RM.id Rakyat Merdeka - Ulah Israel mengebom Rumah Sakit (RS) di Gaza, yang menewaskan 20 orang, dikecam banyak pihak. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang selama ini jadi sekutu Israel, ikut “menjewer” Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Militer Israel menyerang RS di Khan Younis, Gaza, Senin (25/8/2025) dengan drone peledak. Sebanyak 20 orang tewas, termasuk petugas medis dan sejumlah jurnalis. Serangan ini terjadi dalam rangkaian operasi skala besar Israel mencaplok total Kota Gaza. Imbasnya, RS tersebut hancur.
Dari video yang beredar, seorang dokter di pintu masuk RS memperlihatkan pakaian berlumuran darah kepada para jurnalis, usai serangan pertama. Selang beberapa menit kemudian, serangan udara berikutnya meluncur. Terjadi ledakan hebat. Orang-orang berlarian untuk berlindung. Seorang pria tertatih-tatih berjalan mencari tempat aman.
Di video lain, sejumlah tenaga medis dan unit darurat yang tengah berjibaku menolong korban, disaksikan sejumlah jurnalis, dihantam serangan udara. Asap dan puing berterbangan. ICU hancur, ruang-ruang operasi yang tengah menangani korban, tak luput dari hantaman bom.
Setidaknya, tercatat 20 orang tewas. Di antaranya tenaga medis, kru tanggap darurat, dan lima jurnalis. Kelimanya yakni jurnalis Al Jazeera, Associated Press, Reuters, Middle East Eye, dan satu jurnalis yang menjadi kontributor untuk media lain.
Baca juga : Anggaran Infrastruktur Mengecil
Berdasarkan pernyataan dari Kementerian Kesehatan Hamas di Gaza, ada 58 jenazah korban serangan Israel yang tiba di RS Gaza sehari terakhir. Masih ada pula jenazah yang tak dapat dijangkau karena tertimbun reruntuhan bangunan.
Kematian lima jurnalis itu, menambah daftar panjang awak media yang tewas di Gaza sejak perang dimulai Oktober 2023. Dua pekan sebelumnya, enam jurnalis tewas dalam serangan Israel di RS al-Shifa di Kota Gaza. Total, tercatat sampai 200 jurnalis tewas.
Sejak melancarkan agresi Oktober 2023, Israel menggempur fasilitas publik dan rumah sipil. Lebih dari 62.000 warga di Palestina tewas dan jutaan orang terpaksa mengungsi.
Perdana Militer Israel Benjamin Netanyahu berkilah, insiden ini sebagai kecelakaan tragis. Dia menyebut, otoritas militer Israel sedang melakukan penyelidikan menyeluruh.
"Kami menyesali setiap kerugian terhadap individu yang tidak terlibat dan tidak menargetkan jurnalis. Melaporkan dari zona perang aktif membawa risiko yang sangat besar," tulis Juru Bicara Militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin.
Baca juga : Sehari Setelah Aksi 25-8-2025, Anggota DPR Copot Pelat Nomor Mobil Khusus
Presiden AS Donald Trump, yang selama ini menjadi sekutu Netanyahu, geram mendengar kejadian ini. “Saya tidak senang dengan hal ini. Saya tidak ingin melihatnya,” ucap Trump, saat tanya wartawan, di Oval Office, Gedung Putih, Selasa (26/8/2025).
Dia pun mendorong agar perang Israel-Palestina segera dihentikan. “Pada saat yang sama, kita harus mengakhiri semua mimpi buruk dan mengerikan ini," ucapnya.
Ulah Israel itu juga dikutuk negara-negara lain. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, mengecam penargetan pasukan agresor Israel terhadap tenaga medis, pekerja bantuan kemanusiaan, dan awak media di Kompleks Medis Al-Nasser di Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan.
"Kami menyerukan komunitas internasional mengakhiri kejahatan-kejahatan Israel ini dan memastikan perlindungan bagi para pekerja medis, pekerja bantuan kemanusiaan, dan pekerja medis," tulis Kemenlu Saudi, seperti dilansir Al Arabiya, Selasa (26/8/2025).
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun terkejut dengan serangan brutal agresor Zionis teranyar. Dia menyampaikan bela sungkawa kepada para korban dan simpati.
Baca juga : Amran Lapor Prabowo, Harga Beras Turun, Betul?
"Kami mengutuk keras. Kembali tenaga medis dan jurnalis kehilangan nyawa," kata Guo, saat konferensi pers, seperti dikutip AFP, Selasa (26/8/2025).
Israel, lanjut Guo, harus segera menghentikan operasi militer di Gaza, gencatan senjata yang berkelanjutan sesegera mungkin, dan membuka seluruh akses bantuan kemanusiaan.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga geram. Kata dia, ini pembunuhan mengerikan terhadap tenaga medis dan jurnalis saat menjalankan tugas penting di tengah konflik brutal ini. PBB menegaskan, warga sipil, termasuk tenaga medis dan jurnalis, harus dihormati serta dilindungi.
"Kami akan melakukan penyelidikan yang cepat dan tidak memihak serta mengimbau gencatan senjata yang segera dan permanen," tegas Guterres, melalui Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, Selasa (26/8/2025).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.