RM.id Rakyat Merdeka - Ada kegelisahan yang dulu sering muncul setiap kali bangsa ini berbicara soal beras. Bukan karena Indonesia tidak memiliki sawah. Bukan karena petani tidak bekerja keras. Tetapi karena di antara kerja keras itu, negara sering datang terlambat, atau hadir tanpa memastikan bahwa hasil panen benar-benar kembali memberi manfaat bagi mereka yang menanam.
Kalimat “stok aman” pernah terlalu sering terdengar menenangkan di atas kertas, tetapi belum tentu menenangkan di dapur rakyat. Hari ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup panjang, kalimat itu mulai menemukan bentuk yang lebih jujur.
Bukan sekadar angka. Tetapi angka yang memiliki makna. Cadangan beras nasional yang dikelola Perum Bulog kini telah menembus lebih dari 5 juta ton, sebuah capaian yang bukan hanya besar, tetapi mencerminkan kapasitas negara dalam menjaga ketahanan pangan pada level yang belum pernah dicapai sebelumnya.
Baca juga : OSO Buka Bimteknas DPRD Hanura Di Pontianak, Disambut Ritual Adat Tiga Etnis
Dalam waktu yang tidak terlalu panjang, stok ini meningkat tajam. Dibanding dua tahun lalu, lonjakannya bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat. Pada saat yang sama, serapan dalam negeri juga menunjukkan arah yang jelas.
Hingga April 2026, penyerapan gabah dan beras dari petani telah mencapai sekitar 2,3 juta ton setara beras. Produksi nasional pun tidak stagnan. Produksi meningkat hingga kisaran 34,69 juta ton pada 2025, naik lebih dari 13 persen dibanding tahun sebelumnya.
Angka-angka ini penting. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana membacanya. Fakta di lapangan menunjukkan sesuatu yang selama ini sering diperdebatkan: stok itu benar-benar ada. Gudang-gudang Bulog di berbagai daerah terisi. Pergerakan distribusi berjalan. Penyerapan berlangsung.
Baca juga : Membangun Budaya Keselamatan Lalu Lintas Sejak Dini
Dari berbagai peninjauan Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra ke gudang Bulog di banyak wilayah Indonesia, mulai dari Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Khusus Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Lampung, Jambi, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Aceh, Sumatera Barat, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan hingga Papua, terlihat pola yang hampir serupa: stok relatif aman untuk 6 hingga 10 bulan di banyak wilayah, kapasitas gudang penuh bahkan memerlukan tambahan ruang, serta distribusi yang terus bergerak.
Tetapi yang paling penting bukan hanya soal “cukup”. Yang lebih mendasar adalah: dari mana beras itu berasal. Temuan lapangan di berbagai gudang Bulog di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa stok beras saat ini aman, kuat, dan secara dominan berasal dari hasil serapan produksi petani dalam negeri.
Ini menandai pergeseran nyata menuju kemandirian pangan, bukan sekadar klaim, tetapi kenyataan yang mulai terbentuk di lapangan. Kalimat itu penting, sebab selama bertahun-tahun Indonesia terlalu sering terjebak dalam ironi: negara agraris yang tetap bergantung pada kepanikan impor ketika harga mulai bergerak.
Baca juga : Motor Yamaha Bermasalah, Quartararo Ogah Pasang Target
Kini mulai terlihat perubahan arah. Petani yang selama bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian harga mulai memperoleh ruang kepastian. Panen raya yang dulu identik dengan harga jatuh perlahan mulai mendapat perlindungan melalui kebijakan pembelian pemerintah.
Harga pembelian gabah di kisaran Rp 6.500 per kilogram bukan sekadar angka administratif, melainkan sinyal bahwa negara hadir menjaga keberlanjutan produksi. Ketika negara membeli, petani berani menanam. Ketika petani menanam, produksi meningkat. Ketika produksi meningkat, Bulog menyerap. Ketika Bulog menyerap, stok nasional menguat.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.