempuan inspiratif lintas generasi. Inayah Wahid, Gendis Soeharto, dan Aylawati Sarwono tampil membacakan refleksi pemikiran Kartini yang dikemas relevan dengan kondisi masa kini.
“Kami ingin menggaungkan kembali pentingnya pendidikan dan keberanian melawan batasan sosial,” ujar Aylawati Sarwono.
Baca juga : RS Sunway Kuala Lumpur Korting Radioterapi bagi Pasien Kanker Lansia
Melalui refleksi tersebut, semangat Kartini tentang pendidikan, kebebasan berpikir, dan keberanian melawan batasan sosial kembali digaungkan kepada generasi sekarang.
“Lewat lantunan kata ini, kami ingin menggaungkan kembali semangat Kartini tentang pentingnya pendidikan, keberanian, dan cara melawan batasan sosial agar tetap relevan hingga hari ini,” tutur Gendis Soeharto dan Inayah Wahid.
Selain itu, Asha Darra turut ambil bagian dengan membacakan surat Kartini di atas panggung. Kehadirannya menegaskan bahwa nilai-nilai perjuangan Kartini dapat diwujudkan dalam tindakan nyata di kehidupan sehari-hari.
“Kartini bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dilanjutkan. Semangatnya bisa hidup lewat hal-hal sederhana yang kita lakukan untuk sesama,” ujar Asha Darra.
Baca juga : SIM Keliling Tangerang Kota Selasa 17 Maret Hadir di 2 Lokasi
Dari sisi artistik, karya “Tembang Alit” ciptaan Jaya Suprana menjadi daya tarik tersendiri. Komposisi ini memadukan unsur modern seperti piano dan cello dengan elemen tradisional seperti gamelan dan sinden, sehingga menciptakan suasana pertunjukan yang kuat dan mendalam.
“Ini komposisi unik yang bahkan menjadi standar ujian di banyak sekolah musik dunia,” ungkapnya.
Melalui perpaduan narasi sejarah, kekuatan seni, dan suara perempuan dari berbagai generasi, “Tembang Alit” menghadirkan cara baru dalam memahami Kartini.
Ia tidak lagi sekadar simbol, melainkan sosok visioner yang gagasannya tetap relevan hingga kini, termasuk dalam memajukan seni budaya Indonesia ke tingkat global.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.