BREAKING NEWS
 

Mengikuti Southeast Asia Maritime Media Visits Project (3)

Tur Ke Gedung Parlemen, Egaliter Dan Tanpa Pagar

Reporter : FIRSTY HESTYARINI
Editor : KARTIKA SARI
Jumat, 7 November 2025 07:20 WIB
Jurnalis peserta Southeast Asia Maritime Media Visits Project bersama Direktur Eksekutif AP4D Melissa Conley Tyler (tengah, belakang) dan Research Fellow La Trobe University Lupita Wijaya (ketiga kanan, depan) foto bareng di depan Gedung Parlemen Australia, Canberra. (Foto: SEA MMVP)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jurnalis Rakyat Merdeka/RM.id, Firsty Hestyarini membagikan cerita kunjungannya ke Canberra, Australia, dalam Southeast Asia Maritime Media Visits Project (SEA MMVP) yang diselenggarakan Departemen Luar Negeri & Perdagangan Australia (DFAT) dan La Trobe University. Program yang digelar pada 26-31 Oktober 2025 ini, semakin membuka mata para peserta bahwa laut yang komposisinya mencakup 70 persen dari luasan bumi, tak hanya menjadi pusaran geopolitik. Tetapi juga tempat manusia menggantungkan kehidupannya. Berikut laporannya.

Megah tapi egaliter. Itulah kesan yang terekam di benak Rakyat Merdeka saat mengunjungi Gedung Parlemen Australia di Canberra, dalam Program Southeast Asia Maritime Media Visits Project, Kamis, 30 Oktober lalu. 

Dengan arsitektur yang monumental, Gedung Parlemen Australia yang berdiri di atas Capital Hill Canberra itu, memang terlihat megah. Di bagian atapnya, terdapat tiang bendera raksasa setinggi 81 meter. Di bagian interiornya, marmer dan kayu khas Australia seperti eucalyptus dan black wood berpadu menciptakan kesan formal, namun tetap hangat. 

Gedung dengan karya arsitektur sekeren itu sama sekali tidak dibatasi oleh pagar tinggi. Siapa pun bisa masuk ke Gedung Parlemen Australia, tentunya dengan pemeriksaan ketat. Bagian atapnya yang berbentuk bukit rumput, juga dapat diakses publik. Bermakna kekuasaan rakyat ada di atas pemerintah. Sangat berbeda dengan Gedung MPR/DPR di Jakarta yang dipasang pagar tinggi, terkadang ditambah kawat berduri dan sering digembok pula saat ada aksi demonstrasi.

 

Halaman depan utama Gedung Parlemen Australia, Canberra berbentuk ruang terbuka yang luas. Tak ada pagar yang mengelilingi. Searah garis lurus, tampak Australian War Memorial Museum dan Gunung Ainslie. (Foto: Firsty Hestyarini/Rakyat Merdeka/RM.id)

 

Baca juga : Freddy Alex Damanik: Kami Yakin Projo Tak Akan Tenggelam

Halaman depan utama (forecourt) Gedung Parlemen Australia yang dirancang arsitek Italia berkebangsaan Amerika Serikat (AS) Romaldo Giurgola, tampak indah dan sarat makna. Lantai forecourt yang terbuat dari batu granit dan marmer warna-warni, membentuk pola mosaik besar. Pola ini dirancang oleh seniman Aborigin terkenal, Michael Nelson Jagamara, dengan tema Possum and Wallaby Dreaming

Desain ini menggambarkan cerita impian (dreamtime) suku Warlpiri. Melambangkan rekonsiliasi dan pengakuan terhadap warisan budaya Aborigin, suku asli Negeri Kanguru di jantung demokrasi Australia. 

Sejumlah pengunjung tampak menikmati area terbuka ini. Ada yang leha-leha, foto-foto, ataupun sekadar duduk menikmati pemandangan sekitar. Searah garis lurus kurang lebih berjarak 1 km, terdapat Australian War Memorial Museum. 
 

Spanduk demo membentang di depan Gedung Parlemen Australia, Canberra. (Foto: Firsty Hestyarini/Rakyat Merdeka/RM.id)


Saat Rakyat Merdeka mengunjungi jantung demokrasi Australia yang juga tempat Perdana Menteri (PM) Anthony Albanese, para anggota kabinet dan parlemen berkantor, tampak sekelompok orang menggelar aksi demo. Mereka meminta Pemerintah Australia melindungi kelompok Falun Gong. Beberapa spanduk bertema Falun Gong terbentang. Namun, massa demo itu sama sekali tidak berbuat onar alias tertib. 

