RM.id Rakyat Merdeka - Ribuan orang ngumpul di Washington DC, Amerika Serikat (AS), pada Sabtu (18/1/2025). Mereka berunjuk rasa menentang Trump yang bakal dilantik sebagai Presiden ke-47 AS yang baru, Senin (20/1/2025).
Aksi protes ini dikenal sebagai People’s March, yang sebelumnya disebut Women’s March. Gerakan ini telah berlangsung sejak 2017. Demo selalu dihadiri ribuan orang dari berbagai latar belakang yang menentang kebijakan dan pandangan politik Trump yang disebut Trumpisme.
Pawai ini diorganisir gabungan kelompok seperti perubahan iklim, hak imigran, dan hak-hak perempuan. Tujuannya untuk melawan Trumpisme. Pasalnya, gebrakan Trump dianggap selalu mengancam nilai-nilai sosial dan politik tertentu di AS.
Baca juga : Jelang Imlek, Rivera Bogor Resmikan Taman Burung dan Panahan Terbaru
Peserta unjuk rasa kali ini lebih sedikit dibandingkan pada 2017. Penyelenggara mengharapkan 50.000 orang, tapi sekitar 5.000 orang yang hadir. Para pengunjuk rasa berkumpul di beberapa lokasi di Washington DC sebelum pawai melewati Gedung Putih menuju Lincoln Memorial, tempat mereka mengadakan aksi protes.
Meskipun banyak yang datang untuk menentang Trump, di sisi lain ada sekelompok pendukung Trump yang berkumpul di Monumen Washington. Mereka mengenakan topi merah dengan tulisan "Make America Great Again", slogan terkenal Trump.
Salah satu pendukung Trump bernama Timothy Wallis mengatakan, teman-temannya membeli topi tersebut dari pedagang kaki lima. Wallis mengaku bingung dengan kemarahan para pengunjuk rasa. Meskipun demikian, ia mengatakan menghormati hak untuk berdemonstrasi.
Baca juga : Michelle Obama Pastikan Tak Hadiri Pelantikan Presiden Terpilih Donald Trump
"Sangat menyedihkan melihat keadaan kita sebagai sebuah negara," katanya.
Gerakan Women’s March pertama kali muncul setelah Donald Trump mengalahkan Hillary Clinton pada pemilihan presiden tahun 2016. Pada Januari 2017, lebih 100.000 orang turun ke jalan-jalan untuk menunjukkan ketidaksetujuan mereka terhadap kebijakan Trump.
Demonstran bernama Susie datang dari daerah San Francisco bersama saudara perempuannya, Anne. Mereka ikut demo pada 2017, dan berharap orang-orang masih akan turun ke jalan menentang kebijakan Trump.
Baca juga : Pemerintah Sukses Gaet Investor Qatar
"Kali ini taruhannya lebih tinggi. Trump semakin berani. Dia membuat kelompok miliarder dan kelas teknologi tunduk," tuding Anne.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.