BREAKING NEWS
 

Swasembada Beras Dan Kekuatan Rantai Pasok Domestik Agar Harga Stabil

Reporter & Editor :
FAQIH MUBAROK
Senin, 11 Mei 2026 12:49 WIB
Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra. Foto: Gerindra

 Sebelumnya 
Di titik ini, yang terlihat bukan lagi kebijakan yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan rantai yang mulai tersambung. Namun swasembada tidak selesai di gudang. Ia diuji di pasar. Karena rakyat tidak merasakan angka 5 juta ton. Rakyat merasakan harga di warung.

Di sinilah kekuatan rantai pasok menjadi penentu. Produksi yang tinggi harus diikuti distribusi yang presisi. Stok yang besar harus diikuti pergerakan logistik yang cepat dan efisien. Tanpa itu, negara bisa saja memiliki cadangan melimpah, tetapi harga tetap bergejolak di berbagai daerah.

Pengalaman global menunjukkan hal tersebut. Banyak negara memiliki produksi besar, tetapi gagal menjaga stabilitas harga karena distribusi, logistik, dan tata kelola pasarnya lemah. Karena itu, swasembada bukan hanya soal produksi, melainkan tentang kemampuan membangun sistem pangan nasional yang utuh.

Baca juga : OSO Buka Bimteknas DPRD Hanura Di Pontianak, Disambut Ritual Adat Tiga Etnis

Yang sedang dibangun hari ini bukan sekadar cadangan pangan, tetapi fondasi ketahanan nasional: data yang mulai terintegrasi,  anggaran yang semakin terkonsolidasi, serta kebijakan yang bergerak menuju penyelesaian nyata di lapangan.

Indonesia mulai bergerak menuju kepemimpinan kebijakan yang lebih integratif, tidak berhenti pada perencanaan, tetapi memastikan pelaksanaan. Ada satu unsur penting yang sering luput dari pembahasan teknokratis: kepercayaan.

Pangan bukan hanya soal ketersediaan. Ia adalah rasa aman. Ketika stok mencapai lebih dari 5 juta ton, negara memiliki ruang lebih kuat untuk menenangkan pasar. Ketika serapan domestik mencapai 2,3 juta ton, itu memberi pesan bahwa petani tidak lagi dibiarkan berjalan sendiri.

Baca juga : Membangun Budaya Keselamatan Lalu Lintas Sejak Dini

Ketika produksi naik menjadi 34,69 juta ton, muncul harapan bahwa sudah sangat sedikit ketergantungan pada impor untuk memenuhi keperluan sendiri. Kalaupun ada itu beras yang dikonsumsi untuk keperluan tertentu seperti beras dari India untuk jenis makanan Timur Tengah dan keperluan khusus lainnya.

Tetapi seluruh capaian itu pada akhirnya harus bermuara pada satu hal: harga yang stabil. Karena di situlah rakyat merasakan kehadiran negara. Perjalanan ini tentu belum selesai. Tantangan masih besar: perubahan iklim, alih fungsi lahan, regenerasi petani, hingga efisiensi distribusi antarwilayah. Namun menutup mata terhadap kemajuan yang mulai terlihat juga bukan sikap yang adil.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, swasembada beras tidak lagi hanya terdengar sebagai slogan atau target politik tahunan. Fondasinya mulai terlihat, dengan angka yang nyata, gudang yang terisi, serta petani yang perlahan kembali percaya.

Baca juga : Motor Yamaha Bermasalah, Quartararo Ogah Pasang Target

Mungkin di titik ini, cara membaca keberhasilan juga perlu diubah. Bukan lagi sekadar berapa juta ton yang tersimpan di gudang. Tetapi seberapa jauh angka itu berubah menjadi rasa tenang di tengah masyarakat. Karena pada akhirnya, swasembada bukan tentang negara yang merasa cukup, melainkan tentang rakyat yang tidak lagi merasa kekurangan.

Penulis adalah Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense