BREAKING NEWS
 

Temui Xi Jinping Di Beijing, Macron Mau Tekan Rusia Melalui China

Reporter : LARASATI DYAH UTAMI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Sabtu, 6 Desember 2025 07:00 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron (kedua kiri), Presiden China Xi Jinping (kedua kanan), Ibu Negara Prancis Brigitte Macron (paling kiri) dan Ibu Negara China Peng Liyuan di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (4/12/2025). (Foto X Jubir Kementerian Luar Negeri China Mao Ning)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Prancis Emmanuel Macron tiba di Beijing, China, untuk melakukan kunjungan kenegaraan pada 4–6 Desember 2025. Lawatan ini bakal menjadi jalan lobi bagi Macron untuk menekan Rusia agar melakukan gencatan senjata kepada Ukraina.

Macron dan sang istri, Brigitte Macron, disambut Menteri Luar Negeri China Wang Yi setibanya di Bandara Internasional Beijing Daxing, Rabu (3/12/2025) malam. Kunjungan ini merupakan yang keempat kalinya bagi Macron ke Negeri Tirai Bambu, sekaligus balasan atas kedatangan Presiden Xi Jinping ke Prancis tahun 2024.

Dalam pertemuan yang digelar di Great Hall of the People, Beijing, Kamis (4/12/2025), Macron disambut upacara kehormatan di dalam ruangan karena cuaca dingin. Macron dan Xi diagendakan membahas kerja sama bilateral, perdagangan, investasi, serta isu geopolitik global, terutama perang Rusia dan Ukraina.

Macron menegaskan, Prancis dan China memiliki tanggung jawab mencegah disintegrasi tatanan internasional. Dia meminta China ikut mendorong gencatan senjata, setidaknya berupa moratorium serangan ke infrastruktur vital Ukraina.

“Saya berharap China bergabung dalam seruan kami untuk segera mencapai gencatan senjata. Setidaknya gencatan senjata dalam bentuk moratorium serangan yang menargetkan infrastruktur penting,” ujar Macron.

Baca juga : Beijing Berharap AS Bisa Lunakkan Jepang

Selain isu Ukraina, Macron menyoroti ketidakseimbangan perdagangan antara Uni Eropa dan China. Defisit perdagangan kedua pihak mencapai lebih dari 300 miliar euro pada 2024.

China menyumbang hampir setengah dari defisit dagang Prancis. Menurut Macron, diperlukan rebalancing untuk menciptakan akses pasar yang lebih adil.

Perselisihan dagang antara China dan Eropa sebelumnya sempat memanas. Mulai dari industri mobil listrik hingga penyelidikan China terhadap impor daging babi Eropa.

Xi juga ingin hubungan antara kedua negara dibangun di atas stabilitas. China bersedia bekerja sama dengan Prancis, tanpa campur tangan pihak luar. Tujuannya, agar kemitraan strategis komprehensif antara China dan Prancis lebih stabil.

Adsense

Terkait gencatan senjata Rusia dan Ukraina, Xi menyatakan dukungan upaya perdamaian secara umum.

Baca juga : Tembus Pegunungan, Prabowo Pastikan Semua Sekolah Dapat IFP

“China mendukung semua upaya perdamaian dan menyerukan kesepakatan damai yang akan diterima semua pihak,” ungkap Xi, dikutip AP News.

Di saat Macron berada di China, Presiden Rusia Vladimir Putin mengisyaratkan bahwa proposal perdamaian dari Amerika Serikat (AS) belum dapat diterima sepenuhnya. Putin tak merinci poin yang ditolak. Namun tetap mengapresiasi upaya diplomasi yang digagas Presiden AS Donald Trump.

Putin mengatakan, proposal perdamaian awal AS berisi 28 poin, lalu dipangkas menjadi 27 poin dan dibagi menjadi empat paket. Pejabat Rusia lainnya juga bungkam perihal poin yang tidak bisa diterima Kremlin.

“Untuk mengatakan apa yang tidak sesuai dengan kami atau di mana kami mungkin bisa setuju tampaknya prematur. Karena itu bisa mengganggu cara kerja yang sedang coba dibangun Presiden Trump,” kata Putin.

Selain bertemu Xi, Macron juga mengadakan pertemuan dengan Ketua Kongres Rakyat Nasional Zhao Leji serta Perdana Menteri Li Qiang.

Baca juga : Sempat Bersaing Di Pilgub DKI, Pramono Ngaku Tetap Akrab Dengan Dharma Pongrekun

Agenda kunjungan berlanjut ke Chengdu, Sichuan. Di sana Macron dan Xi mengunjungi Dujiangyan—salah satu sistem irigasi tertua di dunia serta bertemu mahasiswa Universitas Sichuan.

Chengdu juga menjadi lokasi Pusat Konservasi Panda Raksasa, tempat asal sepasang panda Yuan Zi dan Huan Huan yang tinggal 13 tahun di Prancis, sebelum dikembalikan pada November 2025.

 

Artikel ini telah dimuat di Harian Rakyat Merdeka edisi 6 Desember 2025.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense