Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Xi Jinping Dan Takaichi Telepon Trump
Beijing Berharap AS Bisa Lunakkan Jepang
Rabu, 26 November 2025 05:42 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi mulai mencari bekingan. Xi dan Takaichi dikabarkan menghubungi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, awal pekan ini.
XI dan Takaichi yang menghubungi Trump dinilai para analis sebagai upaya mencari dukungan Gedung Putih di tengah ketegangan hubungan China–Jepang, terutama terkait isu Taiwan.
Dikutip dari Reuters, Selasa (25/11/2025), Xi menghubungi Trump pada Senin malam waktu Beijing (24/11/2025). Sementara, Takaichi menelepon Presiden ke-47 AS itu pada Selasa pagi waktu Tokyo (25/11/2025).
Meski Xi dan Takaichi tidak menyinggung perselisihan mereka berdua kepada Trump, sejumlah analis melihat dengan kacamata berbeda.
Menurut mantan diplomat AS yang pernah ngepos di Beijing dan Taiwan, David Meale, perbincangan teranyar Xi dan Trump adalah upaya China untuk meminta bantuan Paman Sam.
“Xi ingin menjalin hubungan baik denga Trump dan menerima bantuan apapun dari AS agar pertikaian China-Jepang bisa sedikit reda,” ujar Meale kepada Reuters, Selasa (25/11/2025).
Menurutnya, Xi yang menghubungi Trump lebih dulu. Langkah itu sebagai keinginan Beijing agar AS tidak terlalu condong ke Tokyo.
“Saya menerima telepon dari Presiden Xi. Kami bahas banyak isu. Mulai dari Ukraina, fentanyl, kedelai, dan hasil pertanian lainnya,” tulis Trump di akun Truth Social, Senin (24/11/2025).
Dia menggambarkan hubungannya dengan Xi sangat akrab. Xi mengundang Trump untuk berkunjung ke Negeri Tirai Bambu pada April tahun depan.
Baca juga : Habis Ditelepon Trump, PM Takaichi: AS Berkawan Baik Dengan Jepang
“Saya juga mengundangnya untuk datang ke negeri hebat ini tahun depan,” sambung Trump.
Terpisah, Gedung Putih tidak menjawab pertanyaan wartawan mengenai apakah keduanya membahas pertikaian China dengan Jepang dalam diskusi selama hampir satu jam itu.
Mengutip keterangan resmi Kantor Kepresidenan China, Selasa (25/11/2025), Xi sempat menggarisbawahi soal Taiwan.
Dia menegaskan, Taiwan merupakan bagian integral dari tatanan internasional pasca Perang Dunia II.
“Penting bagi kita bersama-sama menjaga ketertiban dunia pasca Perang Dunia II. Kami bagian besar dari kemenangan Perang Dunia II. AS memahami betapa pentingnya masalah Taiwan bagi kami,” bunyi keterangan Kantor Kepresidenan China.
Direktur China Power Project dan Penasihat senior di Center for Strategic and International Studies Bonny Lin mengatakan, pernyataan China tidak menyebutkan Jepang, tetapi rujukan pada Perang Dunia II, fasisme, dan militerisme yang jelas merujuk pada Negeri Sakura.
“Saya rasa sambungan telepon ini untuk mengingatkan AS berhati-hati mendukung Jepang,” sambung Lin.
Beijing seringkali menginginkan Washington menjadi penengah dalam konfliknya dengan Tokyo.
Direktur pelaksana Asia Society Policy Institute (ASPI) Rorry Daniels mengatakan, Beijing berharap Trump dan timnya dapat melunakkan Jepang dan membuat Tokyo mengubah pernyataan mereka soal Taiwan.
Baca juga : Perintahkan Anak Buah Uji Coba Nuklir, Trump Bikin Lawan Meradang
“Trump tidak menyinggung Taiwan usai dialognya dengan Xi dan Takaichi. Dia jelas tidak mau mengusik keduanya,” ungkap Daniels.
Takaichi juga berbincang dengan Trump via telepon. Usai perbincangan tersebut, PM perempuan pertama Jepang itu langsung melakukan konferensi pers di Tokyo, Jepang, Selasa (25/11/2025).
“Presiden Trump memberikan penjelasan singkat tentang perkembangan hubungan AS-China. Dia mengatakan, saya adalah sahabat baiknya,” pamer Takaichi, seraya menambahkan Trump akan membantunya dalam isu apapun.
“Dia meminta saya untuk menghubunginya kapan saja,” ucap Takaichi. Baru-baru ini, Jepang berencana mengerahkan rudal di Pulau Yonaguni dekat Taiwan saat hubungan dengan China kian memanas.
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan, Tokyo akan melanjutkan rencana mengerahkan rudal di selatan Yonaguni, sekitar 110 kilometer dari Taiwan.
“Penempatan pasukan ini bisa membantu mengurangi risiko serangan bersenjata terhadap negara kami,” jelas Koizumi kepada awak media usai berkunjung ke Yonagun dikutip dari Bloomberg, Senin (24/11/2025).
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menegaskan, langkah itu membawa Jepang dan kawasan menuju masalah geopolitik baru.
“Mengingat pernyataan keliru Perdana Menteri Jepang (Sanae) Takaichi tentang Taiwan, langkah ini juga sangat berbahaya. Negara-negara tetangga dan dunia harus waspada,” ingat Mao.
Dia lalu mengutip Proklamasi Potsdam yang menetapkan bahwa Jepang tak diizinkan mempersenjatai diri kembali untuk perang. Konstitusi Jepang, yang menjunjung tinggi pasifisme, juga menetapkan kebijakan negara tersebut yang sepenuhnya berorientasi pada pertahanan.
Baca juga : Ketemu Zelensky, Trump Jamin Keamanan Ukraina
China, lanjutnya, tidak akan pernah membiarkan provokator sayap kanan Jepang memutar balik sejarah dan tidak akan pernah membiarkan kekuatan eksternal menguasai wilayah Taiwan, serta tidak akan pernah membiarkan kebangkitan militerisme Jepang.
Artikel ini telah diterbitkan di Harian Rakyat Merdeka edisi Rabu, 26 November 2025.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya