RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memastikan tidak ada yang terlewatkan dari sasaran kebijakan tarifnya. Bahkan, Pulau Heard dan Kepulauan McDonald yang hanya dihuni pinguin dan burung laut, serta anjing laut gajah atau gajah laut (elephant seal) juga kena.
Trump mengumumkan negara-negara yang kini dikenai tarif dalam konferensi pers, Rabu (2/3/2025) waktu setempat, menggunakan papan peraga. Presiden ke-47 AS itu mengumumkan tarif baru sebesar 10 persen pada hampir semua barang impor yang masuk ke AS. Di samping itu, Trump memberlakukan 'Tarif Timbal Balik' terhadap sejumlah negara.
"Ini adalah deklarasi kemerdekaan ekonomi kami," kata Trump saat mengumumkan langkah-langkah baru tersebut. Menurutnya, AS akan menggunakan uang yang dihasilkan dari tarif untuk mengurangi pajak dan membayar utang nasional. Trump kemudian mengangkat papan besar berjudul 'Tarif Timbal Balik'.
Trump mengatakan, negara-negara lain telah memperlakukan AS dengan buruk karena mengenakan tarif yang tidak proporsional pada impor AS yang ia sebut curang. Sebagai balasannya, kata Trump, AS akan mengenakan tarif kepada negara-negara lain sekitar setengah dari tarif yang mereka kenakan kepada AS.
"Jadi, tarif tersebut tidak akan berlaku secara timbal balik. Saya bisa saja melakukan itu, ya, tetapi akan sulit bagi banyak negara," kata Trump. Pebisnis real estate itu menambahkan, hal perdagangan, terkadang kawan (lebih) buruk daripada lawan.
Negara-negara tambahan—termasuk Kepulauan Heard dan McDonald, wilayah Australia di Samudra Hindia sub-Antartika, tercantum pada lembar kertas yang dibagikan kepada wartawan. Kepulauan es itu dikenai tarif 10 persen atas semua ekspornya.
Baca juga : Perwira Elnusa Jaga Ketahanan Energi Nasional di Tengah Lebaran
Salah satu lembar kertas itu menyebut, Pulau Heard dan Kepulauan McDonald saat ini mengenakan "Tarif ke AS" sebesar 10 persen, dan menjelaskan dengan huruf kecil bahwa ini termasuk "manipulasi mata uang dan hambatan perdagangan." Sebagai balasannya, di lembar kertas itu disebutkan, AS akan mengenakan "tarif timbal balik yang didiskon" pada pulau-pulau tersebut dengan tarif 10 persen.
Merujuk laporan kantor berita Associated bertajuk ”Trump's tariffs aren’t strictly reciprocal. Here’s how he calculated them”, tarif yang dikenakan Trump, kata Gedung Putih, memang didasarkan pada perhitungan yang rumit.
Pulau Heard dan Pulau McDonald, dua wilayah itu, dikenai tarif lantaran dugaan digunakan sebagai titik reekspor produk sebuah negara.
Pulau-pulau tersebut berukuran kecil. Luasnya yang dilaporkan mencapai 37.000 hektare membuat pulau-pulau tersebut sedikit lebih besar dari Negara Bagian Philadelphia, AS.
Menurut United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization(UNESCO) badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berfokus pada pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya, yang menetapkan pulau-pulau tersebut sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1997. Pasalnya, pulau-pulau tersebut ditutupi oleh bebatuan dan gletser.
Pulau Heard merupakan lokasi gunung berapi yang masih aktif, dan Pulau McDonald dikelilingi oleh beberapa pulau berbatu yang lebih kecil. Pulau-pulau tersebut merupakan rumah bagi populasi besar penguin dan anjing laut gajah.
Baca juga : Gempa 7,7 SR Guncang Myanmar, Getaran Terasa Hingga Thailand Dan China
Divisi Antartika Australia mengelola pulau-pulau tersebut, melestarikan lingkungan dan melakukan penelitian tentang populasi satwa liar yang besar, serta dampak perubahan iklim terhadap gletser permanen di Heard dan McDonald.
Kebijakan Tarif AS untuk Pulau Tak Berpenghuni
Australia dan sejumlah wilayah kepulauannya, termasuk Kepulauan Christmas dan Cocos Keeling, juga dikenakan tarif sebesar 10 persen. Pulau Norfolk, yang juga diklaim Australia, mendapat tarif sebesar 29 persen.
Kepulauan Falkland milik Inggris yang berpenduduk 3.200 orang dan sekitar satu juta penguin juga kena tarif ekspor 41 persen. Sedangkan Argentina yang menginginkan KepulauanFalkland, menghadapi tarif baru sebesar 10 persen.
Kepulauan Falkland atau Kepulauan Malvinas yang diklaim Argentina, tetapi dikuasai Inggris, terletak di Samudra Atlantik Selatan, lepas pantai timur Patagonia, Argentina.
Menurut Kamar Dagang Kepulauan Falkland, wilayah tersebut berada di peringkat 173 di dunia dalam hal ekspor global, dengan hanya 306 juta dolar AS produk yang diekspor pada 2019. Angka tersebut sudah termasuk 255 juta dolar AS ekspor moluska dan 30 juta dolar AS ikan beku.
Tarif Trump juga menargetkan wilayah Arktik tak berpenghuni Jan Mayen, bagian Kepulauan Svalbard, dikenakan tarif 10 persen. Pulau vulkanik tersebut merupakan bagian dari Kerajaan Norwegia dan tidak memiliki penduduk tetap. Satu-satunya penghuninya adalah 18 personel yang bekerja untuk militer Norwegia dan Institut Meteorologi negara tersebut pada musim dingin, dan 35 orang yang datang pada bulan-bulan musim panas.
Baca juga : Tambah Fasilitas, KCIC Sediakan Water Station Gratis Untuk Penumpang Lebaran
Sementara Kepulauan Svalbard punya penduduk kurang dari 3.000 jiwa. Dulunya merupakan pusat pertambangan, perekonomiannya kini sebagian besar bergantung pada pariwisata. Svarland menjadi sasaran bersama daratan Norwegia, yang menghadapi tarif sebesar 15 persen. Perdana Menteri Johas Gahr Støre menggambarkan langkah tersebut sebagai berita buruk.
Menurut Kantor Berita NRK, sekitar 8 persen dari ekspor Norwegia daratan dikirim ke AS, pasar ekspor terbesar ketiga negara itu.
Yang juga terkena dampak pungutan Trump sebesar 10 persen adalah Wilayah Samudra Hindia Britania, yang dihuni sekitar 3.000 personel militer Inggris dan AS serta kontraktor lain yang berlokasi di pangkalan militer Diego Garcia milik bersama Inggris-AS.
Réunion, wilayah seberang laut Prancis di Samudra Hindia, terkena tarif yang sangat tinggi sebesar 37 persen, meskipun memiliki populasi sekitar 896.175 jiwa.
Pengumuman lain yang mengagetkan adalah daftar tarif Myanmar, yang baru saja diguncang gempa bumi yang menewaskan hampir 3.000 orang. Ekspornya ke AS akan kena 44 persen.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.