Dark/Light Mode

PM Israel Benjamin Netanyahu Bubarkan Kabinet Perang

Selasa, 18 Juni 2024 07:38 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu (Foto: Net)
PM Israel Benjamin Netanyahu (Foto: Net)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu resmi membubarkan kabinet perangnya pada Senin (17/6/2024), setelah pemimpin oposisi Benny Gantz mundur pada 9 Juni 2024.

Mengutip keterangan pejabat Israel yang dikutip CNN International, pengambilan keputusan kini kembali ke kabinet keamanan utama pemerintah. Netanyahu disebut akan mengadakan forum yang lebih kecil untuk membahas hal-hal sensitif.

Kabinet perang yang didirikan lima hari setelah Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober, terdiri dari lima anggota: Netanyahu, Menteri Pertahanan Yoav Gallant, pemimpin oposisi Benny Gantz, serta Ron Dermer dan Gadi Eisenkot yang difungsikan sebagai pengamat.

Namun di tengah jalan, Gantz yang terlihat sebagai lawan tangguh Netanyahu, mengumumkan mundur dari kabinet pada pekan lalu.

Dia menyesalkan kegagalan Netanyahu, dalam merancang strategi konflik di Gaza dan pemerintahan di masa depan.

"Netanyahu mencegah kita untuk bergerak maju menuju kemenangan nyata di Gaza,” kata Gantz pada 9 Juni lalu.

Baca juga : Anjing Kesayangan Jadi Buket Bunga Pernikahan

Dia menuding Netanyahu mengutamakan pertimbangan politik pribadinya sendiri dalam strategi pasca-perang untuk Jalur Gaza.

"Keputusan strategis yang menentukan, bertemu dengan keraguan dan penundaan karena pertimbangan politik," ujar Gantz.

Dia pun mendesak Netanyahu menggelar pemilihan dalam beberapa bulan mendatang.

"Saya minta Netanyahu tetapkan tanggal pemilihan yang disepakati. Jangan biarkan orang-orang kami terkoyak,” cetus Gantz.

April 2024, Gantz menyerukan pemilihan awal pada bulan September, menjelang peringatan satu tahun perang. Menurutnya, masyarakat Israel perlu memperbarui kontrak kepemimpinan Netanyahu.

Sebulan sebelumnya, Gantz telah melakukan perjalanan ke Washington, DC, untuk bertemu dengan Wakil Presiden AS Kamala Harris dalam perjalanan yang tidak direstui pemerintah Israel.

Baca juga : Penumpang Telanjang Ganggu Penerbangan

Di sejumlah jajak pendapat, Gantz sering melampaui popularitas Netanyahu. Survei yang diterbitkan surat kabar Maariv Israel pada 14 Juni 2024 menunjukkan, dukungan untuk Gantz mencapai angka 42 persen. Mengungguli Netanyahu yang hanya 34 persen.

Tak lama setelah Gantz mundur, anggota sayap kanan dalam koalisi pemerintahan Netanyahu: Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir menyatakan minatnya untuk bergabung dengan kabinet perang.

Smotrich dan Ben-Gvir sebelumnya telah dikeluarkan dari kabinet atas perintah Gantz.

Dengan membubarkan kabinet perang, Netanyahu sepertinya menghindari keharusan menyetujui permintaan Ben-Gvir untuk bergabung dengan kabinet, yang berpotensi meningkatkan tensi hubungan Israel dengan Amerika Serikat.

Kalau permintaan itu ditolak, sayap koalisi Netanyahu yang lebih ekstrem bisa ngamuk.

Interpretasi lain, bahwa tanpa Gantz dan Eisenkot yang juga mengundurkan diri, Netanyahu berpendapat kabinet perang tak berguna lagi.

Baca juga : Pemilu Usai, Ganjarist Kini Jadi Gerakan Jaringan Indonesia Bersatu

Menyikapi pembubaran kabinet perang Israel, Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller mengatakan, hal itu tidak mengubah penilaian mendasar pemerintahan Biden tentang perang di Gaza.

Miller juga mengatakan, AS sangat menyambut pengumuman jeda taktis, namun tetap akan menilai Israel dari hasilnya.

"Ini bukan hanya masalah jeda kemanusiaan, ini adalah pertanyaan tentang berapa banyak bantuan yang dikirimkan. Jeda pada akhirnya hanyalah sarana untuk mengakhiri,” katanya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.