BREAKING NEWS
 

China Bales Tarif AS, Trump Tuding Beijing Panik

Reporter & Editor :
MELLANI EKA MAHAYANA
Sabtu, 5 April 2025 10:15 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu di Osaka, Jepang, 29 Juni 2019. (Foto MFA China)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merespons pembalasan China terkait penerapan Tarif Timbal Balik atau Tarif Resiprokal Trump yang diumumkannya, Rabu (3/4/2025). Trump mengenakan tarif masuk untuk produk dari China sebesar 34 persen. Lalu China membalas dengan hal serupa.

Trump mengatakan, tindakan pembalasan China itu adalah langkah yang salah dan menunjukkan kepanikan.

"China melakukan kesalahan. Mereka panik. Satu hal yang tidak seharusnya mereka lakukan," kata Trump, dalam pernyataan di akun media sosial Truth Social, dikutip Sabtu (5/4/2025).

Meski demikian, Trump mengisyaratkan bahwa dia masih terbuka untuk bernegosiasi dengan China mengenai penjualan TikTok, meskipun Beijing telah menghentikan kesepakatan itu setelah penerapan tarif baru.

Trump memperpanjang batas waktu bagi TikTok untuk melepaskan diri dari perusahaan induknya di China selama 75 hari lagi, sesuai dengan Undang-Undang Federal AS.

Baca juga : Kesempatan Di Balik Tarif Trump, Ekonom: Keseimbangan Baru Agar Rupiah Kuat

Komisi Tarif Bea Cukai, Dewan Negara China, mengumumkan pembalasan atas penerapan tarif resiprokal Trump, Jumat (4/4/2025). China juga menerapkan tarif dengan besaran yang sama, yakni 34 persen, terhadap semua barang impor dari AS, berlaku mulai 10 April.

Menurut Komisi, tarif resiprokal AS merupakan bentuk intimidasi sepihak serta melanggar aturan perdagangan internasional. Keputusan Trump itu merugikan hak serta kepentingan China.

Selain itu China juga mengumumkan pembatasan atas ekspor mineral langka kategori sedang dan berat ke AS, termasuk samarium, gadolinium, terbium, disprosium, lutetium, skandium, dan itrium. Bahan-bahan yang digunakan dalam produk-produk teknologi tinggi seperti chip komputer dan baterai kendaraan listrik.

Adsense

Dalam daftar tersebut termasuk samarium beserta senyawanya, yang digunakan dalam manufaktur kedirgantaraan dan sektor pertahanan. Elemen lainnya, yaitu gadolinium, digunakan dalam pemindaian MRI.

China menghentikan pula impor dari dua perusahaan unggas AS setelah menemukan obat terlarang dalam produk mereka, serta menemukan kadar jamur yang tinggi dalam sorgum dan salmonella dalam pakan tulang dari perusahaan AS lainnya.

Baca juga : Soal Tarif Resiprokal AS, Kadin Indonesia: Pintu Negosiasi Masih Terbuka

Selain itu, China menambahkan 16 perusahaan AS ke daftar kontrol ekspor, yang berarti mereka tidak dapat mengimpor atau mengekspor produk-produk tertentu, termasuk High Point Aerotechnologies (perusahaan teknologi pertahanan) dan Universal Logistics Holding (perusahaan logistik).

Sebanyak 11 perusahaan AS lainnya, termasuk pembuat drone seperti Skydio dan BRINC Drones, juga dimasukkan dalam daftar entitas yang tidak dapat diandalkan, yang melarang mereka melakukan bisnis di China.

Pasar saham AS jatuh pada Jumat setelah China mengumumkan langkah balasannya. China juga mengajukan gugatan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terhadap kebijakan tarif Trump. Beijing menyebut kebijakan Trump sebagai praktik pemaksaan sepihak yang merusak sistem perdagangan global yang berbasis aturan.

Tarif Sebelumnya

Pada Februari, sebagai respons terhadap tarif 10 persen yang diterapkan Trump, China mengenakan tarif 15 persen pada impor batu bara dan gas alam cair dari AS, serta tarif 10 persen pada minyak mentah, mesin pertanian, dan mobil dengan kapasitas mesin besar.

Pada Maret, China juga mengenakan tarif tambahan pada produk pertanian AS seperti ayam, daging babi, kedelai, dan daging sapi. Pada waktu itu, China dinilai lebih berhati-hati dan memberikan ruang untuk negosiasi dengan AS.

Baca juga : Ini Kata Pemimpin Dunia Soal Tarif Impor AS Yang Bisa Picu Perang Dagang Merusak

Seiring dengan ketegangan di sektor perdagangan, kedua negara tetap mempertahankan dialog militer. Pejabat militer AS dan China bertemu untuk pertama kalinya sejak Trump menjabat, membahas masalah keselamatan militer di laut. Pertemuan yang diadakan pada Rabu dan Kamis di Shanghai bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya masalah.

Sebelum mengumumkan penerapan Tarif Resiprokal terhadap China sebesar 34 persen, Trump telah memasukkan China dalam daftar negara yang dikenakan tarif segera setelah dilantik sebagai presiden pada 20 Januari 2025, bersama Kanada dan Meksiko, namun menundanya.

Dalam konteks perdagangan, hubungan antara AS dan China dipengaruhi persaingan ekonomi hingga penerapan tarif, khususnya mulai Trum menjabat, saat periode pertama jabatan pada 2017-2021. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense