Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Tolak Pemimpin Bergaya Raja, Ribuan Warga AS-Eropa Protes Kebijakan Trump
Senin, 7 April 2025 04:15 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ribuan demonstran di Amerika Serikat (AS) turun ke jalan untuk memprotes kebijakan Presiden Donald Trump. Aksi demo tidak hanya dilakukan di 50 negara bagian AS saja. Kanada, Meksiko dan sejumlah negara di Eropa ikut melakukan aksi massa serupa sepanjang akhir pekan kemarin.
Dilansir Reuters, Minggu (6/4/2025), ribuan orang berkumpul di National Mall, Washington DC, Sabtu (5/4/2025). Penyelenggara mengatakan, ada 20 ribu peserta aksi yang memadati lokasi. Mayoritas adalah korban pemecatan massal yang dilakukan Elon Musk melalui Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) sejak Februari lalu.
Musk dituduh sebagai biang kerok di balik nyelenehnya kebijakan Trump. Termasuk pemecatan terhadap puluhan ribu pegawai kementerian dan badan federal dengan alasan efisiensi.
Demonstrasi besar-besaran sejak dilantiknya Trump pada 20 Januari 2025 ini juga menentang kebijakan tarif resiprokal (timbal balik) produk impor yang diumumkan Trump pada Rabu (2/4/2025). Besaran kebijakan tarif AS antara 10 hingga 50 persen, berlaku mulai 5 dan 9 April 2025. Dampak dari kebijakan itu dapat menaikkan harga barang-barang impor di AS.
Demonstran membawa plakat berisi tulisan, “fasisme tidak punya tempat di sini”, “AS tidak dipimpin raja” dan “jangan ikut campur dalam demokrasi.”
Demonstran lain secara terang-terangan menargetkan Trump dan Musk dengan membawa plakat bertuliskan “tidak ada yang memilih Elon Musk” dan “tidak ada raja, tidak ada autokrat, tidak ada fasis, tidak ada pemuja Musk.”
Demonstrasi tersebut digelar oleh gerakan 50501, merujuk pada tujuannya, yakni 50 demonstrasi di 50 negara bagian, 1 gerakan.
Baca juga : Prabowo Rembuk Dengan Pemimpin Negara ASEAN Hadapi Kebijakan Tarif Impor AS
“Jika kita tidak melawan sekarang, tidak akan ada yang tersisa untuk diselamatkan,” demikian isi pernyataan kelompok 50501 dalam akun media sosial mereka.
Selain masalah tarif, massa juga memprotes kebijakan pemerintahan Trump lainnya. Termasuk soal jaminan sosial, Medicare, isu pendidikan serta hubungan dengan negara-negara sekutu AS yang dirusak.
“Jangan ikut campur dalam urusan Ukraina, Sudan, Palestina, Kongo dan Haiti,” bunyi tulisan pada spanduk.
Seorang demonstran di Washington DC, Jamie Raskin, dalam orasinya juga menyoroti rencana Trump untuk merebut Kanada, Greenland dan Panama.
Dia juga memprotes larangan beberapa media untuk meliput di Gedung Putih hanya karena menolak mengubah nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika.
“Pers berhak menyebut Teluk Meksiko sebagai Teluk Meksiko,” imbuhnya.
Titik kerumunan pendemo lainnya bisa dilihat tidak jauh dari Gedung Putih. Ada spanduk besar bertuliskan “Hands off!” yang dipasang menghadap ke arah kantor Trump. Kata-kata itu mendesak Presiden agar pekerjaannya sesuai tugasnya.
Baca juga : Pemerintah Utus Tim Lobi ke AS, Negosiasi Kebijakan Tarif Impor Trump
Seorang pendemo lainnya, Jane Ellen Saums menyuarakan kekhawatiran atas kebijakan Trump yang menurutnya merusak institusi demokrasi yang telah lama menjadi fondasi Amerika.
“Sangat mengkhawatirkan melihat pemerintahan ini melibas seluruh sistem checks and balances - dari lingkungan hidup hingga hak-hak pribadi,” ujar Ellen yang merupakan pekerja real estate itu kepada AFP, Sabtu (5/4/2025).
“Karena Trump dan Elon, proyek saya mati dan saya kena lay off,” keluh Anette, seorang demonstran dari Oregon yang kehilangan pekerjaannya. Sebelum dipecat, Anette tengah merancang suatu proyek pemerintahan terkait urusan kemanusiaan internasional.
“Saya merasa terharu melihat banyak orang bergabung di sini,” katanya.
Sementara demonstran lain, Liz Gabbitas, juga merasakan hal serupa. Dia merasa pemerintahan Trump telah mengambil langkah yang buruk.
“Saya khawatir, orang-orang akan terjebak dan merasa kita tak bisa melakukan apapun,” ucap Gabbitas.
Protes serupa juga terjadi di berbagai ibu kota dunia seperti Paris (Prancis), Roma (Italia) dan London (Inggris). Hal ini menunjukkan kemarahan global terhadap kebijakan Presiden ke-45 dan ke-47 AS dari Partai Republik tersebut. Aksi ini digagas kelompok kemanusiaan seperti MoveOn dan Women’s March.
Baca juga : IHSG Anjlok, Pemerintah Diminta Pulihkan Pasar Dengan Kebijakan Pro Bisnis
Banyak pendukung Partai Demokrat mengungkapkan kekecewaan karena partai mereka, yang saat ini menjadi minoritas di Senat dan DPR, tampak tak berdaya dalam menghadapi langkahlangkah agresif Trump.
Demonstrasi ini menjadi sinyal bahwa penolakan terhadap pemerintahan Trump terus menguat baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Semangati Rakyat
Trump sangat tahu dampak dari kebijakannya. Dia menyemangati rakyat Amerika agar tetap bertahan dan kuat ketika situasi sulit muncul akibat keputusan pemerintahannya. Pasalnya, Trump meyakini gejolak pasar yang muncul bagian dari revolusi ekonomi yang akan dimenangkan Amerika.
“Bertahanlah, ini tidak akan mudah, tetapi hasil akhirnya akan bersejarah,” imbuhnya dalam postingan di Truth Social.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Senin, 7 April 2025 dengan judul "Tolak Pemimpin Bergaya Raja, Ribuan Warga AS-Eropa Protes Kebijakan Trump"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya