BREAKING NEWS
 

Gelar Fun Walk dan Festival Pangan, KOWANI Gaungkan Tempe Menuju UNESCO

Reporter & Editor :
BAMBANG TRISMAWAN
Minggu, 9 Agustus 2026 11:45 WIB
Ketua Umum KOWANI Nannie Hadi Tjahjanto mengibarkan bendera Tempe Indonesia Goes to UNESCO saat Festival Pangan Nusantara di Jakarta, Minggu (9/8/2026).

RM.id  Rakyat Merdeka - Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) memperkuat gerakan Tempe Indonesia Goes to UNESCO melalui rangkaian kegiatan yang memadukan olahraga, pelestarian budaya, ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, dan edukasi kesehatan masyarakat.

Rangkaian kegiatan yang digelar di halaman Kantor KOWANI, Jalan Imam Bonjol No. 58, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026), tersebut diikuti lebih dari 1.000 peserta.

Agenda itu menjadi bagian dari program KOWANI Goes to UNESCO – Memory of the World. Salah satu kegiatan utamanya yakni Fun Walk 10.000 Langkah Sehat dengan rute dari halaman Kantor KOWANI menuju kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan kembali ke lokasi awal.

Ketua Umum KOWANI Nannie Hadi Tjahjanto mengatakan tempe memiliki potensi besar untuk dikembangkan bukan hanya sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari ketahanan pangan dan sumber peluang ekonomi masyarakat, khususnya perempuan.

Menurut Nannie, pengembangan tempe dapat dilakukan melalui inovasi pangan lokal. Bahan baku tempe tidak harus bergantung pada kedelai, tetapi juga dapat memanfaatkan sorgum dan berbagai jenis kacang-kacangan.

Diversifikasi tersebut dinilai dapat melahirkan beragam produk olahan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi perempuan.

“Tempe bukan hanya pangan, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber penghidupan keluarga,” ujar Nannie.

Ia menilai penguatan ekonomi perempuan merupakan bagian penting dalam membangun ketahanan keluarga. Karena itu, perempuan perlu mendapatkan akses terhadap keterampilan, pelatihan, kursus, dan sertifikasi agar mampu bekerja maupun mengembangkan usaha secara mandiri.

Tempe Menuju UNESCO

Baca juga : Ketum KOWANI Ajak Perempuan Bersatu Jaga Marwah Organisasi

Salah satu agenda utama kegiatan tersebut adalah Deklarasi Nasional Tempe Indonesia Goes to UNESCO. KOWANI mendorong penguatan tempe sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang memiliki nilai historis, sosial, ekonomi, dan pangan.

Nannie mengatakan semakin luasnya pengenalan tempe di berbagai negara menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat pelestarian dan pengakuan terhadap tradisi yang berkaitan dengan tempe.

Menurutnya, gerakan menuju UNESCO tidak sekadar mengejar pengakuan internasional. Lebih dari itu, upaya tersebut bertujuan memastikan pengetahuan, keterampilan, dan tradisi pembuatan tempe tetap hidup serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ekosistem tempe juga dinilai luas, mulai dari petani dan penyedia bahan baku, perajin, pelaku UMKM, industri pengolahan, hingga konsumen. Karena itu, penguatan tempe berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.

“Kalau kita tidak bergerak cepat, sementara tempe semakin dikenal di berbagai negara, kita bisa tertinggal. Karena itu, tempe perlu terus kita dukung menuju UNESCO,” kata Nannie.

Angkat Pangan Lokal

Selain tempe, KOWANI mengangkat sejumlah komoditas pangan lokal melalui Nusantara Festival Sorgum dan Nusantara Festival Cassava. Kedua kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong diversifikasi pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.

Nannie mengatakan pengembangan pangan lokal seperti sorgum dapat menjadi salah satu cara meningkatkan nilai tambah bagi petani sekaligus memperluas pilihan pangan masyarakat.

Begitu pula singkong atau cassava yang dinilai memiliki potensi besar untuk diolah menjadi berbagai produk pangan bernilai ekonomi.

Adsense

Melalui Nusantara Cooking Experience, masyarakat diajak melihat secara langsung bagaimana bahan pangan lokal dapat dikembangkan menjadi produk makanan yang lebih beragam dan menarik.

Baca juga : KOWANI Dukung Rakernas ALISA "Khadijah" ICMI Perkuat Peran Perempuan

KOWANI mendorong pengembangan pangan lokal berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan dan pelaku UMKM. Inovasi produk dan perluasan akses pasar dinilai dapat menjadikan pangan lokal sebagai sumber penghasilan baru.

Gerakan Pangan Murah

Dalam kegiatan tersebut, KOWANI juga menghadirkan Gerakan Pangan Murah untuk mendukung stabilisasi pasokan dan harga pangan.

Masyarakat dapat memperoleh sejumlah kebutuhan pokok dengan harga yang relatif terjangkau. Di antaranya beras SPHP sekitar Rp12.000 per kilogram, beras premium Rp14.900 per kilogram, gula pasir Rp17.000 per kilogram, Minyakita Rp15.500 per liter, bawang putih Rp30.000 per kilogram, bawang merah Rp40.000 per kilogram, cabai merah keriting Rp40.000 per kilogram, cabai rawit merah Rp45.000 per kilogram.

Selain itu, tersedia daging ayam Rp36.000 per kilogram, daging sapi Rp114.000 per kilogram, telur ayam Rp24.000 per kilogram, serta tepung terigu sekitar Rp12.000 per kilogram.

Harga tersebut merupakan harga dalam pelaksanaan Gerakan Pangan Murah dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Kehadiran Gerakan Pangan Murah memperkuat pesan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut keterjangkauan pangan masyarakat serta stabilitas pasokan dan harga.

Kebaya hingga Kesehatan

KOWANI juga mendorong pelestarian kebaya sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia. Kebaya yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda dinilai memiliki potensi untuk menggerakkan ekonomi kreatif.

Menurut Nannie, ekosistem kebaya dapat melibatkan berbagai pelaku UMKM, mulai dari fesyen, aksesori, tata rias, kerajinan, hingga produk pendukung lainnya.

Pelestarian budaya tersebut juga diarahkan agar melibatkan generasi muda sehingga kebaya tetap hidup dan berkembang mengikuti perubahan zaman.

Baca juga : KOWANI Dukung Tempe Indonesia Menuju UNESCO

Dari sisi kesehatan, kegiatan KOWANI dilengkapi pemeriksaan kesehatan gratis serta edukasi gizi dan pencegahan stunting.

Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga. Menurut KOWANI, ketahanan keluarga tidak hanya dibangun melalui kemandirian ekonomi dan ketersediaan pangan, tetapi juga pengetahuan mengenai kesehatan dan gizi.

Sementara itu, pameran koperasi dan UMKM serta business matching memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, membangun jejaring, dan membuka peluang kerja sama.

Libatkan Lintas Sektor

Rangkaian kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Kementerian Pemberdayaan Masyarakat, KOWANI, dan Badan Pangan Nasional.

KOWANI juga melibatkan organisasi perempuan, komunitas, pelaku UMKM, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat gerakan ketahanan pangan dan pelestarian budaya Indonesia.

Melalui kegiatan tersebut, KOWANI ingin menunjukkan bahwa tempe dan berbagai pangan lokal Indonesia tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat dan ketahanan keluarga.

Dengan lebih dari 1.000 peserta yang mengikuti Fun Walk dan berbagai agenda pendukung, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi pemerintah, organisasi perempuan, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat.

Bagi KOWANI, Tempe Indonesia Goes to UNESCO bukan sekadar gerakan pelestarian budaya. Gerakan tersebut diharapkan membuka peluang pengembangan pangan lokal, pemberdayaan perempuan, penguatan UMKM, peningkatan kesejahteraan petani, sekaligus memperkenalkan kekayaan Indonesia ke tingkat global.

Melalui semangat “dari pangan lokal menuju ketahanan nasional”, KOWANI mendorong agar tempe dan kekayaan pangan Nusantara terus dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense