Sebelumnya
Dia juga menyampaikan tanggapannya atas penelitian tersebut via Twitternya, @MinPres. Ini adalah reaksi pertama dari Mark Rutte atas nama kabinet setelah presentasi penelitian sejarah senilai 4,1 juta euro itu. Penelitian itu berjudul Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia, 1945-1950.
Hasil penelitian itu, kata dia, seperti sejarah menyakitkan yang tiba-tiba datang lagi. Namun, pemerintah Belanda harus menghadapi fakta-fakta memalukan itu.
Saat ini, sikap pemerintah Belanda berbeda dengan era Perdana Menteri Piet De Jong pada 1969 yang menyatakan bahwa tentara Belanda sudah bertindak benar di Indonesia.
Baca juga : Basarah: Pemerintah Belanda Layak Beri Kompensasi Keluarga Korban
Permintaan maaf itu bukan yang pertama. Pemerintah Belanda sebelumnya pernah meminta maaf kepada kerabat korban sejumlah kasus pembantaian, tetapi belum pernah meminta maaf secara umum untuk semua kejadian di Indonesia.
Yaitu pada 2011, Pemerintah Belanda meminta maaf dan memberikan kompensasi kepada para korban pembantaian di Rawagede, Jawa Barat.
Pada 2013, Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan merilis permintaan maaf atas tindakan-tindakan eksekusi tetara Belanda.
Baca juga : AP II Hadirkan Program Gerbang Indonesia Di Bandara Sultan Thaha
Pada 2013, Pemerintah Belanda mengumumkan memberikan santunan sebesar 26.600 dolar AS atau sekitar Rp 270 juta (nilai dolar tahun 2013) untuk para janda korban pembantaian.
Kemudian, selama kunjungannya pada 2020, Raja Willem-Alexander juga telah mengungkapkan permintaan maaf yang mengejutkan atas kekerasan berlebihan selama perang.
Pada Oktober 2020, Pemerintah Belanda mengatakan, mereka akan menawarkan kompensasi senilai 5.000 euro (sekitar Rp 81,4 juta) kepada warga negara Indonesia yang orang tuanya dieksekusi selama perang.
Baca juga : Jangan Ganti Menteri Ganti Juga Kurikulum
Kedua negara kini menikmati hubungan ekonomi yang kuat, namun perang tersebut masih menjadi topik yang sensitif di kalangan korban dan veteran. [MEL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.