RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump optimistis, tarif “resiprokal” atau “timbal balik” yang diumumkannya pada 2 April 2025, dapat mengantarkan negaranya pada kejayaan. Lapangan pekerjaan akan terbuka lebar dan mesin pabrik kembali menderu.
Tapi, Kepala Penelitian Teknologi Global di perusahaan jasa keuangan Wedbush Securities, Dan Ives punya pandangan lain. Dia bilang, gagasan Trump tak ubahnya seperti kisah fiksi belaka. Alih-alih memakmurkan negeri Paman Sam, tarif impor jumbo itu malah akan membebani konsumen AS. Berbagai harga komoditi, mulai dari pakaian hingga produk elektronik jelas akan melonjak.
Harga iPhone bisa naik menjadi sekitar 3.500 dolar AS atau sekitar Rp 59 jutaan jika diproduksi di Negeri Paman Sam.
Baca juga : Soal Tarif Trump, Hikmahanto: Indonesia Tak Perlu Kirim Tim Negosiasi
"Harga iPhone buatan AS bisa naik lebih dari tiga kali lipat dibanding harga saat ini: 1.000 dolar AS atau Rp 16 jutaan," jelas Ives seperti dikutip CNN International, Rabu (9/4/2025).
Harga iPhone diprediksi meroket, lantaran AS membutuhkan biaya tinggi untuk mereplikasi ekosistem produksi yang sangat kompleks, yang saat ini ada di Asia.
Untuk diketahui, sebagian besar chip pada iPhone diproduksi di Taiwan, sementara panel layarnya dipasok perusahaan Korea Selatan. Sedangkan komponen lain dan perakitan akhirnya dikerjakan di China.
Baca juga : Respon Tarif Trump, Pakar Puji Gercep Prabowo Jalin Diplomasi Dengan Negara Lain
“Anda membangun rantai pasok iPhone dengan pabrik di Virginia Barat dan New Jersey. Sehingga, harga iPhone menjadi 3.500 dolar AS atau Rp 59 jutaan,” papar Ives.
Rantai pasok tersebut membutuhkan fasilitas manufaktur berteknologi tinggi. Dengan chip komputer yang memberi daya pada perangkat elektronik.
"Selain itu, Apple juga akan menghabiskan biaya sekitar 30 miliar dolar AS dan waktu tiga tahun, hanya untuk memindahkan 10 persen rantai pasok," beber Ives.
Baca juga : Haidar Alwi Care Sarankan Indonesia Perkuat Investasi Domestik dan Asing
Dalam beberapa dekade terakhir, pabrik dan perakitan suku cadang smartphone bergeser ke Asia, lantaran mayoritas perusahaan AS berfokus pada pengembangan perangkat lunak dan desain produk, yang menghasilkan margin keuntungan lebih tinggi.
Sejauh ini, langkah tersebut membantu menjadikan Apple sebagai salah satu perusahaan paling berharga di dunia, dan memperkuat posisi sebagai pembuat ponsel pintar yang dominan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.