Adsense

Rakyat Merdeka bersama 11 jurnalis Asia Tenggara peserta Southeast Asia Maritime Media Visits Project, kemudian masuk ke Gedung Parlemen Australia, setelah melalui pemeriksaan keamanan. Dipandu Dominic Giannini, jurnalis Australian Associated Press (AAP) sekaligus Anggota Komite Press Gallery, kami menuju Press Gallery atau ruang kerja jurnalis yang ngepos di Parlemen Australia. Setelah naik lift, kami pun memasuki koridor Press Gallery di Lantai 2. Banyak kru TV wara-wiri membawa peralatan studio dengan troli. 

“Wartawan biasanya melakukan wawancara doorstop di sepanjang Press Gallery. Bisa juga di dalam studio. Tergantung kebutuhan,” kata Giannini. 

Baca juga : Norman Hadinegoro: Tak Ada Magnet Lagi, Projo Bakal Tenggelam

Giannini lalu mengajak kami mengunjungi ruang kerja media di Press Gallery. Jangan bayangkan, ruang kerja itu seperti ruangan kolosal. Masing-masing media punya ruangannya sendiri. Lengkap dengan cubicle, ruang editing, mesin fotokopi, dan perlengkapan kerja layaknya kantor media. Selain itu, juga ada ruang podcast dan ruang make up yang terpisah.
 

Ruang kerja ABC di Press Gallery Gedung Parlemen Australia, Canberra. (Foto: Firsty Hestyarini/Rakyat Merdeka/RM.id)

 

Di Press Gallery, kami mengunjungi kantor Australian Broadcasting Corporation (ABC), Paramount, SBS News, Channel 7, dan Nine Network. Kami bahkan menyempatkan diri untuk foto bersama di Studio 9 News. 

Setelahnya, kami berbincang dengan Jurnalis ABC Stephen Dziedzic. Dziedzic menjelaskan, ABC adalah organisasi media yang didanai pemerintah. Namun, independensinya tetap terjaga. “Kami tidak perlu memusingkan uang. Kami tinggal minta ke pemerintah,” ujarnya. 

Dziedzic memaparkan, di era disrupsi media seperti sekarang ini, pekerjaannya menjadi semakin kompleks. Dulu, sekitar 15 tahun lalu, jurnalis TV ABC hanya berkontribusi untuk produk TV. Begitu juga jurnalis radio. Cuma fokus memikirkan berita untuk pelaporan radio. Mereka tidak saling berhubungan. 

“Tapi sekarang ini, begitu saya mendapatkan sebuah berita, saya harus melaporkan di berbagai platform,” ungkapnya. 

Baca juga : Pemerintah Diminta Hati-hati

Dari Press Gallery, kami menuju Public Gallery yang juga terletak di Lantai 2, untuk menonton Sidang Parlemen. Parlemen Australia memang memperbolehkan publik menyaksikan Sidang Parlemen secara langsung, sebagai bagian dari prinsip keterbukaan pemerintah. Tapi, pengunjung dilarang ambil foto. 
 

Kelompok study tour anak sekolah asyik mengamati maket Gedung Parlemen Australia. (Foto: Firsty Hestyarini/Rakyat Merdeka/RM.id)


Kami kemudian turun ke Lantai Dasar dengan lift. Menuju area ekshibisi publik, yang memajang foto para Perdana Menteri serta pemimpin parlemen. Lalu, kami singgah di ruang maket besar. Di ruang itu, tampak kelompok study tour anak sekolah mengagumi keindahan maket Gedung Parlemen Australia. Tak jauh dari situ, ada Parliament Shop yang antara lain menjual mug dan kartu pos bergambar wajah para Perdana Menteri Australia. Serta benda-benda khas parlemen lainnya. 

Hal lain yang membuktikan Gedung Parlemen Australia ramah pengunjung adalah fasilitas khusus untuk ibu dan anak, peminjaman kursi roda dan stroller bayi, fasilitas untuk kaum difabel, audio loops untuk memudahkan pengunjung memantau jalannya sidang. 

Bagi Anda yang belum sempat mengunjungi gedung ini, berbagai informasi terkait pusat demokrasi Negeri Koala ini dapat diakses melalui situs resmi Parlemen Australia https://www.aph.gov.au/. (Bersambung)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense