Sebelumnya
“Saya berharap dapat bekerja sama dengannya lagi untuk memajukan perdamaian melalui kekuatan dengan NATO,” kata Rutte, dilansir kantor berita AFP, Rabu (6/11/2024).
Trump memang beberapa kali berjanji mengakhiri perang Rusia-Ukraina. Bahkan saat kampanye, Trump sesumbar bisa menyelesaikan perang Rusia-Ukraina hanya dalam waktu 1x24 jam. Salah satu caranya, yakni dengan menghentikan bantuan kepada Ukraina.
Padahal, di era Presiden Biden, Ukraina sangat tergantung pada bantuan dari AS. Kalau bantuan dihentikan, maka Ukraina akan dipaksa berdamai dengan Rusia. Sementara, selama perang berlangsung, sudah beberapa wilayah Ukraina yang berhasil dicaplok Rusia.
Kekhawatiran ini juga disampaikan Perdana Menteri (PM) Swedia Ulf Kristersson. Meskipun mengucapkan selamat, Kristersson mengatakan, kembalinya Trump menjadi Presiden AS juga membawa risiko. Termasuk risiko ‘eksistensial’ bagi Swedia seperti potensi berkurangnya komitmen AS terhadap Ukraina.
Baca juga : Wujudkan Swasembada Pangan, Para Menteri Kolaborasi
Pernyataan Trump berpotensi menimbulkan perubahan besar dalam kebijakan luar negeri AS, khususnya terkait aliansi NATO. Sebelumnya, Trump pernah mengancam menarik AS dari NATO, meski hal ini turut mendorong negara-negara anggota meningkatkan anggaran pertahanan mereka.
Selain soal Ukraina, Trump mengisyaratkan kebijakan yang lebih agresif dalam menangani konflik yang berkembang antara Iran dan Israel. Di periode pertamanya, Trump akan terlibat langsung dalam konflik dengan Iran.
Kondisi ini juga dikhawatirkan meningkatkan tensi Iran dengan Israel. Apalagi, Trump memiliki pendekatan yang keras untuk mencegah ambisi nuklir Iran. Sehingga, akan berdampak pada kawasan Timur Tengah (Timteng). Kedekatan Trump dengan Israel berpotensi membuat AS secara langsung menyerang Iran.
Trump juga dihadapkan pada tantangan jangka panjang dari China dan ancaman yang meningkat dari Korea Utara (Korut). Meskipun sebelumnya Trump mencoba untuk menjalin hubungan dengan pemimpin Korut Kim Jong-un. Upaya ini tidak berhasil menghentikan program nuklir Korut.
Baca juga : Judol Makin Menggila Dan Mematikan
Sederhananya, kemenangan Trump berpeluang membawa pendekatan baru yang lebih keras terhadap Korut, terutama dalam menghadapi aktivitas nuklir negara tersebut.
Dampak Trump Bagi Indonesia
Bagaimana dengan Indonesia? Sejumlah kebijakan Trump bakal berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap perekonomian Indonesia. Rencana Trump memangkas pajak perusahaan yang memproduksi di AS dari 21 menjadi 15 persen diyakini membuat capital outflow.
Kebijakan ini tentu menarik investor untuk menanamkan modalnya di AS. Bukan hanya Indonesia, tetapi di negara berkembang lainnya. “Ini bisa mempengaruhi nilai tukar rupiah karena potensi arus modal keluar,” ulas Kepala Ekonom Permata Institute for Economic, Research Josua Pardede.
Baca juga : Kemenkop Berusaha Hapus Tunggakan Usaha Kredit Tani
Ekonom sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi meyakini, perang dagang AS-China akan kembali terjadi. Trump juga berjanji akan menengahi perang di Eropa dan Timteng.
Jika janji ini terealisasi, ada harapan bahwa tensi geopolitik akan mereda. Sehingga beberapa komoditas, seperti emas akan stabil cenderung menurun.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.