RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia lewat KJRI Cape Town saat ini tengah mengoordinasikan pembuatan film bergenre romantis yang mengisahkan kisah cinta seorang diplomat.
Film berjudul 'Kutemukan Kembali Cintaku di Afrika Selatan (Afsel)' ini akan ditayangkan di Festival Film Indonesia (FFI) di Cape Town, Afsel pada 10-11 November 2024.
Konjen RI Cape Town Tudiono mengatakan pengerjaan film ini sangat penting. Film ini menjadi misi penting Konjen RI dalam rangka diplomasi ekonomi dan budaya. Film ini membidik ketertarikan lebih dari 330.000 masyarakat dan diaspora Indonesia yang ada di Afsel.
Baca juga : Konjen RI Cape Town Gandeng Banyak Pihak Demi Sukseskan Pasar Rakyat
"FFI akan menjadi jembatan penghubung kebudayaan dan kerjasama seni budaya khususnya perfilman antara masyarakat Indonesia dengan diaspora Indonesia yakni Cape Malay," kata Tudiono dalam keterangannya.
Tudiono menjelaskan, Cape Malay merupakan keturunan para ulama pejuang Indonesia yang diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Diantaranya adalah Syekh Yusuf Al Macassari yang diasingkan dan tiba di Cape of Good Hope pada Juni 1693 dan Tuan Guru dari Tidore yang diasingkan pada 1780.
KJRI Cape Town melihat bahwa masyarakat Afsel khususnya Cape Malay sangat hangat terhadap Indonesia. Banyak dari mereka yang merindukan nusantara, tanah tempat asal leluhur mereka. Film komersial ini akan menghubungkan nuansa Indonesia dan Afrika Selatan.
Baca juga : Belajar Bahasa Sunda Ke Ayah
Film 'Aku Temukan Kembali Cintaku di Afsel' digarap berlatar belakang tragedi tsunami Aceh pada tahun 2004. Film ini menceritakan romantisme sepasang muda-mudi Aceh mahasiswa Universitas Syah Kuala bernama Faiez dan Maya.
Tragedi tsunami Aceh memisahkan kedua insan yang jatuh cinta tersebut bertahun-tahun lamanya. Sampai akhirnya Faiez berhasil meniti karir sebagai seorang diplomat di Afsel. Selama itu, Faiez tidak tahu apakah Maya masih hidup atau menjadi salah satu dari lebih dari 204.000 korban meninggal dunia dari tragedi itu.
Walaupun bergenre drama, cerita dalam film ini lebih dari 80 persen merupakan kisah nyata. Naskah awal atau sinopsis film ini disusun oleh Konjen RI Cape Town dan tim. Saat ini tengah dibahas dengan produser Wendra Lingga Tan dari production house Summerland, sutradara Robby Ertanto.
Baca juga : Ayo Bersatu Bahas Pendidikan
Salah satu film besutan produser Wendra Lingga Tan dan sutradara Robby Ertanto berhasil menjadi Top 5 dalam kompetisi film internasional di Rotterdam. Film ini juga akan ditangani Makkie Slemong, CEO Cape Town Film Studio (CTFS) sejak 2014-2024.
Dubes Saud P. Krisnawan sangat mendukung pembuatan film ini. Pembuatan film yang terkait dengan hubungan Indonesia-Afsel menjadi salah satu mimpinya. Film ini juga mendapat dukungan dari anggota DPR Wulan Sutomo Jasmin dan Ichsan Soelistio.
"Pembuatan film ini merupakan langkah awal dalam mempererat hubungan Indonesia-Afsel yang saat ini merayakan 30 tahun hubungan diplomatik. Diharapkan nantinya film ini bisa diputar di bioskop-bioskop di Indonesia dan Afsel dan semoga bisa mendunia," pungkas Tudiono.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.