BREAKING NEWS
 

Ngumpul Bahas Langkah Balasan Soal Tarif, Uni Eropa Kompak Siap Lawan Trump

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Selasa, 8 April 2025 04:13 WIB
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. (Foto X PDC)

RM.id  Rakyat Merdeka - Negara-negara Uni Eropa berusaha menunjukkan kekompakan mereka dalam menghadapi tarif baru yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Mereka bakal menyetujui langkah-langkah balasan pertama yang ditargetkan pada impor AS senilai 28 miliar dolar AS atau sekitar Rp 477 triliun.

Langkah ini akan membuat Uni Eropa bergabung dengan China dan Kanada dalam menerapkan tarif balasan terhadap AS. Kebijakan yang dikhawatirkan sebagai perang dagang global.

Hal ini berpotensi membuat harga barang menjadi lebih mahal bagi konsumen dan mendorong ekonomi di seluruh dunia ke dalam resesi.

Mengutip Reuters Minggu (6/4/2025), Uni Eropa, blok regional yang beranggotakan 27 negara di benua biru, menghadapi tarif impor 25 persen untuk baja dan aluminium serta mobil dan tarif timbal balik sebesar 20 persen mulai Rabu (9/4/2025), untuk hampir semua barang lainnya.

Baca juga : Tolak Pemimpin Bergaya Raja, Ribuan Warga AS-Eropa Protes Kebijakan Trump

Tarif Trump mencakup sekitar 70 persen dari ekspor Uni Eropa ke Negeri Paman Sam senilai 532 miliar euro tahun lalu, dengan kemungkinan bea masuk untuk tembaga, farmasi, semikonduktor dan kayu yang masih akan diberlakukan.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan, Brussels tetap ingin melakukan negosiasi dengan Washington mengenai tarif tersebut. Namun, Uni Eropa juga menyiapkan langkah-langkah balasan jika pembicaraan tersebut menemui jalan buntu.

AS merupakan mitra dagang utama Uni Eropa. Negara itu menyumbang lebih dari 20 persen dari total ekspor Uni Eropa. Produk-produk utama yang diekspor negara-negara Uni Eropa ke AS meliputi mobil, peralatan konstruksi, mesin industri, serta produk farmasi.

Adsense

Para Menteri Perdagangan Uni Eropa menggelar pertemuan di Luksemburg pada Senin (7/4/2025), untuk membahas langkah-langkah balasan terhadap AS.

Baca juga : Jepang, China, Korsel Mau Kompak Hadapi Perang Tarif Trump

“Meski solusi yang dinegosiasikan secara konstruktif tetap menjadi pilihan Uni Eropa, para menteri juga akan membahas kemungkinan tindakan balasan apabila situasi mengharuskannya,” demikian pernyataan pers dari Dewan Uni Eropa.

Para diplomat negara anggota Uni Eropa mengatakan, tujuan utama pertemuan tersebut untuk memberikan pesan persatuan tentang keinginan berunding dengan Washington mengenai penghapusan tarif. Namun, mereka bersiap memberikan balasan apabila itu gagal.

“Ketakutan terbesar kami setelah Brexit adalah kesepakatan bilateral dan hancurnya persahabatan dengan Amerika,” ujar seorang diplomat Uni Eropa yang enggan namanya disebut kepada Reuters.

Rusia Santai

Di saat ratusan negara kalang kabut menghadapi kebijakan AS, Rusia justru santai. Moskow menjadi negara yang bebas dari kebijakan kenaikan tarif AS. 

Baca juga : PM Baru Kanada Mark Carney Siap Lawan Trump

Situs web berita AS, Axios, mengutip Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, Sabtu (5/4/2025), menjelaskan bahwa sanksi AS untuk Rusia sudah termasuk ke sektor perdagangan.

“Itulah kenapa Rusia tidak ada dalam daftar yang diumumkan Presiden Trump awal pekan lalu,” terang Leavitt.

AS memang memberlakukan sanksi skala besar terhadap Rusia setelah invasi penuh Moskow ke Ukraina pada 2022. Namun, Trump secara umum mengambil pendekatan yang lebih bersahabat terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin dibandingkan pendahulunya Joe Biden. Dia menjadikan penghentian perang sebagai prioritas.

Rusia tidak sendirian. Kuba, Belarus dan Korea Utara juga tidak mendapat tarif resiprokal dari AS dengan alasan sudah banyak dijatuhi sanksi AS.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense