Sebelumnya
Haniyeh terpaksa mengungsi dari Jalur Gaza pada 2019 dan tinggal di Qatar. Sementara pemimpin tertinggi Hamas di Gaza saat ini dijabat oleh Yahya Sinwar.
Jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud, yang berada di Deir el-Balah, Gaza, mengatakan, pembunuhan itu akan berpengaruh signifikan bagi warga Gaza, karena Haniyeh adalah pemimpin negosiasi yang mereka harapkan akan menghasilkan gencatan senjata.
Baca juga : PBNU Kasih 2 Pilihan ke 5 Kader yang ke Israel: Mundur atau Diberhentikan
"Warga Palestina di seluruh Gaza dan Tepi Barat juga memandang Ismail Haniyeh sebagai pemimpin moderat, yang jauh lebih pragmatis, dibandingkan pemimpin lain yang mengepalai sisi militer gerakan," kata Mahmoud.
"Dia sangat populer di sini. Dia dibesarkan di sebuah kamp pengungsi. Dia mewakili sebagian besar orang yang merupakan keturunan keluarga pengungsi yang mengungsi dari wilayah Palestina pada 1948."
Baca juga : PBNU Ke Kadernya Yang Temui Presiden Israel: Mundur Atau Dimundurkan
Banyak yang khawatir, pembunuhan Haniyeh sekarang dapat menyebabkan eskalasi lebih lanjut dari konflik ini, tambahnya.
Ketegangan sudah tinggi setelah Israel mengatakan bahwa mereka menargetkan seorang komandan senior Hizbullah dalam sebuah "serangan presisi" di Beirut pada Selasa.
Baca juga : Gus Halim: Pemenuhan Prasarana Dasar Kunci Pengentasan Daerah Tertinggal
"Ini adalah eskalasi yang sangat besar - apa yang terjadi kemarin di Lebanon, apa yang terjadi hari ini di Teheran. Ini adalah eskalasi yang dilakukan oleh [Israel] dan akan memiliki konsekuensi signifikan," ujar Sami al-Arian, Direktur Pusat Islam dan Urusan Global di Istanbul Zaim University, sebuah institusi pendidikan tinggi di Turki, kepada Al Jazeera. (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.