RM.id Rakyat Merdeka - Aksi unjuk rasa memperingati 22 tahun penyerahan Hong Kong ke China yang diwarnai perusakan dan pendudukan gedung parlemen, Senin (1/7) jadi sorotan pemimpin dunia. Mereka menyayangkan peristiwa itu, namun tak sepenuhnya menyalahkan demonstran.
Para demonstran bersikeras aksi mereka dalam rangka membela hak untuk tingal di wilayah bekas jajahan Inggris itu dan menentang cengkraman China yang dirasakan semakin kuat.
Status Hong Kong masih semiotonom sejak diserahkan Inggris pada 1 Juli 1997. Isu menguatnya cengkraman China dilandasi pembahasan rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi. Aturan ini memungkinkan penjahat di Hong Kong diadili di China Daratan.
“Mereka ingin demokrasi dan menurut saya sebagian besar orang ingin demokrasi. Sayangnya, beberapa pemerintah tak ingin demokrasi,” kata Presiden Donald Trump, Senin (1/7) waktu setempat di Gedung Putih.
“Semuanya terkait itu (demokrasi). Semuanya tentang demokrasi. Tak ada yang lebih baik,” lanjutnya, dilansir dari laman The Straits Times, Selasa (2/7).
Baca juga : Maunya PPP, Penambahan Anggota Koalisi Cukup Satu
Trump menyayangkan kerusuhan yang terjadi di Hong Kong. Menurutnya kerusuhan tersebut sangat menyedihkan. AS pada Senin mendesak seluruh pihak di Hong Kong untuk mencegah kekerasan setelah pengunjuk rasa menggeledah parlemen saat peringatan penyerahan wilayah tersebut ke China.
AS juga telah menyuarakan solidaritas dengan para aktivis yang berhasil memblokir - untuk saat ini - rencana otoritas Hong Kong terkait RUU ekstradisi yang memungkinkan ekstradisi ke daratan China.
Selama unjuk rasa baru-baru ini, polisi dituding menggunakan kekerasan yang berlebihan terhadap pengunjuk rasa setelah menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk memecah massa.
Sedangkan Menlu Inggris dan Urusan Persemakmuran Inggris Jeremy Hunt memperingatkan para pengunjuk rasa agar tidak menggunakan kekuatan berlebihan. Meski demikian, Hunt tetap mendukung tuntutan para demonstran untuk mendapat kebebasan di tanah mereka.
“Dukungan Inggris untuk Hong Kong dan kebebasannya tetap teguh di hari peringatan ini. Tidak ada kekerasan yang dapat diterima tetapi orang-orang Hong Kong mempertahankan hak untuk melakukan protes damai sesuai hukum, seperti ditunjukkan oleh ratusan ribu orang pemberani hari ini,” katanya.
Baca juga : Dukung UNBK, Pertamina Sumbang 60 Komputer ke SMAN I Tasikmalaya
Hal senada disampaikan Gubernur Inggris untuk Hong Kong terakhir Chris Patten. Dia sedih dengan unjuk rasa yang diwarnai perusakan dan bentrokan.
Meski demikian dia juga menyalahkan kepolisian yang sebelumnya bertindak kasar terhadap massa. “Jika Anda tidak pernah benar-benar berdialog dengan massa, maka mau tidak mau itu membantu untuk melegitimasi mereka yang ingin melakukan sesuatu dengan cara lebih keras,” kata Patten.
Dia juga meminta pemerintah Inggris untuk lebih tegas dengan China. “Kita harus mengambil garis lebih tegas, kota merasa suatu kehormatan untuk membela kebebasan di Hong Kong, kebebasan yang kita janjikan pada mereka selama bertahun-tahun,” tuturnya.
Sedangkan Uni Eropa menyebut pendudukan gedung parlemen tidak mewakili mayoritas demonstran yang selama beberapa pekan melakukan aksi damai.
“Menyusul insiden ini adalah lebih penting untuk menahan diri, hindari meningkatnya ekskalasi, dan untuk terlibat dalam dialog dan konsultasi untuk menemukan solusi ke depan,” kata badan diplomatik UE.
Baca juga : Caleg Perempuan Suarakan Perlindungan Dan Perwakilan Perempuan Di Parlemen
Pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengutuk kelompok massa bertopeng yang terlibat dalam pendudukan dengan menyebutnya sebagai aksi ekstrem menggunakan kekerasan.
Media pemerintah China Global Times menganggap, aksi unjuk rasa itu sebagai kekerasan bergerombol. “Masyarakat China sadar bahwa kebijakan tanpa toleransi merupakan satu-satunya obat untuk mencegah perilaku merusak seperti itu,” demikian laporan Global Times. [MEL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.