RM.id Rakyat Merdeka - Afghanistan timur diguncang gempa berkekuatan Magnitudo 6,0 pada Minggu (31/8/2025) malam. Bencana ini memperparah situasi kemanusiaan di negara tersebut, yang sebelumnya sudah terpuruk akibat krisis pangan, kekeringan dan tingginya tingkat kemiskinan.
Sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021, banyak organisasi internasional menghentikan operasinya. Sanksi politik dan keterbatasan bantuan dari luar negeri semakin memperburuk keadaan. Taliban telah meminta uluran tangan internasional untuk menanggulangi gempa ini. Namun, hanya sedikit negara yang merespons.
“Banyak orang kehilangan nyawa dan rumah mereka. Kami sangat membutuhkan bantuan,” kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan Afghanistan Sharafat Zaman, kepada Reuters.
Inggris mengumumkan bantuan dana darurat baru sebesar 1 juta poundsterling (sekitar Rp 22,2 miliar) yang akan disalurkan melalui UN Population Fund dan Palang Merah Internasional.
Baca juga : Longsor Tambang Gunung Kuda Tewaskan 10 Orang, Evakuasi Dihentikan Sementara
“Inggris berterima kasih kepada para pekerja di lapangan yang membantu orang-orang paling rentan,” ujar Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy, Selasa (2/9/2025).
China juga siap memberikan bantuan sesuai kebutuhan dan kapasitasnya. Sementara, India mengirim 1.000 tenda ke Kabul serta 15 metrik ton bantuan makanan ke Kunar.
Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar menegaskan, bantuan tambahan akan menyusul.
Amerika Serikat (AS) melalui Biro Urusan Asia Selatan dan Tengah menyampaikan belasungkawa, tetapi belum ada pengumuman resmi mengenai bantuan langsung.
Baca juga : Wagub Rano Minta Organisasi Perangkat Daerah Lebih Gesit Tangani Banjir Jakarta
Juru bicara Pemerintah Taliban, Zabihullah Mujahid mengatakan 1.411 orang tewas akibat gempa, dan 3.124 orang terluka. Wilayah paling terdampak adalah Provinsi Kunar, daerah pegunungan terpencil dekat pusat gempa.
Gempa dangkal yang terjadi di kedalaman 8 kilometer (km) itu menimbulkan dampak besar. Guncangan terasa hingga Kabul dan Pakistan. Rumah-rumah dari tanah liat dan batu rata dengan tanah, beberapa desa rata luluh lantak hingga 95 persen.
“Seluruh desa rata dengan tanah. Prioritas kami saat ini adalah menjangkau mereka yang terluka,” kata pejabat Taliban di Kunar kepada BBC.
Sementara, proses evakuasi terhambat hujan lebat, tanah longsor dan jalan rusak. Tim penyelamat hanya bisa menjangkau beberapa daerah dengan helikopter.
Baca juga : Yuk Ah, Kita Bantu Korban Banjir Dan Longsor Sukabumi
Rumah sakit di Jalalabad kewalahan. Pasien berjumlah 460 orang, masih banyak yang menunggu perawatan. Juru Bicara Palang Merah Regional Afghanistan Joy Singhal mengatakan, banyak penyintas terpaksa tidur di luar rumah tanpa perlindungan.
Faridullah Fazli, warga Asadabad, mengaku masih takut masuk rumah karena khawatir gempa susulan. “Gempa sangat kuat, disertai suara menakutkan. Kami baru bisa tidur menjelang pagi. Getaran kecil masih terasa sampai sekarang,” ujarnya.
Afghanistan memang berada di jalur patahan aktif, jalur gempa Eurasia, rawan gempa dangkal. Dalam dua tahun terakhir, lebih dari 3.000 orang meninggal akibat gempa besar, termasuk di Herat dan Paktika.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.