RM.id Rakyat Merdeka - Komitmen Muhammadiyah dalam membangun pesantren yang unggul, profesional, dan berdaya saing diperkuat melalui agenda Pembinaan Pesantren Muhammadiyah: Penjaminan Mutu dan Metodologi Pembelajaran Dirasah Islamiyah, di Aula Pusat Dakwah Muhammadiyah Banjarnegara, Jawa Tengah, Senin (3/8/2026).
Pada kesempatan tersebut, Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Masykuri, memaparkan secara komprehensif arah pengembangan pesantren Muhammadiyah serta pentingnya sistem penjaminan mutu melalui akreditasi internal.
Masykuri menjelaskan, pengembangan Pesantren Muhammadiyah telah memiliki peta jalan (roadmap) jangka panjang periode 2015–2045. Menurutnya, arah pembangunan pesantren tidak hanya berorientasi pada pertambahan jumlah, tetapi lebih menitikberatkan pada peningkatan kualitas tata kelola, mutu lulusan, dan daya saing di tingkat nasional maupun internasional.
Ia menyampaikan, pada awal penyusunan roadmap tahun 2015, jumlah Pesantren Muhammadiyah berkisar 67 hingga 127 yang tersebar di 15 provinsi. Kini jumlah tersebut bertambah seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan pesantren Muhammadiyah.
Baca juga : Muhammadiyah: Kripto Tidak Sah sebagai Mata Uang, Tapi Sah sebagai Harta
“Tujuan jangka panjang yang ingin kita capai adalah terwujudnya Pesantren Muhammadiyah yang tertata kelola secara profesional, menghasilkan lulusan yang berdaya saing tinggi, memiliki wawasan internasional, serta bertambah secara kuantitas dan tersebar merata di seluruh Indonesia,” ujarnya, seperti dimuat di laman muhammadiyah.or.id.
Menurut Masykuri, keberadaan pesantren memiliki peran strategis sebagai satuan pendidikan yang bertugas mencetak kader ulama, pemimpin, dan pendidik. Selain menguasai ilmu agama, lulusan pesantren diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat, bangsa, dan Persyarikatan Muhammadiyah.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama. Berdasarkan analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT), salah satu kekuatan utama Pesantren Muhammadiyah adalah berada di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah dengan sistem manajemen kolektif kolegial, memiliki peluang besar dalam pengembangan media sosial, serta diarahkan menuju kemandirian lembaga.
Di sisi lain, terdapat beberapa kelemahan yang masih dihadapi, seperti belum adanya figur sentral yang kuat sebagaimana model kepemimpinan kiai di sebagian pesantren lain, pembinaan yang belum merata, keterbatasan sumber daya manusia, hingga proses transisi kelembagaan di sejumlah pesantren.
Kuatkan Materi Bahasa Asing
Baca juga : Raih Public Leadership Award, Wamen Fajar: Ilmu Harus Bermuara pada Pengabdian
Masykuri juga menyoroti kualitas lulusan santri yang masih perlu diperkuat, terutama dalam penguasaan Bahasa Arab, Bahasa Inggris, serta kemampuan memahami khazanah Islam klasik (kitab turats). Ia menyampaikan, masih banyak pesantren Muhammadiyah yang belum menggunakan kurikulum maupun buku ajar yang telah diterbitkan LP2 PP Muhammadiyah.
“Semangat tafaqquh fiddin harus terus dikembangkan secara maju. Santri Muhammadiyah tidak cukup hanya memahami ilmu agama, tetapi juga harus menguasai bahasa asing agar mampu berinteraksi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dunia,” tegasnya.
Sebagai bagian dari penguatan karakter, LP2 PP Muhammadiyah telah menyusun Panduan Budaya Pesantren Muhammadiyah yang menjadi acuan pembinaan seluruh pesantren. Ia menerangkan, Muhammadiyah tidak segan mengambil praktik-praktik baik dari pesantren lain, termasuk Pondok Modern Gontor, kemudian mengembangkannya sesuai dengan nilai-nilai Persyarikatan.
Panduan tersebut memuat 20 nilai budaya pesantren, yaitu ikhlas, tafaqquh fiddin, tajdid, integritas, ukhuwah, disiplin, mandiri, moderat, sederhana, kerja sama, istiqamah, pola hidup bersih dan sehat, ramah santri, sopan santun, gemar beramal, budaya melayani, percaya diri, peduli lingkungan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEKS), serta budaya malu.
Baca juga : Menag: Baru 1,43% Santri Terlayani MBG, Perluasan Jangkauan Amat Penting
Budaya malu, lanjutnya, harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti malu datang terlambat, malu sering meminta izin tanpa alasan yang jelas, hingga malu meninggalkan salat berjamaah.
Dalam aspek kepengasuhan santri, Masykuri menekankan, Pesantren Muhammadiyah mengedepankan pendekatan humanis, yaitu menghargai harkat dan martabat setiap santri sebagai pribadi yang memiliki potensi. Pendekatan tersebut dipadukan dengan sikap apresiatif, ramah santri, dan keteladanan dari para ustaz serta pengasuh.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.