Dark/Light Mode

AS Mau Ambil Alih Gaza, Trump Minta Warga Palestina Cari Tempat Lain

Rabu, 5 Februari 2025 10:36 WIB
Presiden AS Donald Trump (Foto: Instagram)
Presiden AS Donald Trump (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Donald Trump memastikan, Amerika Serikat (AS) akan mengambil alih Jalur Gaza. Warga Palestina yang ada di wilayah tersebut, diminta untuk segera pergi.

“AS akan mengambil alih Jalur Gaza. Kami akan membereskannya,” kata Trump dalam konferensi pers bersama dengan sekutunya, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, seperti dilansir CNN International, Rabu (5/2/2025).

Trump menggambarkan visinya untuk Gaza sebagai “Riviera” baru.

"Kami akan memilikinya. Kami bertanggung jawab untuk membongkar semua bom berbahaya yang belum meledak dan senjata lainnya di wilayah tersebut. Kami juga akan meratakan lokasi itu, dan menyingkirkan bangunan-bangunan yang hancur,” papar Trump.

Ketika ditanya mengenai kesediaan mengirim pasukan AS untuk mengisi kekosongan keamanan di Gaza, Presiden ke-47 AS itu tidak mengesampingkannya.

“Kami akan melakukan apa yang diperlukan. Kami akan mengambil alih bagian yang akan kami kembangkan,” katanya.

Komentar Trump merupakan pernyataan luar biasa dari seorang presiden Amerika yang sedang menjabat. Khususnya, seseorang yang meraih kekuasaan politik di AS melalui kritiknya terhadap perang terpanjang Amerika di Timur Tengah. Serta janji untuk mengembalikan investasi AS kepada warga negaranya.

Komentar tersebut memunculkan sejumlah pertanyaan tentang bagaimana rencana perampasan tanah Trump akan dilanjutkan, apa kewenangan hukumnya, dan siapa yang akan membiayai upaya tersebut.

Baca juga : Di Roma, Megawati Beri Motivasi Untuk Anak Korban Perang Palestina & Ukraina

"Saya melihat posisi kepemilikan jangka panjang. Saya melihat ini akan membawa stabilitas besar ke wilayah Timur Tengah ini. Bahkan mungkin, seluruh Timur Tengah," kata Trump kepada wartawan di Ruang Timur Gedung Putih.

"Ini bukan keputusan mudah. Semua orang yang saya ajak bicara, menyukai gagasan Amerika Serikat untuk memiliki sebidang tanah itu. Kami akan mengembangkan dan menciptakan ribuan pekerjaan dengan sesuatu yang akan luar biasa," sambungnya.

Rencana ini diprediksi mendapat penolakan dari banyak orang di wilayah Gaza. Meski Trump mengklaim semua lawan bicara menyukainya.

Mesir dan Yordania telah menolak gagasan untuk menerima tambahan pengungsi Palestina tambahan. Mereka mewaspadai kemungkinan adanya destabilisasi.

"Menurut saya, orang-orang tidak boleh kembali ke Gaza. Saya mendengar, di Gaza, mereka hidup seperti di neraka. Mereka hidup seperti di neraka. Gaza bukanlah tempat yang layak ditinggali. Saya yakin, satu-satunya alasan yang membuat mereka ingin kembali adalah tidak adanya alternatif lain," papar Trump.

Warga Palestina, lanjutnya, mungkin termasuk di antara mereka yang kembali ke Gaza. Namun, Trump mengaku tidak membayangkan Jalur Gaza sebagai rumah permanen bagi mereka.

Trump yang notabene adalah seorang mantan pengembang real estate mengaku telah mempelajari masalah tersebut dengan seksama selama berbulan-bulan.

Trump sebelumnya mengusulkan agar warga Gaza pindah ke lokasi baru, yang disediakan oleh satu atau lebih negara di Timur Tengah. "Maksud saya, mereka ada di sana karena mereka tidak punya alternatif. Apa yang mereka punya? Sekarang ini, semuanya seperti tumpukan puing," ujarnya.

Baca juga : Warga Palestina Sambut Kepulangan 110 Sandera

Saran Trump agar warga Gaza meninggalkan jalur tersebut secara permanen, merupakan sikap provokatif yang akan membuatnya disukai oleh politisi paling konservatif di Israel.

Tetapi, usulan tersebut sepertinya tidak akan diterima oleh negara-negara tetangga Israel, yang tidak mau menerima pengungsi Palestina baru dari daerah kantong tersebut.

Pandangan suram Trump tentang Gaza sebagai rumah permanen bagi warga Palestina, pastinya akan menjadi bahan pembicaraan bagi sekutu sayap kanan Netanyahu, yang telah meminta gencatan senjata sementara yang disepakati bulan lalu dibatalkan.

Pernyataan Trump yang mengklaim Gaza sebagai wilayah AS, tampaknya tidak akan meyakinkan Hamas untuk segera kembali ke meja perundingan.

Ingin Bebaskan Sandera Gaza 

Trump mengaku masih bertekad untuk membebaskan para sandera yang tersisa di Gaza. "Kami ingin membebaskan semua sandera. Jika tidak, itu akan membuat kami semakin kejam," katanya.

Trump mengklaim berjasa atas kesepakatan gencatan senjata yang disepakati beberapa hari sebelum ia menjabat. Bahkan, menjelang lengser, pejabat di pemerintahan Biden mengakui kedatangan Trump membantu memberikan tekanan pada Israel dan Hamas.

Netanyahu yang tampaknya berusaha mengambil hati tuan rumah, memuji upaya Trump.

"Saya pikir, Presiden Trump menambahkan kekuatan besar dan kepemimpinan yang kuat pada upaya ini," kata Netanyahu di Ruang Oval.

Baca juga : Tinjau Banjir Di Tanjung Duren Jakbar, Teguh Minta Warga Waspada Cuaca Ekstrem

Terlepas dari semua dorongannya untuk menandatangani kesepakatan, Trump masih perlu mengawasi dua fase yang tersisa dari rencana tiga fase gencatan senjata.

Masalah di Luar Gencatan Senjata 

Ada banyak hal yang perlu dibahas Trump dan Netanyahu di luar masalah langsung perjanjian gencatan senjata. Ada prospek normalisasi hubungan yang lebih luas antara Israel dan negara-negara tetangga Arabnya, terutama Arab Saudi, yang telah diupayakan oleh mantan Presiden Joe Biden sebelum serangan 7 Oktober 2023.

Trump, yang secara terbuka mendambakan Hadiah Nobel Perdamaian, mungkin melihat peluangnya dalam upaya tersebut, dapat mengubah seluruh wilayah Timur Tengah dan menciptakan benteng baru melawan Iran, musuh bersama Yerusalem dan Riyadh.

Sejauh ini, Arab Saudi memastikan, pihaknya tidak akan berkomitmen untuk normalisasi dengan Israel tanpa jaminan negara Palestina.

Ancaman Untuk Iran

Sebelum Netanyahu tiba, Trump menandatangani arahan yang mengesahkan pendekatan keras terhadap Iran untuk mencegah negara tersebut memperoleh senjata nuklir. Sambil mengingatkan adanya pemusnahan, jika dia dibunuh oleh agen Teheran.

"Jika mereka melakukannya, mereka akan dilenyapkan," tegas Trump.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.