Dewan Pers

Dark/Light Mode

Sebuah Karya Sangat Rentan Dicuri Di Ruang Digital, Ini Cara Menghindarinya

Jumat, 18 November 2022 21:06 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Di ruang digital kekayaan intelektual atau hasil karya sangat rentan dicuri pihak lain. Kecanggihan teknologi digital di ruang digital membuat orang berpikir dan bertindak praktis, yaitu mengambil atau mencuri karya orang lain yang beredar di ruang digital tersebut.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Rama Kertamukti menjelaskan, sebuah perlindungan hak cipta, yang datang dalam pikiran secara umum diberikan kepada sastra asli, musik, drama, atau karya artistik.

Namun, perkembangan teknologi baru telah menimbulkan konsep baru, seperti program komputer database, komputer layout, dan lain-lain. Dia bilang dalam perkembangan tersebut kemudian timbul masalah hak kekayaan intelektual (HKI).

"HKI adalah suatu bidang hukum yang mengatur hak-hak hukum yang berkaitan dengan upaya kreatif atau reputasi komersial dan good will," katanya, dalam webinar bertema Konten Digital: Hak Cipta dan Etika yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dikutip Jumat (18/11).

Berita Terkait : Denise Chariesta, Dicuekin Luna Maya, Kini Senggol Syahrini

Dia bilang, HKI dapat diartikan sebagai hak atas kepemilikan terhadap karya karya yang timbul atau lahir karena adanya kemampuan intelektualitas manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Rama menambahkan, peluang lemahnya hak cipta disebabkan dari karakteristik media internet yang berkaitan dengan hak cipta.

Contohnya adalah kemudahan melakukan replikasi, kemudahan dalam mentransmisikan dan menggunakan terus-menerus, kemudahan memodifikasi dan mengadaptasi karya dalam bentuk digital, atau disebabkan ketiadaan pengarang/pencipta.

Digital Networking Konserku Apps Ni Nyoman Pudak Sari menambahkan, pelanggaran hak cipta yang kerap atau banyak terjadi di ruang digital adalah plagiarisme.

Berita Terkait : Moeldoko Dorong Percepatan Digitalisasi UMKM, Ini Alasannya

Aktivitas ilegal ini dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja memperoleh atau mencoba mendapat kredit suatu karya ilmiah.

Biasanya dilakukan dengan mengutip sebagian atau seluruh karya yang diakui sebagai hasil karya sendiri.

“Bagaimana plagiarisme bisa terjadi? Misalnya, mengutip kata atau kalimat orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Atau, bisa juga dengan mengakui tulisan orang lain sebagai karya tulisan sendiri. Bisa juga sebagai bentuk penggunaan gagasan, pandangan, atau teori orang lain tanpa menyebut sumber,” ujar Ni Nyoman.

Agar terhindar dari plagiarisme, imbuh Ni Nyoman, dilakukan pengawasan ketat di institusi perguruan tinggi untuk menghindarkan masyarakat akademisnya. 

Berita Terkait : Luhut Pengen Kita Jadi Negara Maju

Selain itu yang diperlukan adalah dengan pembuatan surat pernyataan yang menyatakan bahwa karya tersebut asli bukan hasil plagiat. Kemudian, memperbanyak membaca bisa mencegah atau merangsang orang melakukan plagiat.

Mendeley Advisor Indonesia dan Praktisi Sosial Media Muhajir Sulthonul Aziz berpendapat pentingnya etika digital yang dilakukan dengan cara menghargai karya dan konten milik orang lain di ruang digital, seperti di media sosial.

Diakui memang di ruang digital terdapat jutaan karya atau konten yang tentu itu ada pemiliknya. Hal tersebut patut disadari agar orang tidak sembarang mengambil konten di ruang digital tanpa seizin pembuatnya.
 Selanjutnya