RM.id Rakyat Merdeka - Pasca Hamas dan Israel mencapai kesepakatan perdamaian tahap pertama, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memposting ulang berbagai berita yang memberi judul mengenai kepantasannya mendapat hadiah Nobel perdamaian. Aksi ini menunjukkan kesan sang Taipan ngebet meraih Nobel tersebut.
Sejak dilantik sebagai Presiden AS pada 20 Januari lalu, Trump terus melempar kode keras kalau dia pantas mendapat hadiah Nobel Perdamaian. Puncaknya, saat Hamas dan Israel akhirnya mencapai kesepakatan perdamaian tahap 1 pada Rabu (8/10/2025) malam.
Usai mengumumkan pencapaian ini di akun media sosialnya, Truth Social, Trump memposting ulang berbagai berita yang memberi judul seputar kepantasannya mendapat hadiah Nobel.
Kantor berita Newsmax menulis berita berjudul Politisi Yahudi GOP: ‘Trump Seharusnya Tidak Hanya Menang Nobel, Nobel Itu Harus Dinamai Trump Nobel,” Kamis (9/10/2025).
Trump memposting ulang dan mengomentari singkat “Terima Kasih!”
Dia juga memposting ulang tulisan editorial Washington Post berjudul Ya! Trump Berhak Mendapatkan Nobel.
Tidak hanya itu, pada Rabu malam waktu setempat (8/10/2025), Instagram Gedung Putih @whitehouse memposting foto Trump dengan judul The Peace President atau Presiden Perdamaian.
Foto itu menunjukkan Trump mengenakan setelan jas biru tua dan membawa map di koridor Gedung Putih, Washington DC, AS. Postingan itu sudah disukai hampir 48 ribu kali dan mengundang 5.300 komentar.
Netizen dari AS dan negara lain langsung menyerbu kolom komentar. Beberapa memberi tanda emoticon hati dan tepuk tangan, sementara yang lain mengibarkan bendera AS dan Israel.
Baca juga : Kali Ini, Trump Disanjung Dunia
Beberapa netizen juga mengkritik postingan tersebut dengan menyebut lelucon. Ada pula yang mengkritik Trump dengan mempertanyakan perdamaian yang dimaksud dan mengaitkannya dengan mobilisasi militer, pasukan garda nasional, di sejumlah wilayah di AS.
“Dia presiden perdamaian, selain di negaranya sendiri,” sindir akun mrcleansupnice.
“Coba tebak, siapa yang mengubah Departemen Pertahanan menjadi Departemen Perang,” sahut pemilik akun vikingscot007.
“Damai? Dia yang menerjunkan tentara di negaranya sendiri,” tulis valerianoanibarro.
Mengutip Al-Jazeera, pengumuman damai Israel dan Hamas memang membuat banyak pujian untuk Trump di media sosial dalam satu jam terakhir. Banyak orang menunjukkan betapa macetnya negosiasi tersebut, namun Trump berha¬sil mewujudkannya, meski baru kesepakatan tahap pertama.
Seorang juru bicara agen taruhan Inggris mengatakan kepada Newsweek, Kamis (9/10/2025), peluang Trump memenangkan Nobel Perdamaian 2025 meningkat setelah pengumuman damai fase pertama.
Sayangnya, panitia penyelenggara Nobel sudah menutup pengajuan pemenang Nobel 2025 pada 31 Januari lalu.
Pengumuman pemenang pun diumumkan pada Jumat (10/10/2025) pukul 5 pagi waktu Norwegia. Penyerahan medali Nobel akan diberikan kepada pemenang pada 10 Desember 2025 di Oslo, Norwegia.
Juru bicara Institut Nobel Norwegia mengonfirmasi kepada kantor berita Agence France Presse bahwa pertemuan terakhir komite berlangsung pada Senin (7/10/2025).
Baca juga : Erdogan Hingga Modi Sambut Baik Kesepakatan Awal Damai Israel-Hamas
Pertemuan tersebut merupakan puncak dari proses penyaringan 338 nominasi tahun ini. Sekretaris komite Nobel Kristian Berg Harpviken mengonfirmasi kepada Reuters pada September lalu bahwa proses perdamaian tertentu atau kesepakatan perjanjian internasional yang sedang dikembangkan atau yang baru diadopsi, bisa saja menjadi poin untuk pertimbangan memilih pemenang Nobel.
Profesor politik internasional di University College Dublin Scott Lucas mengatakan, rencana gencatan senjata yang diusulkan AS disambut baik dunia.
“Tetapi, banyak rincian yang masih perlu disempurnakan, termasuk pelucutan senjata, pemulihan bantuan dan pengaturan keamanan,” terangnya kepada CBS, Jumat (10/10/2025).
Sejauh ini, sudah ada empat presiden AS yang mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian. Mereka adalah Theodore Roosevelt (1906), Woodrow Wilson (1920), Jimmy Carter (2002), dan Barack Obama (2009).
Sebelumnya, Trump mengklaim telah berperan sebagai juru damai dalam tujuh konflik. Ketujuh konflik yang dimaksud Trump antara lain: mendamaikan Mesir dan Ethiopia, Mesir dan Sudan, Armenia-Azerbaijan, Rwanda dan Kongo, Iran dan Israel, India dan Pakistan, serta Thailand dan kamboja.
Merasa punya banyak andil dalam memastikan perdamaian dunia, Trump tak pernah ragu untuk mengkritik panitia Nobel Perdamaian yang tak kunjung menyebut namanya.
Dalam sindiran terbarunya, dia mengatakan mungkin Komite Nobel akan menemukan cara untuk tidak memberinya hadiah tersebut.
“Entahlah, Marco (Menlu AS Marco Rubio) akan memberi tahu Anda bahwa kami telah menyelesaikan tujuh perang. Kami nyaris menyelesaikan yang kedelapan,” katanya.
Dia juga yakin konflik Rusia dan Ukraina bisa diselesaikan dengan cepat berkat kebijakannya.
Baca juga : Investasi Korsel Di AS Terombang-Ambing
“Mungkin mereka akan menemukan alasan untuk tidak memberikan Nobel kepada saya,” sindir Trump pada Agustus lalu.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.