Sebelumnya
Kala itu, ratusan ribu warga Palestina diusir dari rumah mereka saat Israel didirikan, dan tidak pernah diizinkan kembali.
“Dunia harus memahami pesan ini. Kami tidak akan pergi seperti yang terjadi pada tahun 1948,” tegasnya.
Sementara, Raafat Kalob khawatir tentang konsekuensi pertemuan Trump-Netanyahu terhadap hidupnya. Dia berharap rencana Trump tidak berhasil.
Baca juga : AS Mau Ambil Alih Gaza, Trump Minta Warga Palestina Cari Tempat Lain
“Kunjungan Netanyahu ke Trump mencerminkan rencana masa depannya untuk menggusur paksa rakyat Palestina dan menggambar ulang Timur Tengah,” ujar Kalob yang berdiri di dekat blok bangunan yang runtuh akibat perang di Kota Jabalia, Gaza utara.
Di belakang Kalob, deretan tenda yang disediakan oleh organisasi amal berjejer di sebidang tanah di kaki bangunan beton yang fasadnya masih memperlihatkan tanda-tanda perang. Terdapat lubang peluru, jendela hancur dan fasad yang dilucuti dari lapisan batunya.
Di Jabalia dan Gaza utara, daerah yang paling parah dilanda perang, warga Palestina yang mengungsi dan kembali setelah gencatan senjata berlaku pada 19 Januari telah tinggal di tenda-tenda di samping rumah mereka yang hancur.
Baca juga : Pidato Trump Usai Dilantik Jadi Presiden, Ini Janji Dan Terobosan Pekan Pertama
Zebda, ayah enam anak yang kehilangan rumahnya dalam perang, mengatakan, warga Gaza tidak akan meninggalkan wilayah pesisir itu.
“Kami adalah pemilik tanah ini. Kami selalu ada di sini. Masa depan adalah milik kami,” ujarnya.
Fase pertama gencatan senjata mengakhiri pertempuran di Gaza dan memulai proses pertukaran sandera dan tahanan antara Israel dan Hamas. Namun, negosiasi belum dimulai untuk mengakhiri perang secara permanen.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.