Sebelumnya
Vasylkovskyi ingat bagaimana para tentara menderita dalam diam setelah pulang dari pertempuran melawan Rusia di Donbass, timur Ukraina pada 2014. Tingkat bunuh diri di antara para veteran juga semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Termasuk banyak kasus gangguan stres, pasca trauma yang tidak diobati.
Dia berharap, pusat rehabilitasi itu dapat meningkatkan kesadaran akan perlunya perawatan kesehatan mental dan mencegah kasus bunuh diri di masa depan.
Di tempat itu, para prajurit ditawari berbagai perawatan: terapi akuatik di kolam air panas untuk menyembuhkan nyeri otot; terapi lampu merah untuk meningkatkan sirkulasi jantung dan darah, ruang garam untuk pernapasan yang lebih baik.
Dan bagi mereka yang mengalami mimpi buruk ada terapi electrosleep yang dapat merilekskan saraf. Psikolog juga tersedia, tidak hanya untuk para prajurit juga untuk keluarga mereka yang berurusan dengan trauma perang.
Baca juga : KPK Telusuri Status Kepemilikan Apartemen Di Jakarta Yang Kerap Ditempati Lukas Enembe
Para prajurit juga menjalani pemeriksaan medis. “Ini hal yang paling penting karena seseorang menjadi sakit akibat stres dalam pertempuran,” terang Vasylkovskyi.
Selain bekas luka psikologis akibat perang, para prajurit juga datang untuk mengobati meningitis, memar, amputasi, radang paru-paru dan saraf, gangguan tidur, penyakit kulit, hingga penyakit kardiovaskular.
Baca juga : Nataru, Pertamina Pastikan Stok BBM Dan LPG Di Kalimantan Timur Aman
“Jika seseorang mengalami trauma dan tidak bisa berjalan, kami akan membuat mereka kembali berdiri,” kata Artem, seorang terapis fisik yang bekerja di pusat rehab tersebut.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.