BREAKING NEWS
 

Lewat 1.000 Abrahamic Circle, Pemuka Agama Desak Stop Kekerasan Di Gaza

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Rabu, 10 September 2025 04:06 WIB
Pendiri Foreign Policy Community of Indonesiab Dino Patti Djalal, dalam jumpa pers bertajuk Abrahamic Plea to Israel yang diselenggarakan secara virtual, Selasa (9/9/2025). (Foto FPCI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Desakan untuk berakhirnya konflik Israel-Hamas di Jalur Gaza, Palestina, tidak sebatas dari level kepala Pemerintah. Para pemimpin agama Samawi, lewat 1.000 Abrahamic Circles Project juga menuntut diakhirinya krisis kemanusiaan di Timur Tengah.

1.000 Abrahamic Circles Project merupakan sebuah inisiatif pedamaian lintas agama yang dijalankan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI). Proyek ini bertujuan untuk menumbuhkan empati, saling pengertian dan solidaritas di antara para pemimpin agama Samawi: Yahudi, Kristen dan Islam.

Di kondisi penuh gejolak di Palestina, tiga alumni Abrahamic Circle Member Pendeta di Khandallah Presbyterian Church, Wellington, Selandia Baru, Ryhan Prasad; Rabi Associate di Temple Emanuel, Denver, Colorado, Amerika Serikat (AS) Rabbi Eliot Baskin; dan Imam di Elsedeaq Islamic Society, Melbourne, Australia, Imam Alaa Elzokm, mengajak seluruh umat agama Samawi bersatu untuk perdamaian di Timur Tengah.

Pendiri FPCI Dino Patti Djalal mengatakan, dalam 100 tahun terakhir, ada saja konflik yang menyangkut dua atau tiga agama Samawi.

“Inisiatif ini diharapkan bisa mendorong dan menciptakan perdamaian di dunia,” ujar Dino saat membuka konferensi pers berjudul Abrahamic Plea to Israel secara virtual, Selasa siang (9/9/2025).

Tragedi kemanusiaan di Gaza, menurutnya, terus mengguncang hati nurani dunia, mendorong lahirnya berbagai seruan dan pernyataan dari berbagai belahan dunia. Para pemuka agama, lewat 1.000 Abrahamic Circle membuat surat terbuka yang menunjukkan keprihatinan mereka terhadap situasi di Gaza. Surat terbuka ini juga diposting di change.org dengan tautan:

https://change.org/p/abrahamic-pleato-israel?source_location=psf_ petitions.

Baca juga : Polri Dukung KKP Capai Target Penerimaan Negara Dari Sektor Perikanan Tangkap

“Kita harap, surat permohonan ini bisa tersebar luas dan mendapatkan banyak tanda tangan dari pemimpin agama Samawi dari seluruh dunia dan masyarakat luas,” harap Dino.

Gerakan non Pemerintah seperti tuntutan para anak muda dan pemuka agama secara luas, diharapkan bisa menggerakkan hati para pemimpin dunia untuk benar-benar mengakhiri krisis di Palestina.

“Konflik ini bukan pertikaian antar-dua agama. Ini adalah konflik politis. Kita harus hentikan pertikaian ini,” ujar Pendeta Prasad.

Dia mengatakan, gerakan pemuda sekarang bisa berdampak positif untuk mengubah jalan konflik. “Di dunia modern ini, anak muda sekarang dapat bertemu dan bertukar informasi dengan pemuda lain dengan latar belakang berbeda,” ujarnya.

Dia berharap, para pemuda bisa membangun fondasi perdamaian yang kokoh. Imam Elzokm menambahkan, konflik politis ini membuat angka Islamophobia dan antisemitisme meningkat di seluruh dunia.

Adsense

“Perang Israel tidak pernah tentang Yahudi melawan Islam. Ini hanya karena ketamakan pemimpin. Konflik ini bisa segera diakhiri,” ujar Imam Elzokm.

Rabi Baskin menambahkan, dia miris melihat pasukan Israel terus membom Gaza. “Mereka membiarkan orang-orang kelaparan dan dibunuh tanpa pandang bulu,” ujarnya.

Baca juga : Peringati Harkitnas 2025, Pramono Dorong Perbaikan Layanan Kesehatan Di Jakarta

Dia menyayangkan Pemerintah Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu yang terlihat lupa dengan tujuan utamanya, yaitu membebaskan warga Israel yang disandera Hamas.

“Padahal, dalam ajaran Yahudi, kami diwajibkan mencintai tetangga dan sesama manusia, tanpa membedakan,” ujar Rabi Baskin.

Dia berharap, semua pihak bisa segera mewujudkan kebijakan two state solution agar semua orang dapat hidup damai. Dia ingin Israel dapat tinggal dengan damai berdampingan dengan negara Palestina.

“Semua orang harus mendapat hak sebagai warga sipil. Palestina mendapat kedaulatannya,” tegasnya.

Dia menyayangkan, banyak negara yang mengaku sebagai negara yang menjunjung kemanusiaan dan negara demokrasi. Namun, tidak mendukung perdamaian untuk Israel dan Palestina.

“Saya ini pro Israel, pro Palestina, pro perdamaian, dan pro demokrasi. Semua bisa berjalan bersamaan,” tandasnya.

Lingkaran Setan

Sementara, Dino Patti Djalal menyinggung makin besarnya gerakan antisemitisme dan islamophobia di dunia bukan semata-mata dimulai dari konflik yang terjadi di Palestina. Dia menyebut, kebencian ini adalah kebencian turunan.

Baca juga : Ketua Fraksi PKB MPR: Semua Agama Mengajarkan Kebaikan Dan Kedamaia

“Biasanya, mereka yang benci salah satu agama, mereka mendapat paham itu dari orang tua,” ungkap mantan Duta Besar Indonesia untuk AS itu.

Tidak hanya itu, kebencian terhadap agama tertentu juga terbentuk dari ajaran di sekolah dan lingkungan seseorang tinggal. “Lingkaran kebencian ini harus diputuskan segera,” ujarnya.

Dia mengaku, dulu sempat menjadi seorang yang membenci satu agama. “Tapi, setelah dewasa, saya belajar dan bertemu banyak orang dari latar belakang berbeda, mata saya terbuka. Kebencian itu tidak beralasan,” tuturnya.

Dia berharap, anak muda sekarang bisa memutus lingkaran setan akan kebencian akan satu atau beberapa agama.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense