RM.id Rakyat Merdeka - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu minta maaf kepada negaranya, karena gagal mengembalikan enam sandera yang ditemukan tewas di Gaza pada Sabtu (31/8/2024).
Terlebih, Hamas memperingatkan, jumlah sandera yang dikembalikan dalam keadaan terbungkus kantong mayat bisa menjadi bertambah banyak, jika gencatan senjata tidak tercapai.
Permintaan maaf ini disampaikan Netanyahu, di tengah maraknya protes jalanan atas penanganan negosiasi, yang memasuki malam kedua di Israel.
Baca juga : Tanoe Serahkan Ketum Perindo Ke Putrinya, Netizen Nyolek Mega
Secara internasional, tekanan terhadap Netanyahu juga meningkat karena Inggris menangguhkan penjualan senjata tertentu ke Israel, lantaran khawatir digunakan untuk melanggar hukum internasional.
Namun, dengan nada menantang, Netanyahu bersikeras bahwa pasukannya harus mengendalikan Koridor Philadelphi Gaza, sebidang tanah strategis yang menjadi poin kritis dalam negosiasi dengan Hamas.
BBC melaporkan, ribuan warga Israel turun ke jalan, untuk mengungkapkan kemarahan atas kegagalan Netanyahu membawa pulang orang yang mereka cintai setelah hampir 11 bulan perang.
Baca juga : Salah Sebut Korsel Jadi Korut Di Pembukaan Olimpiade Paris, IOC Minta Maaf
Sementara Times of Israel mengabarkan, polisi mengerahkan agresi yang cukup besar dalam menyikapi satu demo di luar rumah perdana menteri di Yerusalem. Termasuk mendorong demonstran dengan kekerasan, melemparkan mereka ke tanah, dan menyeret banyak orang untuk pergi.
“Seorang anggota polisi mencekik tenggorokan seorang reporter Times of Israel,” demikian info surat kabar tersebut.
Demonstrasi paling anyar terjadi setelah ratusan ribu orang turun ke jalan dalam protes di seluruh negeri pada Minggu (1/9/2024). Jalan-jalan utama di Tel Aviv diblokir.
Baca juga : Dukung Putusan ICJ Soal Pendudukan Ilegal Di Palestina, RI Minta Israel Hengkang
Para demonstran memakai bendera Israel dan menggantungkan pita kuning, simbol solidaritas dengan para sandera. Hingga kini, sebanyak 97 sandera Israel masih belum diketahui keberadaannya, setelah diculik Hamas pada 7 Oktober tahun lalu.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.